Pengelolaan Mading Kampus ; Menumbuhkan Kembali Semangat Berekspresi

Dokumenter LPM Tanpa Titik


Majalah Dinding. Mungkin banyak yang mengenalnya dengan istilah Mading. Biasanya mading berada di suatu tempat yang menjadi sorotan umum, yang dapat dilihat dan dinikmati oleh banyak orang. Mading biasanya menggunakan media papan, styrofoam, kertas warna, atau bahkan menggunakan keramik yang dihias semenarik mungkin. Di dalamnya memuat banyak karya, misalnya artikel, puisi, cerpen, sampai berita.

Dalam narasi kali ini, saya akan bercerita mengenai mading kampus. Ya. Kampus Institut Agama Islam Bakti Negara Tegal. Terdapat lebih dari satu papan yang terpampang di beberapa tempat, salah satunya di lorong gedung FITK. Namun, sejauh mata memandang, papan tersebut hanya berisi beberapa lembar kertas bertuliskan tangan yang isinya mengandung sebuah puisi, atau curahan hati saja. Selebihnya hanya ada satu lembar kertas dengan gambar kaligrafi yang sudah kusam, dan penuh debu.

Melatarbelakangi hal tersebut dengan melihat fasilitas yang telah tersedia namun, belum digunakan sepantasnya maka saya dan beberapa teman di Lembaga Pers Mahasiswa Tanpa Titik bergerak atas dasar kesadaran bersama untuk merenovasi dan mengelola kembali agar dapat memanfaatkan fasilitas tersebut. Awalnya, kami berinisiatif untuk mengelola semua papan yang terpapang di lingkungan kampus, misalnya di mushola, gedung FSU, dan warung Pak Qori. Namun, kami memutuskan untuk mengambil satu titik terlebih dahulu, yakni di lorong gedung FITK.

Saya dan teman-teman bergegas untuk melaksanakan niat baik itu. Berawal dari menghubungi pihak kampus yang memegang kendali atas pengelolaan mading tersebut, akhirnya kami mendapatkan info bahwasannya mading tidak memiliki penanggungjawab, dan kami diperbolehkan untuk mengelolanya. Kemudian kami melanjutkan untuk merenovasi mading dengan menyajikan penampilan baru. Setelah melalui proses eksekusi mading, kami kembali lagi untuk memasang papan mading tersebut di tempat awal, tentunya dengan tampilan dan sajian yang baru. Kami sengaja mencantumkan logo LPM di papan mading sebagai identitas, serta mengangkat tema “Kebebasan Berekspresi”. Sebab kami menyadari berada di lingkungan perguruan tinggi bukanlah masa anak-anak lagi, dan ekspresi mengenai karya maupun pendapat adalah sebuah kebebasan. Tentunya, kebebasan yang masih menggunakan aturan. Walaupun belum sepenuhnya sempurna, tapi kami merasakan kepuasan atas apa yang sudah kami lakukan. Dengan harapan akan memberikan banyak kemanfaatan untuk mahasiswa maupun kampus. Pada awal pengelolaan mading tersebut, kami sempat membuat konsep untuk pengelolaannya. Hal itu juga telah dikoordinasikan kepada pembina LPM Tanpa Titik. Untuk gagasan pengelolaannya mungkin dapat diuraikan sebagai berikut :

  • Kami akan menjadi media untuk teman-teman Mahasiswa. Nantinya, ketika ada yang berkepentingan untuk menggunakan mading, maka kami sebagai medianya.
  •  Apabila teman-teman mahasiswa (UKM, HMPS, DEMA, SEMA) akan mengirimkan karya yang ingin dipasangkan di mading, karya tersebut terlebih dahulu masuk ke bagian redaksi LPM dan akan dilakukan proses seleksi. Mengapa harus ada proses seleksi? Sebab dalam penerbitan karya terdapat beberapa kriteria tertentu terkait bagaimana karya tersebut diterbitkan. Begitupun untuk kategori lain, misalnya berita, lembar informasi, atau lembar kampanye pemilihan. Walaupun tema mading yang kami sajikan adalah “Kebebasan Berekspresi” akan tetapi, kebebasan tersebut juga masih dalam batas-batas tertentu.

Berjalannya waktu, pengelolaan mading sudah berjalan. Dalam satu minggu diterbitkan beberapa karya, baik berita kampus sampai karya teman-teman LPM. Kami menyadari bahwa minat baca dan analisa mahasiswa IBN masih rendah, namun hal itu tidak menjadikan semangat kami luntur. Akan tetapi, di tengah perjalanan kami sempat terhenti karena kondisi pandemi yang menyebabkan kuliah di offline-kan dan kondisi kampus dibatasi. Untuk itu, kami menunda untuk melanjutkan pengelolaan mading.

Beberapa minggu yang lalu, kami sempat melihat kembali kondisi mading tersebut. Mungkin kami bisa dikatakan kaget. Mengapa? Ya karena di papan mading terdapat beberapa lembar informasi, namun bukan kami yang menempelkannya. Selain itu, ada beberapa obrolan mengenai mading, terkait dengan kolaborasi, kerja sama dll. Namun, hal tersebut tidak menjadikan problem bagi kami. Sebab, kami juga menyadari belum mengeluarkan edaran maupun narasi mengenai pengelolaan mading tersebut.

Maka dari itu, narasi ini dibuat untuk memberitahukan kepada seluruh warga IBN mengenai pengelolaan mading yang bertempat di lorong gedung FITK tersebut. Harapan ke depannya agar lebih banyak orang yang mau ikut berkontribusi dalam meramaikan mading tersebut sehingga dapat menimbulkan kebermanfaatan.

Jika terdapat kritik dan saran dari teman-teman mahasiswa terkait pengelolaan mading tersebut. Kami siap menerima. Adapun untuk koordinasi pengelolaan mading dapat melalui contact person 085867711184 a/n Asyifa Suryani atau DM melalui IG @lpmtanpatitik.]


Dokumenter LPM Tanpa Titik


Penulis : Syifa

Editor : Salisa