Teruntuk kamu yang sedang tidak baik-baik saja, nggapapa. Jalani apa adanya. Mengutip kata Pidi Baiq yang berbunyi “hatimu milkikmu, kamulah tuannya, mau senang ataupun sedih kamu berhak untuk menetukannya”

Bahagia dan sedih adalah siklus kehidupan. Kita tak bisa lepas dari yang namanya bahagia maupun sedih. Ya. Inilah kehidupan, ia bagaikan musim yang silih berganti. Layaknya hujan, ia akan datang, namun ia akan juga akan reda. Namun, bisa jadi ia datang kembali. Begitu pun perihal sedih dan bahagia. Hal inilah yang mendorong hal-hal positif dalam diri kita atau orang lain. Asupan-asupan positif banyak kita masukan dalam diri kita, dengan alasan untuk melawan hal-hal negatif atau kesedihan itu sendiri.

Hal ini tentu dapat dirasa meringankan bagi beberapa orng, tetapi tidak dengan semua orang.

Biasanya, kita menemukan dorongan positif semacam ini melalui buku, media sosial, bahkan percakapan sehari-hari. Hal ini memang bertujuan baik. Tapi, terlalu memaksakan untuk selalu berpikir positif bisa cukup membahayakan. Ini yang mengejutkan bahwa selalu memberikan kata-kata positif secara tidak sengaja membuat kamu dan semua orang di sekitarmu malah merasa jauh lebih buruk.

Angkat tanganmu jika kamu pernah mendengar salah satu dari kalimat-kalimat berikut ini: “Jangan nyerah dong”, “Kamu masih jauh lebih beruntung dari yang lain”, “Be positive!”, “Coba ubah deh pola pikirmu”, “Yuk, jadi orang yang positif”, atau “Stop berpikiran negatif”, “Masalah kamu baru segitu”.

Kalimat tersebut memang dianggap baik, dapat dikatakan pula sebagai usaha untuk fokus pada hal-hal positif, namun dalam kalimat positif juga terdapat sisi negatif. Maka, inilah yang disebut dengan toxic positivity. Itu adalah contoh dari toxic positivity dimana kita mengesampingkan emosi yang sebernarnya. Kita tidak mau menerima kondisi serta situasi autentik yang terjadi pada diri kita.

Bukannya itu bagus? Tapi faktanya, penelitian menunjukkan bahwa menghindari kesulitan dan menyangkal rasa sedih itu sendiri justru membutuhkan lebih banyak perjuangan. Selain itu, penelitian telah mendapati bahwa mengejar kebahagiaan dikaitkan dengan terobsesi pada perasaan tidak bahagia. Yang pada akhirnya juga menambah ketidakbahagiaan.

Di sekeliling kita, bahkan diri kita sendiri sering mengalami hal yang memilukan, menyedihkan atau  bahkan menyakiti hati. Mungkin hal tersebut sangatlah wajar di kehidupan kita, pengalaman tersebut pasti akan menimbulkan emosi dan rasa sakit. Nah, emosi ini penting untuk kita rasakan dan kita luapkan. Namun, toxic positivity ini seolah-olah mengatakan “jangan ada tempat untukmu di sini”, “pergilah jauh-jauh”. Sebenarya emosi tersebut cukup kita jalani saja, terima, ikhlaskan. Sebab, semakin kita menolak hal-hal kesedihan atau pun penderitaan yag membuat sakit hati, maka semakin sulit juga suasana itu akan pergi.

Toxic positivity mengabaikan rasa sakit dan itu berarti menyangkal emosi dasar manusia. Toxic positivity mengirimkan pesan secara halus tapi jelas tidak memberi ruang untuk emosi berat dan rasa sakit. Tidak ada ruang untuk hal-hal sulit. Singkatnya, sikap toxic positivity memperburuk keadaan.

Toxic positivity secara tidak langsung menyakiti orang-orang yang kita sayangi. Ketika kita berniat menghibur teman yang sedang sedih, dengan satu kalimat berunsur toxic positivity, dalam hitungan detik kita sudah meningkatkan kesedihan mereka.

Jadi, untuk orang di sekeliling kita, alangkah baiknya menerima apa yang terjadi. Entah itu bahagia, rasa sedih, rasa sakit, dsb. Sebab, kita tidak mungkin hidup dalam kebahagiaan yang terus menerus, namun kita juga tidak mungkin hidup dalam kesedihan yang terus menerus. Maka dari itu bahagia dan sedih harus ditetapkan dan diterima sesuai dengan porsinya. Namun, jangan sampai hal itu menjerumuskan kita pada sesuatu yang berlebihan. Kita harus memberi penegasan untuk bangkit di kala sedih, dan tidak berlebihan di kala bahagia.

Untuk itu pula perlu diperhatikan, ketika bertemu kerabat yang sedang bersedih ataupun terpuruk, perhatikan kalimat yang akan kita gunakan. Gunakan kata-kata yang berguna dan menghibur. Berikan saran yang membangun dan tidak menyinggung. Cobalah lebih mengenali dan menghargai apa yang dirasakan oleh orang lain. Pahami bahwa tidak semua orang memiliki kekuatan yang sama dalam menghadapi masalah. Lalu, jangan coba-coba membandingkan kesulitan orang lain. Belajarlah untuk menjadi pendengar yang lebih baik.

Penulis : Faa