Rabu, 6 Januari 2020 pukul 13.00 WIB
 dulur LPM Tanpa Titik melaksanakan diskusi rutinan setiap dua minggu sekali. Terkadang bertempat di halaman kampus IBN, kadang juga di depan sekretariat LPM Tanpa Titik, bahkan juga di Taman Rakyat Slawi. Kebetulan hari Rabu ini kita melaksanakannya di depan sekretariat LPM Tanpa Titik.

Budaya diskusi seperti ini harus diistiqomahkan. Sebab menjadi awal kita sebagai mahasiswa yang bergelar agen of change. Dalam forum diskusilah kita mampu menjelaskan konsep, menyusun argumen, dan membentuk insan yang ber-Intelektual. Kebetulan pekan ini diskusi kita dengan tema yang sangat menarik, yaitu Laku Cultural Defense Intelektual Organik. Tak seperti biasanya, minggu ini dihadiri oleh pemateri, yaitu pembina LPM Tanpa Titik Zaki Mubarok, bersama moderator yaitu Asyifa Suryani, Pemimpin Redaksi LPM Tanpa Titik.  Diskusi diikuti oleh dulur-dulur LPM Tanpa Titik dan beberapa dari kawan Dialektika Kampus.

ADVERTISEMENT
REPORT THIS AD

Menjalin hubungan yang baik dengan kawan-kawan LPM yang lain adalah dasar bagi organisasi atau komunitas. Hal organisme (kekeluargaan) itulah yang tidak bisa ditinggalkan dalam organisasi. Disutu akan terbentuknya kesadaran untuk saling membatu dan dibantu, membangun, dan melangkah menuju orientasi bersama atau cita-cita bersama.

Cultural Defense secara bahasa artinya menjaga kultur, atau pertahanan kultur. Menjaga kultur atau mempertahankan kultur yang dimaksud adalah refleksi dari teori sosiologi.

“Kultur masyarakat kita seperti Tahlilan dan jamiayahan itu harus kita jaga. Ada nilai sosial di dalam tahlilan tersebut. Jangan gampang terpengaruh dengan perkataan tahlilan memboroskan, mempersiapkan ini itu dan sebagaianya. Kita harus bisa mempertahankan kultur kita, budaya. Nggak usah malu dengan ungkapan-ungkapan kita anak desa lah. Sebaliknya kita harus percaya diri. Memang kita lahir di desa dan kultur kita ya kultur desa” tutur Zaki Mubarok.

“Demikian pula dengan orang yang sedang mencai ilmu. Seperti mahasiswa yang sedang belajar di perguruan tinggi atau kampus. Kultur pendidikannya pun sama seperti kultur pendidikan di pesantren. Misal, santri ngaji fiqh. Kitab pertama katakan Fathul Qarib kemudian naik lagi Fathul Mu’in, Fathul Wahab sampai Mahalli. Disiplin Ilmu Bahasa Arab atau sastra Arab; ada al Jurumiyah, ‘Amritiy, al Fiyah, dan sampai Jawahirul Maqnun. Jadi jelas belajarnya, mateng, nggak berhenti di tengah jalan”, sambung Zaki Mubarok.

Mencari ilmu yang tahap demi tahap berorientasi untuk sosiologi. Artinya kepedulian terhadap masyarakat. Kepekaan terhadap kondisi sosial. Sebagai refrensi anjuran bahkan harus untuk mempertahankan kultur adalah al ‘Adatu Muhakkamah, adat kebiasaan bisa menjadi dasar Hukum. Jadi tidak bisa disalahkan, selagi adat tersebut baik. Dan bisa dilanggengkan untuk masa yang akan datang.

“Seperti uraian maqolah (perkataan ulama) al Muhafadhotu ‘ala Qodimis Sholih wal Alkhdzu bil Jadidil Aslah. Artinya memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Misal tradisi lama itu tidak baik, yaa kita jangan mati-matian mempertahankannya, dengan alasan ini tradisi kita loh. Dan jika ada tradisi baru yang lebih baik, itu harus kita ambil dan lakukan” penjelasan dari Khusnul Aqib dulur tua LPM Tanpa Titik.

Demikian pula menyinggung teman-teman mahasiswa yang sedang bertarung di era milenial ini harus percaya diri dengan basic intelektual yang dimiliki. Jika menghadapi tantangan ketika terdapat hal yang akan meruntuhkan kultur baik yang sudah dibangun, mahasiswa harus berani tampil dan hadapi persoalan tersebut.

“Tawadlu memang diperlukan. Namun, dalam kondisi tertentu kalian harus tahu, bahwa menciptakan dan mempertahankan kultur yang baik juga harus ditampilkan dalam lingkungan. Agar masyarakat di sekitar kalian mengetahui akan hal itu” sambung Zaki Mubarok.

Dewasa ini, umat manusia sedang berlomba atau berperang kecanggihan teknologi. Zaki Mubarok memberikan cerita ketika beliau sedang mengajar mahasantri dimana hal tersebut berkaitan dengan literasi dan kekuatan media.

