Islam dan Jawa di Era Post Modern

Dokumentasi LPM Tanpa Titik

Rabu, 19 Oktober 2022 Telah dilaksanakan diskusi rutinanan LPM Tanpa Titik dengan tema “Islam dan Jawa di Era Post Modern” Dipantik oleh Heri Mulyono dan dimoderatori oleh Tri Nandha Prayudha. Kegiatan dimulai pukul 13:25-15:30 WIB dengan diawali menyanyika lagu Indonesia Raya tiga Stanza. Setelah itu dibuka oleh moderator kemudian seluruh peserta membaca Muqqodimah secara bergilir, setelah selesai diserahkan kepada pemateri.

Menurut Heri Mulyono Tema tersebut memang terbilang berat karena menyangkut dengan budaya dan islam, beberapa anggota menyampaikan perspektif mengenai tema tersebut

Ada yang mengatakan ada kaitannya dengan kejawen yang dalam konteksnya yaitu mencakup seni, budaya, ritual, sikap, tradisi dan filosofi orang-orang Jawa. Selain itu, kejawen juga diartikan sebagai jalan spiritualitas oleh suku Jawa.

Ia menjelaskan bahwasanya agama yang pertama kali dianut nusantara yaitu agama Kapitayan. Dalam kontesk agama kuno disebut kapitayan merupakan agama yang dianut penghuni lama pulau jawa berkulit hitam (Ras Proto Malensi keturunan Homo Wajakensispen) Yang menganut kepercayaan Animisme dan Dinamisme, Pandangan tersebut yaitu menurut kacamata Sosiologi Budaya dan Agama.

Animisme yaitu sebuah system pemujaan terhadap roh leluhur. Di samping animisme, muncul juga perilaku dinamisme. Menurut kepercayaan dinamisme, ada benda-benda tertentu yang dipercayai memiliki kekuatan magis, sehingga benda itu di kultuskan dan di keramatkan. Tuhan yang dipercaya pada zaman dahulu oleh orang Animisme atau kapitayan yaitu Sahyang Taya yang bermakna hampa, koson suwung atau awung-awung. Taya bermkna Absoslut, tidkak bisa dipikir atau dibayang-bayangkan, orang jawa kuno mendefinisikan Sahyang Taya dalam satu kalimat “Tan kena kinaya ngapa” yang dalam arti tidak bisa diapa-apakan keberadaanNya. Kepercayaan tersebut masih berkembang hingga saat ini.





Dokumentasi LPM Tanpa Titik

Kemudian Pemateri Melanjutkan. Pada Zaman dulu nenek Moyang memuja makhluk halus dan roh nenek moyang, sahyang taya juga di gambarkan dalam nama dan sifat ilahih yang disebut Tu atau To, yang bermakna daya gaib bersifat adikodratif. Yang dalam kontesnya Tu(Tuhan)berati baik dan To(Hantu) berati Buruk,. Tu yang bersifat Ketidak-baikan disebut dengan nama Sanghyang Manikmaya. Demikianlah, Sanghyang Wenang dan Sanghyang Manikmaya pada hakikatnya adalah sifat saja dari Sanghyang Tunggal. Karena itu, baik Sanghyang Tunggal, Sanghyang Wenang, maupun Sanghyang Manikmaya pada dasarnya bersifat gaib, tidak dapat didekati dengan pancaindra maupun dengan akal pikiran. Sanghyang Tunggal hanya diketahui sifatnya saja.

Dari pemaran tersebut muncul respon dari peserta diskusi, Diana menanyakan terkait budaya yang ada kaitannya dengan agama “Apa Budaya jawa dahulu yang masih ada di zaman sekarang, dan pandangan terhadap agama islam?”. Heri pun menanggapi pertanyaan tersebut, Seperti budaya Ketika terjadi Gerhana Bulan bahwasanya ibu hamil tersebut dianjurkan bersembunyi di kolong meja atau kolong Kasur, menurut mitos orang jawa Ketika gerhana bulan, bulan tersebut dimakan naga, dan dalam Islam pun dianjurkan Sholat Gerhana, “budaya itu bersifat mubah asal tidak mengandung hal negative atau yang menyalahi syariat Islam” Sambung Heri.

Lalu bagaimana si arti dari Post Modern? Heri Menjelaskan Post yang berati Baik, Kadang baik, dan buruk. Sedangkan Modern yaitu posisi benar, baik dan buruk ia mendefinisikan Post Modern yaitu cara memahami masyarakat secara kontribusi tapi keseluruhan. 

Tahapan-tahapan menuju Era Post Modern

1. Pra Sejarah: Zaman Batu dan belum mengenal tulisan

2. Klasik: Sudah mulai tau cara bercocok tanam dan penggunaan alat produksi

3. Pencerahan: Revolusi Industri

4. Mazhab Franfkrut: ideologi Kritis

5. Modern: Positifme, manusia menggunakan ilmu alam 

6. Post Modern: Perkembangan altruis tentang banyaknya pertentangan agama, ekonomi, politik. merupakan sebuah reaksi, atau bentuk perlawanan pemikinan dari modernisme yang muncul sejak akhir abad 19 dimana pikiran digantikan oleh keinginan, penalaran digantikan oleh emosi, dan moralitas digantikan oleh relativisme.


Dari pemaparan tersebut timbul pertanyaan dari Azzam “ Bagaimana Keterkaitan antara Islam, Jawa dan Post Modern?”

Menanggapi pertanyaan tersebut Heri menjelaskan  “Diantaranya budaya yang masih ada yaitu Mitoni, Keba, budaya yang sifatnya ritual bahwa akulturasi budaya yang tidak dibubarkan oleh para penyebar islam dijawa  tetapi di akulturasikan nilai  kedalam Islam. itu awal mulaNya diera Wali Songo”

Kemudai Iqbal juga ikut menjelaskan” Jadi, kabiasaaan orang kemudian  berkembang dan di wariskan, seperti halnya ruang lingkup barat bahwa agama muncul dari suatu budaya”

“Yang kedua tentang ruang lingkup budaya Jawa yang tidak jauh dari ruang lingkup Cipta(Pemikiran) Rasa(Merasakan) dan Karsa(keinginan). Ketika berbicara tentang Jawa tidak jauh dari dari luang lingkup Geopolitik (Geografi, Sosiologi dan Politik) Dimana perkembangan luhur Jawa yang mempunyai bukti fisik berasal dari Mongolia oleh karenanya perkembangan suatu daerah dan budaya tidak jauh dari perkembangan tekhnologi dan kepercayaan” Sambung Iqbal.

Tak terasa Hari sudah semakin sore dan diskusi dicukupkan. Ditutup oleh moderator dengan membaca sholawat maulayaa sholliiii….


Penulis: Fitri