Kerinduan itu muncul dalam ingatan demi ingatan yang berhamburan memenuhi ruang pikiran. Masih saja lekat dalam ingatan dan kenangan saat mendaki Gunung kala itu. Terlalu banyak cerita, karena perjalanan bagi setiap orang selalu punya kesan dan kerinduan yang  berbeda. Perjalanan kala itu merupakan yang pertama sekaligus menjadi kenangan yang tak akan terlupakan. Indah memanglah indah teringat jelas, saat itu pertama kalinya melakukan pendakian di Gunung Sindoro 3.153 MDPL via Kledung. Gunung tersebut terletak di sekitar Kabupaten Temanggung dan Wonosobo, Jawa Tengah.

Hati yang selalu diselimuti dengan rasa penasaran dan keingintahuan yang tinggi yang membuat raga ini bertekad untuk bisa sampai ke Gunung tersebut. Walaupun Perjalanan yang cukup menguras energi dan waktu, namun semua terbalas dengan melihat semua keindahan yang telah tuhan suguhkan. Tak ada kata kapok justru ingin mencoba lagi dan lagi.

Rindu saat berjalan menyusuri jalan setapak, merayap-rayap di jagad rimba, menembus tebalnya kabut. Kala senja mentari bersinar di ufuk Barat dan semburatnya yang keemasan memenuhi cakrawala, pantulan sinarnya menjadikan sebagian mega-mega berwarna jingga menyala. Di bagian lain gumpalan awan mulai pudar seiring berhembusnya angin dan  kicau burung yang terdengar nyaring dengan udara dingin yang menusuk raga. Ketika semua orang terlelap dalam tidur, Aku mengajak alam untuk berdiskusi dan betapa lemahnya aku dalam pelukan alam.  

Kenangan itu tak lagi kembali dirasakan sejak virus corona datang. Semua kegiatan pendakian gunung di Indonesia ditutup. Selama berbulan-bulan para pendaki memendam rindu akibat pandemi COVID-19. Namun baru-baru ini sejumlah jalur pendakian di Pulau Jawa telah dibuka kembali. Dengan dibukanya kembali jalur pendakian lantas bukan berarti tidak mematuhi protokol kesehatan. Pada intinya sama, saat mendaki protocol kesehatan pun tetap diberlakukan. Sebelum mendaki para pendaki dicek kesehatan terlebih dahulu, memakai masker,  jumlah kuota pendakian pun dikurangi, di dalam tenda yang tadinya berkapasitas 1 tenda 4 orang kini cukup 2. Alat makan harus bawa sendiri-sendiri. Banyak hal yang menjadi pertimbangan saat mendaki di tengah pandemi seperti sekarang ini.

Mendaki gunung memang menjadi tantangan bagi masing-masing orang. Di situlah kita menjadi diri sendiri, semua karakter asli kita keluar tanpa terbendung. Baik dan buruk, mana teman mana lawan, karena gunung tak pernah mengajarkan kita untuk bermuka dua.  Di situlah kita belajar untuk semakin perduli dengan sesama. Menikmati setiap filosofi tantangan, tak hanya jalan yang terjal yang akan dihadapi saat mendaki gunung, tetapi juga  hutan, sungai, duri, semak belukar. Semua ini ibarat gambaran kehidupan. Selain itu mendaki gunung menjadi tempat pilihan yang pas untuk menghilangkan penat dan melupakan sejenak persoalan.

Sebagaimana Seno Gumira Ajidarma katakan: “ alangkah mengerikanya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalanan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pension tidak seberapa”.

Lagi-lagi semua perasaan rindu harus ditunda sampai keadaan membaik sepenuhnya. Karena kesehatan dan keselamatan diri kita dan orang lain lebih penting. Seperti kata pepatah “takan lari gunung kau kejar” karena sang petualang tau, kapan ia harus beristirahat dan kapan ia harus melanjutkan perjalanan. Ibarat alam adalah sahabat, guru dan musuh terkejam.. berpetualanglah… dan ceritakan kepada dunia betapa lemahnya engkau dipelukan alam.

Penulis : Yayi

Editor : Salisa