“Ketika saya mengajar mahasantri di Semarang, saya memutar film sejarah zaman Nabi Muhammad. Cerita di film tersebut, terdapat sahabat Nabi Muhammad yang bertanya kepada seorang laki-laki “Ya Rojul, di mana Nabi Muhammad?” Kemudian laki-laki itu menjawab “wahai sahabat Muhammad, saya tidak mengetahuinya” Seketika itu sahabat tersebut menancapkan pedangnya tepat ke arah kepala laki-laki itu sampai ia meninggal. Dan saya bertanya kepada para mahasantri, “apa tanggapan kalian terhadap video itu?” Mereka menjawab “kami shok pak”. Saya tanya lagi “Apa film sejarah itu ada dalam literasi kitab tarikh (sejarah) Islam?” mereka menjawab “Saya belum pernah mendengar, bahkan membaca tarikh seperti film itu pak”, loh jawaban mereka belum, bahkan tidak pernah membaca tarikh islam seperti itu. Padahal mereka tingkat maha santri. Dan inilah yang sangat berpengaruh. Masyarakat lebih suka mengkonsumsi media-media seperti ini, yang kebanyakan isinya tentang dogmatis. Itulah bahayanya, maka kalian perlu tampil dan mempertahankan kultur yang baik”, jelas Zaki Mubarok.

Pada zaman kecanggihan teknologi inilah, perlu bagi generasi milenial untuk memegang tiga poin:

  1. Creative
  2. Connected
  3. Confidence

Mahasiswa perlu adanya kreativitas. Kreativitas itulah yang akan mampu membawa nilai personal tersendiri. Kemudian Connected atau berjejaring, yang akan meluaskan langkah-langkah mahasiswa. Confidence adalah bentuk kepercayaan, atau bisa di artikan; memberikan kenyamanan supaya mampu berperan penting di masyarakat, bangunan dasar tiga poin itu harus diimplementasikan di kalangan mahasiswa.

Beberapa penjalasan di atas baru sebatas cukup bagi basic mahasiswa. Dan sebagian lagi mengurai tentang teori Antonio Gramsci, yaitu Hegemoni. Karena teori hegemoni yang ditawarkan oleh Gramsci di antaranya adalah terkait analisis sosial masyarakat yang terpengaruh oleh ekonomi, politik, dan budaya. Namun, pada forum diskusi rabu ini, pemateri berusaha untuk mengurai teori Gramsci pada tradisi Jawa yang sudah di akulturasi oleh nilai ke-Islaman yang di amalkan oleh orang-orang Nahdliyin.

“Dengan mendengar dari penjelasan teman-teman, berbagai tanggapan serta pertanyaan-pertanyaan yang ada. Saya membaca, beliau mencoba untuk merefleksikan teori hegemoninya gramsci terhadap tradisi Jawa yang sudah diakulturasi oleh nilai ke Islaman” tutur Aqib.

Forum diskusi masih berlanjut, serta dulur-dulur saling berargumen, Syifa selaku moderator mengendalikan forum diskusi.

“Saya lebih suka jika membahas teori yang ditawarkan oleh Gramsci dengan pendekatan mbah Moen. Walau beliau tidak menggunakan kalimat-kalimat yang intelektual, tetapi menurut saya tepat sekali, ketika beliau menjelas maqolah; al ‘Aqil Ayyakuna ‘Aaliman bi Zamanihi wa Mustaqbilan fi Sa’nihi wa ‘Arifan bi Robbihi. Yang pertama, kita harus mengetahui pola zaman yang sedang kita alami. Misal, Nabi Musa A.S diberikan mukjizat oleh Allah SWT berupa tongkat yang mampu berubah menjadi ular, seakan-akan seperti sihir. Karena pada zaman itu yang terkenal adalah tukang sihir atau dukun. Nabi isa AS, berada di zaman Thib atau dokter. Pada zaman itu semua penyakit bisa disembuhkan, tetapi tidak ada yang mampu menghidupkan kembali orang yang sudah mati, nabi Isa AS diberikan mukjizat berupa mampu menghidupkan orang yang sudah mati. Nabi Muhammad, zamannya adalah sastra. Terciptalah Al Qur’an, yang mampu menandingi karya-karya sastra orang Mekkah yang sangat luar biasa pada zamannya. Dan al Qur’an tampil tanpa ada tandingan satupun. Jadi itu, kita harus mengetahui dahulu pola zaman kita; teknologi. Dua, mempersiapkan keadaan kita, untuk berkompetisi di era sekarang. Nah, ketiga yang tidak ada di teorinya gramsci, memiliki spirit kepada Tuhannya. Hamba harus tahu siapa Tuhannya. Dan harus mempunyai kedekatan kepada Tuhannya” penjelasan Aqib.

Dengan demikian kompetisi di era digital sangatlah penting. Di samping mempertahankan kultur yang ada, harus mampu bersaing secara teknologi atau media. Karena masyarakat saat ini gampang sekali mendapatkan informasi hanya dari gengaman tangannya sendiri, gadget. Tak heran jika minhum dengan mudahnya berkembang dan memiliki banyak pengikut, dikarenakan mereka mengetahui pola zaman sekarang. Penampilan-penampilan yang mencolok, dan menarik perhatian mampu mendogma masyarakat yang awam. Cultural Defense tampil disini. Berkompetisi di dunia maya atau teknologi, tetapi jangan lupakan esensinya atau nilainya. Pada zaman ini pula, mereka berebut popularitas, adu kecepatan bermain info, atau yang diistilahkan oleh kum intelektual adalah zaman Post Truth; kebohongan yang seolah-olah kebenaran, atau juga di sebutkan dengan nama Dromologi; paradigma berpikir berdasarkan kecepatan.

Azam memberikan pertanyaan “Lantas bagaimana supaya kita mampu memilih informasi yang benar (kebenaran), sedangkan kita sudah menempati zaman Post truth?”.

“Langkah awal adalah skeptis. Skeptis menjadi hal yang penting di era Post truth”, jawab Aqib.

Sudah pukul setengah lima sore, moderator menutup forum diskusi. Seperti biasa, di istiqomahkan sebelum beranjak pulang membaca sholawat. Maula Ya Sholliii….

Terimakasih

Mulyono, Tegal 02.00 WIB. Kamis, 7 January 2021


Editor : Syifa