Teater Cebong Gelar Paro Wulan

Dokumenter LPM Tanpa Titik


26 Maret 2021 Teater Cebong IBN Tegal mengadakan gelaran Paro Wulan. Dimulai pukul 20.00 WIB dengan pembacaan tahlil dan doa untuk para seniman yang sudah tiada. Kemudian dilanjutkan pra acara yaitu musik yang diisi oleh Faisal Bakhri dan Salma. Acara terebut dihadiri oleh perwakilan UKM IBN, dan tamu undangan dari luar seperti seniman Kabupaten Tegal, serta gabungan teater di antaranya teater Satire, teater Gatema, teater Akar, teater Banyu Biru, teater Mungil, teater Bintang, dsb. 

"Paro Wulan tersebut merupakan agenda yang dilaksanakan pada masa pandemi ini, tujuannya adalah untuk membangkitkan kembali semangat para seniman dan tetap memberikan ruang pada pelaku seni yang mana mereka tidak bisa mengekspresikan jiwa, bakat, kreatifitasnya akan sebuah pertunjukan seni. Adapun nama Paro Wulan itu didasari karena agenda ini dilaksanakan setiap setengah bulan sekali, atau paruh wulan." jelas Retno selaku koordinator Paro Wulan.

Dalam acara terdapat banyak penampilan yang disuguhkan kepada hadirin maupun penonton. Penampilan tersebut di antaranya yaitu musik, tarian Guci dari teater Cebong, pembacaan puisi dari teater Bintang, pantonim dari teater Mungil, pembacaan puisi dari teater Satire, kolaborasi art lentera santri, serta dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Khusnul Aqib dan Tezar selaku demisioner teater Cebong. 

Dokumenter LPM Tanpa Titik

Acara ditutup dengan sarahsehan dan doa penutup. Dalam sarahsehan tersebut Wahyu Widi (bidang seni Dinas Dikbud Kabupaten Tegal) menyampaikan bahwasannya beliau mengharapkan para pelaku seni khususnya teater agar mendaftarkan diri dan memperoleh atau mengajukan SK dari Dinas Dikbud Kabupaten Tegal, sebab dalam hal ini banyak pelaku seni namun belum terdapat satupun pelaku khusus teater yag terdaftar dan tercatat. 

"Harapannya agar tetap terus berkarya walaupun sedang dalam masa pandemi seperti sekarang ini, tetaplah eksis berekspresi untuk para seniman, tetaplah menghidupkan kebudayaan dengan cara bertahap bergeliat sebagai ruang eskpresi" ujar Evi demisioner teater Cebong.


Penulis : Syifa