“Menangislah sampai kau merasa puas sekarang, tapi aku tak akan mengijinkannya untuk lain kali.”  Ujar Naura, sahabatku.

Kutarik napas perlahan, dan mengembuskannya. Awalnya sempat tersedu dalam pelukan Naura. Namun, kali ini sedikit lega.

Aku melepas isak. Segala sedu yang kuramu, biarlah masuk dalam saku baju. Lukisan senyum kubuat merekah sedemikian rupa.

Kutegapkan posisi tubuhku. Menatap langit yang bertabur awan. Dalam sepersekian ia mendatangkan mendung dan hujan.

“Ah, hujan. Kenapa harus datang sekarang? Aku baru saja menaruhmu dalam kenang.” Gumamku.

“Rainey, kau benar baik-baik saja?”

Aku mengangguk. Meski, apanya yang benar baik-baik saja?

Tak jarang, orang mencintai hujan karena teduhnya. Rintiknya, menghadirkan ketenangan jiwa. Tak sedikit, berbagai cerita pun dituang dibalik hujan. Apakah kau juga punya kisah dibalik hujan?

***

Aku adalah salah satu orang dari mereka yang menyukai hujan. Seperti namaku, Rainey yang berarti hujan. Mungkin aku menyukai hujan karena namaku, atau karena hujan memang terlihat indah begitu adanya. Entahlah, tak jarang perihal suka tak harus ditanya pasti apa jawabannya. Membiarkan samar, tapi ada. Hingga ada dan tiada, jaraknya hanya sepersekian saja.

Ketika malam hari tiba, aku melalukan ritual spesial. Ya, kebiasaan itu sering kulakukan ketika akan pulang. Duduk di halte bus di tepian jalan. Sesekali, melihat lalu lalang kendaraan lewat. Memerhatikan ekspresi setiap orang. Dan, itulah yang aku tunggu. Puncak ritual itu, memuja hujan. Sisa kuning bercampur merah langit, bertabur dengan rintik hujan. Seperti sebuah dewa yang kunanti dengan berbagai semoga.

Rutinitasku sebagai karyawan, memang seringkali membosankan. Namun, sebagai perantauan, aku merasa hidup dan pekerjaanku sudah lebih dari cukup. Dan di kota ini, Nauralah satu-satunya sahabatku. Sahabat kecilku lebih tepatnya. Kami sudah seperti keluarga.

Naura sendiri juga sudah bekerja, menjadi seorang karyawan. Bedanya, ia bukan bekerja di tempat kerjaku. Ya, kami lain perusahaan. Ia mengendarai motor untuk bekerja. Namun, lain halnya denganku. Aku tak punya kendaraan. Jadilah, aku pengguna bus setia. Dan sejak ini pula, aku selalu senang saat pulang. Seolah mataku penuh harapan —untuk kupersembahkan pada hujan nantinya.

***

“Indah sekali.” Gumamku saat hujan jatuh berlarian. Ada yang bersegera masuk ke tanaman sekitar jalan. Ada pula yang hanya meresap ke aspal tepian jalan. Pun, ada pula yang mampir ke selokan. Namun, setiap bulir hujan itu terus berjalan. Menghikhlaskan dirinya untuk kembali.

“Rasanya penat pekerjaanku, terbayar sudah. Terima kasih, Hujan.”

“Allahumma soyyiban naafian.” Lirihku.

Jika hujan seperti ini, bus akan datang terlambat dari biasanya. Keberuntunganku. Aku bisa menikmati ritual ini lebih lama. Merasakan setiap bulir hujan, memandang lalu lalang kendaraan, dan berbagai orang pergi-datang. Saat mataku sibuk membaca lalu lalang, sebuah suara menyapaku.

“Kau menyukainya?”

Dia tertawa kecil melihat raut bingungku, “Aku memang bertanya padamu, Nona. Namaku Andaru dan siapa namamu?” Tanyanya dengan senyum kecil setelahnya.

“Aku Rainey.” Jawabku. Dia laki-laki yang tampan dan tinggi. Dilihat dari wajahnya, sepertinya dia lebih tua dariku. Senyum lembut, khas laki-laki dewasa.

“Hujan. Kau menyukainya karena itu seperti namamu? Artinya hujan bukan?” Sepertinya dia sangat suka tersenyum. Terbukti dari bibirnya yang terus tersenyum setiap kali mengajukan pertanyaan padaku.

“Bagaimana kau mengetahuinya?”

Ia terkekeh sebelum menjawab pertanyaanku, “Matamu terlihat seperti memuja hujan saat kau memandanginya, Rainey.”

Obrolan kecil itu terhenti begitu saja. Tepat, saat bus yang kutunggu datang. Kutaruh senyum padanya, sebagai salam perpisahan. Laki-laki itu tak menaiki bus yang sama denganku. Entahlah mengapa.

***

Sesudah hari itu, kita jadi sering bertemu di halte bus. Padahal, kukira tak akan menjumpai kembali.

