Garis Merah

Pict by: Pinterest


Perkenalkan, nama saya Ibnu Filosofi. Terlahir cacat etika dan tumbuh oleh penderitaan-penderitaan dunia. 

Ini puisiku dari makhluk tak kasat rasa.


Alah bangsat 

Mana empati kalian?

Yang bilang makhluk perasa

Namun etika dan empatinya cacat


Aku cacat etika

Bagaimana bisa Tuhan menciptakanmu tanpa memberi tahu kepada malaikat, untuk apa kamu diciptakan?


Aku yang cacat etika, cacat bertuhan.


Tuhan …

Bagaimana bisa kau sebaik ini?

Padahal hamba secacat ini padamu

Bagaimana bisa kau memberi rezeqi?

Tanpa mau sedikitpun imbalan dariku


Apa yang membuatmu mengasihiku?

Apa karna aku ini hamba dan kau Tuhanku?

Sialan, kau membuatku termenung

Di ruang gelap tanpa pulang


Maha asikmu 

Maha baikmu

Maha welas asihmu

Ku bantah atas penderitaan duniaku.


Aku cacat etika, cacat bertuhan.


Aku membantah semua yang kutulis. Namun ini menyandang beberapa pertanyaan untuk diriku, Ibnu Filosofi.

Pernah menanyakan pada diri sendiri, seberapa cacat kita sekarang ?

Pernah bertanya pada diri sendiri, tentang nikmat yang Tuhan lupakan?

Bukan nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan, melainkan dusta mana lagi yang akan kau lakukan.


"Wahai hambaku. Kemarilah, berbisik mesralah denganku." Seru-Nya.


"Hamba tak lagi pantas untuk berbisik denganmu." 


"Kemarilah, aku yang maha pengampun. Bagaimana bisa menolak permohonan maaf darimu?"


"Cukup Tuhan—cukup."


Aku meneguk segelas air. Kemudian berwudhu, menggelar sajadah yang telah usang, membuka lembaran-lembaran firman-Mu yang telah berdebu.

Aku tenang hingga esok tak lagi menyambut pedih di dunia.

Aku mendapat kunci surga, namun aku akan lebih lama tinggal di neraka.





Penulis: Ginoromadhon