Dokumenter LPM Tanpa Titik


Rabu, 23 Desember 2020, sedulur LPM Tanpa Titik melaksanakan diskusi yang diadakan dua pekan sekali. Matahari yang bersinar menghangatkan diskusi kali ini, diawali dengan membaca surat Al fatihah kemudian dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya Stanza I, Stanza II, dan Stanza III. Muqoddimah, yaitu resensi buku yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk dibacakan oleh seluruh peserta diskusi secara berurutan.

Peresensi memaparkan pendapatnya tentang buku yang berjudul Ronggeng Dukuh Peruk karya Ahmad Tohari yang menceritakan latar belakang seorang penari ronggeng. Dimana dalam buku tersebut menerangkan tentang seseorang yang bernama Srintil, ia tinggal di sebuah dusun bersama kakeknya, yaitu dusun Dukuh Paruk. Dan ia adalah orang yang memiliki kelebihan yang tak dimiliki perempuan lain, yaitu menari layaknya ronggeng.

Awal mula Srintil menjadi penari ronggeng ketika ia berusia 11 tahun yang menonjolkan bakatnya. Hingga suatu hari terdapat tiga anak laki-laki yang sedang mencabut sebatang singkong di tanah kapur, mereka adalah Rasus, Dasun, dan Warta. Namun seketika itu, mereka melihat Srintil sedang menari dengan lincahnya, badannya yang lemah gemulai itu menjadikan Srintil terlihat mahir dalam menari. Sampai pada akhirnya, Sakarya, kakek Srintil mengikuti gerak-gerik cucunya tersebut. Dalam kesehariannya Srintil banyak melakukan tarian layaknya penari terkemuka. Hingga akhirnya, Sakarya mendatangi seorang dukun di dusun itu, ia adalah Kertareja. ia menceritakan apa yang terjadi pada Srintil. Setelah itu, Kartareja dan Sakarya seringkali mengintip Srintil yang sedang menari.

Pada saat itu, sudah 12 tahun ronggeng yang berada di dusun Dukuh Peruk telah mati. Dusun seakan sepi tanpa kehadiran seorang ronggeng. Kartareja mengungkapkan bahwa Srintil ialah titisan ronggeng dusun tersebut. Ia memiliki aura ronggeng yang selama ini telah tiada. Tariannya begitu bagus, lentur, lemah gemulai bak penari ronggeng terdahulu. Sampai pada saat itu, di suatu malam Srintil tampil dalam pagelaran, ia mandi dengan air bunga dan dihias sangat cantik. Penduduk dusun sangat senang dan menikmati tampilan Srintil. Hal tersebut mengingatkan penduduk dusun pada 12 tahun silam dimana terjadi peristiwa yang memakan banyak korban. Santayib, ayah dari Srintil adalah seorang penjual bongkrek, namun pada suatu hari ia tak menyadari bongkreknya itu telah tercampur dengan zat racun. Mereka yang mengkonsumsi bongkrek itu banyak yang meninggal dunia, termasuk ronggeng tersebut.

Dan untuk menjadi seorang ronggeng, maka seseorang tersebut harus mengikuti syarat yang ditetapkan. Syarat tersebut adalah ia harus mengikuti ritual bukak klambu. Artinya Srintil menyerahkan keperawanannya kepada lelaki manapun yang mau membayar ia dengan bayaran yang tinggi.

Sedikit menjelaskan mengenai penggalan cerita, peresensi juga memaparkan unsur dalam novel tersebut yang meliputi tokoh dan penokohan. Diantaranya adalah Srintil sebagi tokoh utama yang pandai menari ronggeng. Kemudian ada Rasus sebagai teman bermain Srintil, yang mempunyai nasib sama, yaitu seorang yatim piatu. Sakarya, kakek Srintil dan Kartareja seorang dukun yang mengungkapkan bahwa Srintil ialah titisan ronggeng dusun Dukuh Paruk.

