SIRNA DI KALA SENJA

pict by pixabay.com

Di suatu hari, tepatnya tanggal 11 Oktober. Seperti biasa aku bersiap-siap menuju kampus. Ketika aku hendak mandi, Ibuku berpesan “Wanto tadi Ibu Tuti minta tolong servicekan motornya” ujar Ibuku sambil membalik memasak untuk sarapan.

Motor yang warna kuning itu kan Bu, yang biasa di pakai untuk berbelanja ke pasar?” tanyaku sambil mengambil handuk yang menggantuk di atas sumur.

Iya Wan, nanti kamu ke rumahnya dulu buat ambil ongkos servicenya yah.

Ok Bu” jawabku sambil menuju kamar mandi dengan handuk yang sudah membungkus setengah badanku.

Setelah semuanya siap, tinggal berangkat. Aku menuju rumah Ibu Tuti yang bersebelahan dengan rumahku kira-kira sepuluh langkah dari rumah jadi tak usah kirim surat.

Tok, tok, tok… Asalamualaikum Bu…"

Waalaikum salam, ouh Wanto yah. Tadi Ibu berpesan sama Ibumu, Ibu sudah bilang kan?" ujar Ibu Tuti.

Iya Bu sudah, kata Ibu suruh kesini buat ambil ongkos servicenya hehe” jawabku sambil melongok ke dalam pintu rumah yang belah atas bawah.

Ini uangnya Wan, Ibu minta tolong yah.

Siap Bu, laksanakan. Aku pamit yah bu asalamualaikum.

Iya Wan, ati ati waalaikum salam.

Aku pun balik ke rumah dahulu untuk berpamitan dengan Ibu “Aku pamit yah Bu, Bapak masih tidur nanti salamin aja yah Bu hehe” ujarku sambil mencium tangan kanan Ibu.

Iya nanti Ibu salamin, gih brangkat.”

Aku pun menuju tempat service "Ouhh iya tadi bang Jabrud SMS aku, katanya mau ada rapat. Atau nanti aja yah servicnya setelah rapat” ujarku dalam hati sambil menikmati keasrian udara di pagi hari.

Setibanya di kampus, aku mengikuti rapat pemilihan ketua dan sidang laporan hingga usai. Ada dua kandidat yang mencalonkan yaitu Jabrud dan Tukimen. Yang terpilih yaitu Jabrud dan Tukinem menjadi sekretaris, setelah terbentuk struktural aku pun segera bergegas untuk pamit dengan teman-teman menuju tempat service.

“Aku pamit duluan yah, mau service motor saudara dulu” ujarku sambil berjabat tangan.

Lah kok buru-buru gitu kaya orang kebelet” ujar Jabrud.

Hehe, iya nih takut tutup bengkelnya” jawabku sambil menyalakan motor.

Nggak makan-makan dulu nih, teman-teman mau otw nih ke warung mie ayam yang di belakang Masjid Agung. Tenang gratis kok, ditraktir sama bang Jabrud sebagai ketua baru” ujar Darmo.

Emm… nanti deh sehabis service, nanti aku kabarin lagi” jawabku sembari sedikit menahan gejolak perut yang protes minta makan.

Ouh yaudah aku tunggu di lokasi yah, nanti kalau kamu mau kesana kabar-kabar nanti aku sharelok” ajak Surti dengan perlahan menarik pedal gas menuju lokasi.

Ok Sur.

Aku pun menuju bengkel yang tidak jauh dari Kampus. Setibanya di bengkel aku disapa ramah oleh Mas Taryo montir bengkel langgananku, jadi agak faham dikit nama orang yang service.

Mas service yah, sekalian kampas rem belakang itu kayaknya udah hamper habis” ucapku sambil menoleh kearah kampas motor.

Ok mas, boleh ditunggu sebentar mas biar tak kerjakan motornya.

Aku yang menunggu  lumayan lama dan perut semakin keroncongan. Akhirnya memutuskan membeli minuman jely untuk mengganjal rasa lapar.

