Raisa, nama gadis yang telah memikat sukmaku. Wajahnya yang ayu nan teduh melintas dalam pikiranku. Senyuman dan manik api hitamnya membuatku candu dan merasa euforia. Aku telah jatuh dalam pesonanya ketika pertama kali bertemu. Tepat dua tahun yang lalu saat latihan untuk acara dies natalis kampus. Terlihat seperti omong kosong memang. Tapi itu kenyataannya.

“Halo … Mas Javies ya?,” Aku terpana kala menatapnya. Seperti terhipnotis, mataku tak ingin lepas dari pandangannya.

“Ah i-iya, siapa ya?”  

“Saya Raisa, yang akan menyanyi, menemani mas Javies mengiringi gitar.”

“Oh begitu, kita latihan mulai besok saja, di aula. Dan panggil saja saya Jeff, biar simple.”

Dia hanya mengangguk sambil tersenyum dan berlalu meninggalkanku.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Aku dan dia semakin hari semakin dekat. Bahkan sering menghabiskan waktu bersama. Hingga tanpa kusadari, rasa itu semakin berbunga dan bermekaran. Saat melihat senyumannya, jantungku seperti ingin keluar dari tempatnya dan ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutku. Namun pada suatu waktu ia menyataan bahwa aku dengannya hanya sebatas teman saja, tidak lebih dari itu.

Aku tak mampu menyampaikan gejolak yang ada didalam dada, lidahku seakan kelu.  Meskipun dekat, namun rasanya sulit sekali untuk menggapainya. Dia terlalu sempurna untukku. Dia seorang yang taat kepada Tuhannya. Sehelai rambutnya pun tak pernah nampak dibalik kerudungnya. Dan akupun tak pernah menyentuh kulitnya barang sedikitpun. Ia nampak begitu menjaga. Ahhh rasanyaaaa….

Ada rasa ingin memilikinya, mengikatnya dengan ikatan benang merah. Tapi tak akan pernah bisa karena perbedaan berjarak 100 meter. Dan tidak mungkin aku merusak keimanannya hanya karena perasaanku. Aku juga tidak ingin menduakan Tuhanku hanya karena seorang gadis.

Ting…

Bunyi hp membuyarkan lamunanku. Ternyata pesan dari Raisa. Tanpa sadar aku menaikkan bibir membentuk kurva saat melihat pesannya.

Besok jangan lupa ke gereja..!!

Iyaaa, kamu juga jangan lupa sholat :). Balasku cepat

Ada rasa senang tersendiri jika dia mengingatkanku beribadah. Begitu juga aku yang kadang mengingatkannya untuk beribadah kepada Tuhannya.

Yah, kami memang berbeda. Perbedaan kami hanya berjarak 100 meter. Dia beribadah di masjid Istiqlal menghadap Kiblat, sedangkan aku beribadah di gereja Katedral menghadap Altar. Namun, itu tak menjadi masalah dalam hubungan persahabatan kami.

 Memang tak masalah, tapi aku telah berharap banyak padanya. Aku takut, takut jika dia meninggalkanku.

Tuhan.. Aku harus bagaimana??

~

Saat ini, aku sedang berada tepat didepan tempat beribadah Raisa. Menelisik para  pengunjung yang keluar dari bangunan berkubah itu. Tubuhku gelisah kala tak melihat sosoknya. Sudah 10 menit lebih aku menunggunya.

Hatiku bergejolak kegirangan kala melihat gadis yang memikat hatiku. Ingin rasanya memeluknya, karena tidak bertemu satu pekan. Namun senyumku luntur saat melihatnya sedang berbicara dengan lelaki dan kelihatan sangat akrab. Terbesit rasa cemburu direlung hatiku. Namun aku sadar, aku ini siapa?

Kulangkahkan kaki menuju gadis itu. Aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka.

“Terimakasih ya Raisa bukunya.”

“Iya, sama-sama kak” jawab Raisa seraya tersenyum kepadanya.

“Oh iya kamu pulang bareng siapa,” tanyanya pada Raisa.

“Raisa pulang bareng saya” spontan aku memotong pembicaraannya.

Lelaki tadi hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan kami berdua.

“Loh Jeff, dari kapan ada disini?” tanyanya kebingungan.

“Dari tadi Rai” jawabku sambil terkekeh.

“Oh iya sebelum pulang ke taman dulu ya,” ajaknya yang tidak bisa kutolak.

Sesampainya di taman, kami berdua duduk di kursi panjang. Tempat biasa kami meredam lelah. Netraku tak bisa lepas dari wajahnya. Wajahnya lebih manis dari kue cubit yang kubeli.

Hatiku membisik menuntun lidahku agar menyampaikan gejolak yang ada didalam dada.  Kutatap lekat wajah Raisa yang sedang menikmati kue cubit langganan kami. Air mukanya yang tenang dan meneduhkan, tak dapat merasakan apa yang aku rasa. Sungguh, tubuhku mendadak panas dingin memendam gejolak rasa ini. Aku sudah tau pasti jawabannya. Hanya saja aku ingin Raisa merasakan apa yang ku rasa.

“Raisa… ” panggilku.

“Hm ya?” sautnya menoleh padaku.

“Aku sayang kamu Raisa”

“Pffttt… Aku juga udah ta-“

“Aku sayang kamu lebih dari sahabat” potongku cepat.

Raisa menghentikan tawanya, dia tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Dan Waktu seakan berhenti berputar. Aku hanya menatap lekat wajah kagetnya.

“Sejak kapan?” tanyanya penuh selidik

“Sekitar dua tahun yang lalu, sejak pertemuan pertama kita” jawabku enteng

Matanya membola, menatapku seolah tak percaya apa yang aku katakan. Kemudian dia tersenyum dan berkatalah ia,

“Terimakasih Jeff telah menyayangiku lebih dari sahabat. Tapi maaf, untuk membalasnya aku tak bisa. Kamu tau kan, posisi ibadah kita berbeda. Aku juga sayang kamu, tapi sebagai sahabat. I’m so sorry Javies”  ucapnya dengan teduh.

Aku sudah tau, pasti dia akan menolakku. Ada rasa lega dan sakit yang bersamaan. Jantungku seperti diremas kuat saat mendengar lantunan katanya. Aku hanya tersenyum dibalik luka yang menganga.

“Tapi Jeff, aku mohon. Jangan menjauh karena hal ini” lanjutnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Nggak kok Rai..” jawabku seraya menerbitkan senyum untuknya.

Aku menengadah, menatap langit yang seakan tahu luka baruku. Rintik-rintik hujan pun seakan tau apa yang kurasa, hingga ia menjatuhkan airnya membasahi bumi.

“Yuk pulang, hujan nih” ucap Raisa yang membuyarkan lamunanku. Aku hanya mengangguk dan berjalan menuju parkiran.

Tuhan, aku mohon. Berikan segala hal yang baik untukku dan untuknya.    

Pelik dalam jiwa dan angan, memang realita dan ekspektasi tidak selalu terjadi bersamaan. Sama halnya aku dan Raisa, antara kiblat dan altar sejatinya menjadikanku belajar, bahwa bersaa tak harus sama, dan bersama tak harus menjadi suatu ikatan yag lebih. Lalu, aku menyadari bahwa ini buanlah akhir, namun perlu adanya kita untuk menapak pada takdir.

Raisa, aku menyayangimu. Sahabatku

Penulis : Rinsooya. L

Editor : Salisa