Mbak Syifa mengulas sedikit cerita, bahwa Srintil menoonjolkan bakatnya menjadi ronggeng saat ia berusia 11 tahun. Singkat cerita, sampai pada malam itu Srintil tampil dalam pagelaran, ia mandi dengan air bunga dan dihias sangat cantik. Dan untuk menjadi ronggeng, Srintil harus memenuhi syarat yang ada. Syarat tersebut adalah ritual bukak klambu. Yang artinya, Srintil harus menyerahkan keperawanannya kepada seseorang yang berani membayar tinggi. Pada saat itu, ada dua orang yang membayar tinggi Srintil, namun Srintil menolak karena ia ingin memberikan keperawanannya kepada Rasus, dengan cuma-cuma. Menyadari hal itu, Rasus merasa tidak puas dan merasa kecewa karena kasihnya tak tersampaikan. Kemudian, Rasus pergi meninggalkan dusun Dukuh Peruk dan bekerja di pasar Dawuhan. Karena Rasus berpikir bahwa ia telah hidup di lingkaran hitam hingga ia meninggalkan dusun tersebut. Setelah lama bekerja di pasar Dawuhan, akhirnya Rasus menjadi tentara dan menjalani pekerjaannya.

Srintil pun merasa kecewa atas kepergian Rasus, padahal ia sudah menyukai Rasus. Ia melampiaskan kekecewaannya dengan terus menari penuh amarah.

Hingga pada satu hari, Srintil dan tim ronggengnya banyak ditampilkan. Namun, ternyata tarian ronggeng Srintil dimanfaatkan oleh PKI sebagai ajang perekrutan massa. Kemudian Srintil dan tim ronggengnya dipenjara karena dianggap mengikuti propaganda PKI pada 1965. Setelah Srintil keluar dari penjara, ia pulang ke dusun Dukuh Paruk dengan keadaan yang berbeda. Ia nampak kosong dan tak mempunyai semangat, tak merias diri, dll.

Jalannya diskusi sangat menarik, sedulur LPM berberantusias menanggapinya.

“Awal mula ronggeng itu darimana?” tanya Mas Heri

“Mengapa Srintil mau menjadi ronggeng di Dusun Dukuh Paruk?” sambung Mbak Retno

“Bagaimana nilai keagamaan di dusun tersebut?” lanjut Mbak Asbiq

Awal mula ronggeng, jadi ronggeng  adalah jenis kesenian tari Jawa, ronggeng mungkin berasal dari Jawa, tetapi juga dapat ditemukan di Sumatera dan Semenanjung Malaya. Ronggeng ditemukan juga di relief bagian Karmawibangha pada abad ke -8 Borobudur dengan menampilkan adegan perjalanan rombongan hiburan dengan musisi dan penari wanita. 

Menurut analisa pembaca, karena kematian ronggeng penyebabnya adalah Ayah Srintil, jadi Srintil kemasukkan indang ruh penari ronggeng terdahulu. Pada saat Srintil berusia 11 tahun, ia sering menari-nari hingga ketiga temannya Rasus, Dasun, dan Warta saat mencabut batang singkong melihat Srintil menari dengan lincah, dan lemah gemulai.

Lalu, Sakarya kakeknya pun mengetahui gerak-gerik Srintil yang sering menari layaknya penari ronggeng terkemuka. Hingga kakeknya mendatangi dukun, dan menceritakan apa yang dialami Srintil. Dan dukun tersebut mengatakan bahwa Srintil adalah titisan penari Ronggeng terdahulu.

Nilai keagamaan di dusun tersebut sangatlah minim. Karena warga dusun Dukuh Peruk tersebut sangat primitif, bahkan dinilai cabul dan bodoh, bahkan sesembahan mereka pun ditujukan kepada Secamenggala, nenek moyang mereka.

Beberapa tambahan juga diutarakan oleh para dulur LPM. Mereka banyak mengupas mengenai sejarah, alur, tradisi, dan kebahasaan serta realita dalam kehidupan.

Moderator menarik kesimpulan bahwa novel tersebut merupakan novel antropologi yang mengupas banyak sejarah, budaya, dan tradisi. Dan novel ini sangat berkaitan dengan HAM, terutama lebih menekankan hak pribadi yang juga harus dimiliki seseorang (terutama perempuan).

By Rinsooya. L