Setelah selesai service, aku pun segera menuju tempat Surti dan kawan-kawan untuk mengisi sari-sari kehidupan.

“Klunitng…!” bunyi notif dari HP yang ada di saku celana bagian kanan.

“Wanto jadi kesini gak” pesan singkat dari Surti.

Ok, aku ke situ sharelock yah” balasku.

Langsung ke lokasi yah, temen-temen udah pada selesai nih.”

Ok, wait yah” balasku.

Setibanya disana , Bang Darmo, Bang Jabrud Surti dan kawan-kawan lainya sudah ada di lokasi.

“Wih ramai yah, kaya udah pada sendawa nih hehe” ucapku dalam hati.

Oi…” sapaku sambil melepas helm dengan menstandar motor.

Baru dateng Wanto…? makannya udah mau pada abis nih” kata Tono sambil mengisap sebatang rokok sehabis makan.

Iya nih agak lama tadi di bengkel, udahan dong berarti…?" tanyaku.

Udah tenang, pesen Ton satu lagi” ujar Jabrud.

Aku pun duduk di samping Surti, sambil menghelakan nafas dengan terengah-engah.

Huft, baru selesai tadi jam limaan” kataku dengan tubuh yang seakan tidak berdaya.

Kok lama banget sih Wan…?” tanya Surti yang nampak  nafas terengah-engah dengan keringat bercucuran karna mie ayam mercon yang tinggal kuahnya.

Maaf, tadi aku sempet balik lagi cari hp. Kirain hpku hilang, ehh ternyata di tas hehe” jawabku sambil menggaruk kepala bagian belakang.

Ah kamu ini… ouh iya Wan, nanti antar aku ke bank yah. Aku ada pesenan nih buat ambil uang rakyat, Aku ngeri kalau pulang sendirian” ajak Surti.

Haha kamu ini kaya anggota DPR aja ambil-ambil uang rakyat” jawabku dengan celutikan yang biasa para wakil rakyat lakukan.

Hus… bukan uang itu, ini titipan orang ambil PKH. Jadi aku minta kamu kawal, ok."

Siap-siap.

Setelah semuanya selesai makan, akhirnya mereka berpencar memisahkan diri Tono, Jabrud, dan  Darmo ke sekre. Aku dan Surti menuju bank dengan membawa motor sendiri-sendiri.

“Sur… nanti mampir ke masjid terdekat yah?” ajak ku sambil mendekati motor Surti.

Kenapa nggak di masjid kampus aja?” tanya Surti.

“Aku ingin menikmati keindahan Masjid Agung Sur yang adem, lagian sekalian lewat juga” jawabku.

Ouh yaudah, aku juga sekalian deh. Jangan lama-lama yah soalnya aku ditungguin soal uang itu.

Ok.

Ketika tiba di masjid aku di arahkan ke tempat parkir yang sudah di sediakan, tidak biasanya ada tempat parkir khusus motor. Bisa jadi lebih aman si, kan lebih terkendali pak satpam.

Aku pun menuju tempat wudlu sambil merasakan ada yang kurang.

Loh… hpku mana ya?” kataku sambil meraba di seluruh saku dan tas.

Ouhh iya yah, tadi kan hpku di taruh di saku motor. Aku ambil dulu ahh, ett tapikan ada pak satpam sedang jaga. Semoga aman deh hpku.” Ucapku dalam hati sambil melihat ke arah parkiran.

Ketika selesai sholat, aku pun bergegas menuju parkiran. Dengan melihat ke arah satu motor.

Loh, loh… kok nggk ada yah atau tadi ketinggalan di warung makan yah” ucapku sambil mencari-cari ke segala arah.

Dengan perasaan sedikit gelisah, aku pun mencoba tenang. Aku bertanya kepada pak satpam yang ada di sekitar parkiran.

Pak, pak… bapak lihat ada hp di saku motor ini gak pak…?” tanyaku sambil menunjuk ke arah saku motor.

