Ada Apa Dengan Diriku?

 Pict By: Pinterest

Hai, perkenalkan namaku Cecilia.

Kata ibuku, namaku ini memiliki makna dan harapan yang baik untukku yaitu hidupku selalu penuh dengan cahaya.

Tapi ternyata itu salah, di kehidupanku ini hanya ada pertanyaan mengapa dan selalu mengapa?

Ya, aku selalu bertanya-tanya mengapa mereka yang dekat denganku kini menjauh tanpa sebab?

Apakah aku punya kesalahan hingga mereka menjauhiku atau apa?

Apakah penampilanku aneh? Gaya bicaraku yang aneh? Atau sifat bahkan sikapku yang aneh?

Itupun membuat aku merasa jika jati diriku pun hilang dalam diriku. Bukan itu saja, orang lain yang tak aku kenali tiba-tiba saja menertawakanku tanpa sebab. Jika sekali, mungkin aku bisa memakluminya. Akan tetapi jika empat kali dengan suara tawa yang sama, apakah aku bisa memakluminya?

Itu yang selalu kupikirkan hingga kini. Dan kenapa juga aku memiliki sahabat yang toxic, sahabat yang datang saat ada maunya. Bahkan dalam persahabatan ini, aku merasa seperti dia menyaingi sahabatnya sendiri. Dia seperti selalu memamerkan dirinya yang asyik berbincang dengan orang lain di depanku sambil melihatku dan mendiamkanku. Dan itu lucu menurutku, karena dia pikir aku akan merasa jealous melihatnya dengan orang lain. Padahal itu salah. Aku merasa cuek akan hal seperti itu.

Jadi inilah kisahku dengan sahabat toxic ku.

“ Cil, ikut yuk acara OSPEK” kata Dinda.

“Memang acaranya kapan sih?” jawabku sambil mengunyah cemilan.

“Besok sih, tapi katanya acaranya tiga hari cuman nanti di hari terakhir kita nginep, Cil. Ikut yuk”

“Ya sudah aku ikut”

“Yeey... begitu dong baru besti”

Keesokannya, saat acara itu dimulai. Dan saat itu pun, ada teman cowokku si Ajun yang ternyata mengikuti kegiatan OSPEK ini, aku mencoba untuk menyapanya dan si Dinda pun seperti jealous tanpa sebab.

“Hai Jun, ikut acara ini juga ya?”

“Iya Cil, kamu ikut juga?”

“Hehehe iya. Tapi aslinya sih disuruh sama Dinda buat ikut dan kebetulan aku juga lagi bosen di rumah. Yaudah mending ikut deh” kataku sambil tersenyum.

“Ouh ya, kamu kenapa ikut acara beginian?” kataku penasaran sambil melihat ke dirinya.

“Mau cari cewek, kamu sendiri?”

“Dasar buaya ya begini, cari cewek diacara OSPEK. Kalo aku sih ingin cari pengalaman saja” kataku sambil tertawa.

“Yaelah bercanda, Cil”.

Saat aku asyik berbincang-bincang, tiba-tiba saja notifikasi dari WhatsApp ku bunyi, kucoba baca pesan di WhatsApp ku dan ternyata dinda menyuruhku untuk duduk di tempat duduk yang kebetulan saat itu, orang yang mendudukinya sedang keluar dari ruangan ini. Dan aku pun mencoba untuk menduduki kursi yang kosong itu.

Waktu mulai berganti dan jam istirahat pun tiba. Saat aku baru saja selesai untuk mengambil snack untuk diberikannya ke teman timku dan saat itu Dinda pun berubah total.

Dia seperti menjauhiku, padahal aku saja tidak tahu salahku dimana?

Bahkan, jika Dinda merasa jealous hingga menjauhiku hanya karena melihatku berbicara sama Ajun itu mustahil. Lagi pula bukannya dia sudah punya pasangan bahkan Dinda pun selalu menceritakan pasangannya itu padaku hingga diriku bosan mendengarkannya.

Hari demi hari pun berlanjut. Hingga hari OSPEK yang di mana di hari ini, semua mahasiswa baru bahkan pendamping akan menginap.

Dan di hari itu, hari di mana paling menyesalkan untukku, yaitu ketika banyak orang menganggapku pelang-peleng bahkan sebenarnya sebelum mereka mengecapku seperti itu, aku sudah mencoba untuk mencegahnya dengan cara aku pergi ke tempat organisasi ku hingga malam bahkan aku pun punya ke niatan ingin mundur dari kegiatan itu, tapi Dinda selalu mencegahku untuk tidak mundur.

Dan saat aku lebih mementingkan dirinya daripada diriku sehingga aku memaksakan untuk masih ikut di acara tersebut, dia tetap menjauhiku.

“Cil, sini cepetan” pesan WhatsApp dari Dinda.

“Ada apa, Din?”

“Cepetan, bentaran doang

“Kemana?”

“Ke ruang IV’

“Ya, aku ke sana”

Aku pun pergi menemui dia untuk bertanya kenapa menyuruhku datang menemuinya.

“Ada apa, Din?” tanyaku.

“Temenin aku Cil, si Anggun sama yang lain lagi pada pulang dulu. Aku ga ada temannya”

“Lah.. pas aku ga ada teman nya, kamu kemana saja, bukannya kamu malah ngenjauhin aku. Giliran sekarang kamu ga ada teman, kamu malah nyuruh aku buat temenin kamu.”

“Jangan perhitungan sih, Cil”

“Aku ga perhitungan Din, tapi ini tuh ga adil buat aku”

Seketika kami saling diam hingga teman baru Dinda pun datang, sikap Dinda yang menjauhiku pun kambuh. Memang sih, kalo ada teman baru pasti teman lama akan terlupakan.

Acara pun dimulai, di saat acara itu, aku benar-benar merasa malu sama semua orang bahkan diam seperti orang hilang. Hingga banyak orang yang melihatku dan dari kejadian itu pun yang hingga sekarang membuat mereka menertawaiku.

Jika dibilang bagaimana perasaanku sekarang dan jika boleh jujur. Rasa percaya diriku hilang dan itupun yang membuat mentalku hancur seketika.

 

Penulis: Dian Rachmawati