dokumenter LPM Tanpa Titik

LPM Tanpa Titik melaksanakan diskusi rutinan pada Hari Rabu, 09 Desember bertempat di Taman Rakyat Slawi dengan bertemakan “Mental ilnes”. Sebelum ke pembahasan, anggota LPM Tanpa Titik melantunkan lagu Indonesia Raya Stansa 1, stansa 2, dan stansa 3. Diskusi dilaksanakan dengan membaca Muqoddimah yang dituliskan oleh Bunga secara begilir. Kemudian dilanjutkan sedikit pemaparan dari penulis muqoddimah.

“Mental ilnes adalah gangguan mental, atau penyakit kejiwaan. Mental ilnes merupakan suatu kondisi yang memengaruhi perubahan emosi, perilaku, suasana hati, dan pola pikir penderitanya secara berlebihan” tutur Bunga.

“Kita tidak bisa menilai seseorang itu menderita mental illness, sebab dilihat dari ciri-cirinya sangatlah wajar dan biasa dialami oleh banyak orang. Seperti halnya sedih, murung, kondisi perasaan yang cenderung berubah-ubah, mood yang naik turun, tidak bisa tidur, kurang makan, dsb. Namun, dalam hal ini ada pengklasifikasian tertentu yang menjadikan seseorang diduga mengalami mental illness. Tentunya, kita juga harus berhati-hati dalam menanggapi adanya bahasan mental illness tersebut. Jangan sampai kita self diagnose” sambung Syifa.

Kemudian, di respon oleh kawan-kawan diskusi dengan saling tukar menukar pengalaman pribadi. Ada dari mereka yang menceritakan pengalaman hidupnya.

“Waktu usia SMA saya sempat mengalami No Life, atau maksudnya adalah menarik diri dari kerumunan. Saya merasakan ketika bersosial berkumpul bersama teman, di situ saya merasa tidak dipedulikan, cemas, dan ada hal yang menyebabkan saya khawatir dan takut” ujar Amal.

Penyebab mengalami mental illnes itu bisa di karenakan 3 faktor

1. Trauma. Maksud trauma di sini adalah seorang mengalami ketakutan yang luar biasa di masa lalu.

2. Genetik. Gen ialah suatu sifat turunan, misalnya gampang cemas, gampang khawatir, dan panik yang bisa mendorong seseorang mengalami Mental illness atau gangguan kejiwaan.

“Namun garis besar seorang mengalami mental ilnes itu ketika berlebihan dan sampai mebahayakan dirinya sendiri atau orang lain” tambah Iqbal.

3. Tempera mental, atau mudah marah.

Diskusi-pun berjalan dengan lancar, sampai waktu Ashar berlangsung tepatnya pukul 16.00 WIB. Misbah selaku peserta diskusi menanggapi persoalan Mental ilnes.

“Kita tidak mudah untuk meng-indetifikasikan seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan atau mengalami mental illness. Karena suatu hal yang sulit untuk menilainya. Potensi manusia mengalami itu semua, cemas, ingin menyendiri, sedih, galau, takut, bahkan mood yang tidak stabil. Terkecuali orang yang bermain di bidang itu, atau ahli psikologi. Dan ironisnya, dewasa ini banyak dari mereka generasi Z menjustifikasi dirinya sendiri mengalami Mental illness bahkan mereka bangga. Ya, seperti di akun-akun twitter sudah banyak persoalan itu”

Ada banyak kondisi yang di kenal sebagai penyakit mental. Yang umum dan sering terjadi adalah:

1. Gangguan kecemasan. Kondisi ini juga dikenal dengan sebutan Anxiety Disorder dan merupakan tipe yang paling banyak ditemui.

2. Gangguan mood. Gangguan emosi yang membuat suasana hati penderitanya berubah-ubah. Jenis gangguan mood antara lain depresi mayor, bipolar, dan seasonal affective disorder.

3. Kontrol implus dan gangguan kecanduan. Antara lain dari ciri gangguan ini adalah seseorang yang mengalami gangguan ini tidak dapat menahan dorongan untuk melakukan tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain.

4. Gangguan psikotik. Melibatkan kesadaran dan pemikiran yang menyimpang. Gangguan psikotik yang paling umum adalah halusinasi, dan delusi.

5. Gangguan kepibadian. Seseorang dengan gangguan kepribadian memiliki kepribadian yang ekstrim dan tidak flesibel yang menyebabkan orang tersebut stres.

Kemudian, Iqbal mengklasifikasikan “Untuk mengkaji tema ini yaitu mental illness, paling tidak harus memisahkan terlebih dahulu. Mana pembahasan metafisika, mana pembahasan psikis, dan mana pembahasan fisika. Ada contoh orang orang di anggap mengalami halusinasi semata karena sering melihat hal yang Ghaib atau samar oleh pandangan mata. Itu tergantung sudut pandang mana kita akan menanggapi contoh tersebut” tambah Iqbal.

Di sela waktu diskusi ada yang bertanya.

“Faktor apa saja yang mempengaruhi psikis seseorang?”

“Faktor yang mempengaruhi ada 3

1. Lingkungan

2. Keluarga

3. Teman.

“Nah faktor ini berbeda dengan faktor pengaruh di bidang ilmu pengetahuan yang lain. Namun, kalo pengaruh psikis. Yaa 3 faktor itu” sambung Bunga.

Lantas satu sama lain antara anggota diskusi saling menanggapi.

“Dan biasakanlah hal-hal yang baik, atau coba memaksakan untuk menjadi kebiasaan yang baik. Maksudnya ada niatan untuk merubah hal yang menurut kesadaran kita tidak baik. Dan dorongan dari luar diri kita sangatlah penting untuk menunjang hal tersebut. Misalkan, kepada teman kita di situ ada sinergi atara diri kita dengan teman kita, atau saling mempengaruhi satu sama lain” ujar Azam menjelaskan faktor pengaruh psikis.

dokumenter LPM Tanpa Titik

Sebenarnya, jika kita ingin membahas lebih expert mengenai mental illness atau segala hal lain yang berkaitan dengan kejiwaan, maka tidak dapat diperoleh dalam waktu yang cepat dan praktis. Namun, tidak ada salahnya kita belajar dan sedikit mengetahui mengenai mental illnes, harapannya juga agar kita dapat lebih waspada dalam kehidupan sehari-hari.

Sampai terasa di pukul 16.30 moderator menutup ruang diskusi. Dengan budaya selesai diskusi anggota LPM Tanpa titik bersholawat, bertujuan kegiatan diskusi ini semoga bermanfaat dan barokah. Maula ya sholli wa sallimda iman abada ….

Penulis : Mul

Editor : Syifa