“Ah, kenapa jadi sering bertemu begini? Mungkin saja dia baru pindah ke kota ini? Atau dia baru tahu kalau di sini ada halte? Bisa saja dia baru sadar kalau naik bus itu menyenangkan bukan?” Batinku bertanya-tanya.

Tak terhitung, berapa hujan yang sudah menyaksikan kita menunggu di halte yang sama. Setelah mengenalku, ia juga jadi suka naik bus. Entahlah mengapa. Bukan hanya hujan, aku pun lebih dekat dengannya dalam berbagai cuaca. Ya, kita lebih dekat.

Setiap akhir pekan, ia mengajakku berlibur bersama. Setelah beberapa waktu mengenalnya, aku jadi tahu kalau ia lebih suka pergi saat malam hari. Ia sangat menyukai fotografi. Langit malam, jadi objek potret favoritnya.

“Melihat banyak bintang bertaburan di langit dan mengabadikannya, itu membuatku merasa lebih hidup,” katanya suatu hari.

Aku tidak tahu apa maksudnya merasa lebih hidup. Mungkin rasanya sama seperti saat aku menikmati kegiatan favoritku? Ia seringkali mengajakku mencoba memfoto. Mengajari berbagai tekniknya.

“Sepertinya kau sangat mahir fotografi, kenapa tidak jadi fotografer saja?” Tanyaku memecah matanya yang fokus ke lensa kamera.

Ia tersenyum lagi. Lalu menjawab pertanyaanku.

“Aku melakukannya karena aku suka. Aku takut jika aku melakukannya karena tuntutan dari sebuah pekerjaan, itu tidak akan terasa menyenangkan lagi dan aku tidak menyukainya.”

“Begitukah kau menempatkan kadar suka?” Lirihku tak terdengar olehnya.

***

Waktu berlalu dengan cepat. Tak terasa aku sudah mengenal laki-laki itu semakin dekat. Kita selalu melakukan hal-hal yang kita sukai bersama. Seperti ia yang menemaniku duduk di halte pada malam hari. Menikmati pemandangan orang-orang dan kendaraan berlalu lalang. Mendengarkan melodi hujan, lalu ia akan mengabadikannya dengan kamera yang selalu dibawanya itu.

Aku tidak tahu bagaimana, berada di dekat laki-laki itu membuatku merasa nyaman. Selama ini, kata Naura aku adalah orang yang sulit membuka hati. Tetapi padanya, aku merasa bisa lebih terbuka.

Laki-laki itu rendah hati. Itu adalah kesan pertama yang kudapat darinya. Itu pula yang menjadi kriteria utama dari orang yang aku sukai.

“Aku mencintai bintang.” Kataku suatu ketika.

“Aku juga.” Jawabnya.

Sejak dia mengajakku mengabadikan langit malam, sejak itu pula dia selalu memberi kabar padaku. Jika bintang pagi sedang terang-terangnya.

“Aku mencintai hujan.” Lagi, aku berkata padanya. Dan dia menemaniku menikmati hujan di halte. Malam dengan segala keramaiannya.

“Aku mencintai puisi.” Kataku kesekian kali. Dan ia hafal berbagai sajak-sajak indah. Menyenandungkannya untukku. Ya, dia mencintai, apa yang aku cintai.

“Aku mencintai bintang di langit utara.” Katanya suatu hari.

“Dan aku, mencintaimu.” Batinku lirih.

Senyap. Hujan tiba-tiba tak pernah jatuh lagi di sepanjang jalan kota itu.

***

“Lepaskanlah apa yang memang seharusnya dilepaskan, Nak. Kau sedang dilamun ombak. Harus kau perkuat layarmu.” Aku merajuk di pangkuan Ibu. Ya, saat itu aku memilih pulang ke rumah. Ingin segera menemui kasih Ibu.

“Kata orang, nahkoda selalu yakin esok akan ada matahari. Sebab itu mereka tak pernah hilang harapan di lautan yang bahkan tak bertepi.”

“Dan, ada do’a yang selalu menyertainya. Dari jauh, dari rumah yang mereka tinggalkan.” Nasihat Ibu kala itu, serupa hujan yang lama kurindukan bersamanya. Ya, bersama laki-laki rendah hati yang entah kemana.

Dua bulan setelahnya, langit menuturkan kabar. Sebuah undangan pernikahan dari laki-laki itu. Ya, ia akan mengikat janji dengan bintang langit utara yang ia cintai.

“Ah aku tak menyangka kalau waktunya akan secepat ini. Aku tak tahu kalau jatuh cinta itu tak seadil ini.” Gumamku menyeka setiap bulirair mata.

Yang kutahu, laki-laki itu menyala seperti kembang api. Berpijar indah di langit. Memberi kebahagiaan sekejap, lalu dia akan menghilang kemudian. Begitu kusimpulkan. Meskipun, apa yang perlu disimpulkan dari sebuah perasaan? Bukankah, biarlah berlalu dibawa keikhlasan?

***

Oleh: Bunga Rosf

Editor: Mba Ana