Waduh, tadi saya gak jaga di sini mas. Coba saya tanya satpam yang lain dulu mas yang jaga disini” jawab pak satpam sambil memanggil temanya.

Aku pun menunggu info dari pak satpam yang lain. Dari pada menunggu pak satpam lama, aku pun bergegas menuju tempat makan tadi. Setibanya di sana, aku bertanya kepada mas yang berjualan.

Mas tadi lihat hp di meja sebelah sana gak mas?” tanyaku sambil menunjuk ke arah tempat aku makan tadi.

Waduh, saya gak lihat mas” mas Karyo pun bertanya kepada Mandakrup.

Man-man tadi kamu lihat HP gak di sana?” tanya mas Karyo terhadap mandakrup selaku pelayan.

Tadi saya beres-beres disini gak ada HP tertinggal mas, di sini kalau ada barang yang tertinggal Insyaallah aman. Banyak juga kok orang-orang yang barangnya tertinggal masih utuh, kadang juga ada yang balik lagi untuk mengambilnya” ucap Mandakrup.

Waduh gak ada yah mas, yaudah mas terima kasih yah mas” ujarku sambil menuju kembali ke masjid.

Iya mas, semoga hpnya ketemu" ujar mas Karyo.

Aku pun kembali mengendarai motor menuju ke masjid untuk mencari info dari satpam.

Mas, tadi saya jaga di situ. Tapi, saya tidak lihat di situ ada hp" ujar pak satpam.

Ouhh begitu yah pak, coba nanti di cek di CCTV yah pak barangkali terlihat…” pintaku.

Iya mas, ini bisa buat evaluasi kami untuk kedepanya. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang kembali” ujar pak satpam.

Iya pak, saya tunggu info selanjutnya.

Akhirnya aku memutuskan untuk menuju kampus dengan Surti, aku Pun memberi tau kepada teman-teman.

Gimana Wan, HPnya ketemu?” tanya Jabrud dengan duduk di atas motor dengan teman-teman yang lainnya.

Lenyap sudah hehe” jawabku mencoba menutupi penyesalan dengan senyuman.

Terus gimana Wan? Coba nanti lacak pakai email atau sejenisnya barangkali masih ada di sekitar sini” ujar Darmo.

Ya sudahlah, toh cuman barang kok bisa dicari lagi. Tapi yang aku khawatirkan itu data-data yang ada, takut disalah gunakan” jawabku dengan melihat-lihat ke segala arah, berkeringat, dan agak berkaca-kaca di bagian mata.

Jreng…jreng…jreng” sebuah nada untuk menenangkan fikiran yang agak sedikit kacau, dalam hatiku terfikir “Kalau Ibu tau kayaknya agak sedikit kaget deh.

Setibanya di rumah, akupun cerita kepada Ibu. Ternyata benar prediksiku.

Asalamualaikum, Bu…” salam ku dengan nada lemah.

Waalaikum salam, gimana motornya Bu Tuti aman kan?” tanya Ibu.

Aman Bu” jawabku.

Di dalam kamar sedang santai menonton TV, sekilas nampak iklan HP di TV. Aku pun bertanya kepada Ibu. Perlahan aku menceritakan kejadian hilangnya hpku.

“Bu, hp itu kayaknya mahal yah Bu…?” tanyaku dengan nada kaku.

Hmm… kok aneh sih Wan tiba-tiba kamu tanya gitu” jawab Ibu sambil bersender pada bantal kearah kiri menghadap TV.

Emm, sebenarnya HP ku hilang Bu” ujarku sambil menghadap bumi.

Hah…! Seriusan Wanto?” jawab Ibu dengan spontan  langsung bangun dari rebahanya.

Iya Bu, nanti aku ceritakan kejadian hilangnya Bu” jawabku.

Hadeh kamu ini, lain kali hati-hati dong”ujar Ibuku.

Kemudian Akupun berbaring dengan menatap atap rumah sambil terfikir  Apakah ini yang dirasakan masa sebelum adanya gawai? syahdu, tapi rindu



Penulis :   waan