Self Healing ; Move On dari Luka


Dokumentasi LPM Tanpa Titik

Diskusi rutinan Lembaga Pers Mahasiswa Tanpa Titik telah terlaksana pada hari Rabu, 03 November 2021 dengan tema "Self Healing". Kegiatan dimulai pada pukul 13.00 – 17.00 WIB dengan diawali membacakan surat Al-Fatihah. Kemudian dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza yang dipimpin oleh dulur RosianaSetelah itu pembacaan muqoddimah secara bergilir oleh semua peserta diskusi. Selesai membaca, didapatkan kesimpulan awal bahwa Self Healing merupakan proses penyembuhan luka diri dari luka batin atau mental seseorang yang disebabkan oleh beberapa hal. Benarkah demikian? Yuk simak selengkapnya.

Selanjutnya adalah pemaparan teks muqoddimah oleh Faizzah, selaku penulis. Izzah menjelaskan bahwa self healing itu cara penyembuhan diri dari kesehatan mental atau ketika mental sedang down. Dengan cara melakukan me time atau meluangkan waktu untuk diri sendiri, biarkan emosi negatif mengalir, buatlah sugesti yang positif, jangan menunggu permintaan maaf, dan berfokuslah pada diri sendiri. Dan juga, dulur Izzah memberitahu langkah-langkah self healing untuk menyembuhkan luka batin di masa lalu. Yang pertama, self acceptance atau menerima diri sendiri. Kedua, jangan menyerah apa yang diimpikan. Ketiga, maafkan diri sendiri. Keempat, membuat what-to-do list. Kelima, melakukan kegiatan yang positif, seperti melakukan sesuatu yang kita suka, seperti berbelanja, mendengarkan musik, ataupun menonton film. Dan, saat kita berhasil melakukan self healing, maka kitaakan menjadi pribadi yang lebih tegar dalam menghadapi kesulitan, kegagalan, dan trauma dimasa lalu.

Berbagai tanggapan dan pertanyaan muncul disepanjang diskusi. Rata-rata peserta diskusi beranggapan bahwa self healing yaitu cara untuk menyembuhkan diri. Ada juga yang berpendapat bahwa self healing itu move on dari luka.

Dokumentasi LPM Tanpa Titik

Dulur Malik mengatakan bahwa self healing merupakan pengobatan diri dari kesehatan mental yang down, seperti halnya dengan phobia. Dengan cara melakukan sesuatu apa yang kita suka.

Syifa menanggapi, “Jika phobia solusinya dengan melakukan healing, itu masih jauh. Karena phobia itu rasa takut, dan rasa takutnya itu sudah di dalam jiwa bukan di dalam diri. Dan, sekarang ini kebanyakan self healing itu dijadikan bahan bergengsi atau tameng-tamengnya anak remaja. Namun, bagi beberapa orang mungkin self healing itu tidak terlalu penting.”

Dan Nanda berpendapat bahwa self healing itu sesuatu cara untuk menyembuhkan diri dari kesehatan mental. Namun, kesehatan mental itu tidak ada hubungannya dengan waktu, seperti kalimat “biar waktu yang menentukan”. Tapi dapat disembuhkan dengan dengan waktu, seperti membiasakan diri dengan suatu permasalahan.

Lalu, muncul pertanyaan, “Bagaimana sih cara mengatasi self healing tanpa berbelanja?”

Izzah berpendapat, kita melakukan self healing dengan apa yang kita sukai. Seperti, mendengarkan musik, berbelanja, ataupun menonton film. Nah, jika cara mengatasi self healing tanpa berbelanja itu tergantung diri masing-masing, karena kita melakukan apa yang kita sukai.

Dulur Iqbal menambahkan bahwa awal self healing itu dibutuhkan untuk orang-orang yang memiliki gangguan mental. Namun, untuk sekarang self healing digunakan untuk orang-orang biasa yang sudah tau istilah ini  pun tidak masalah. Dan dulur Iqbal menganggap self healing sebagai foya-foya. Dan foya-foya itu tidak melulu soal uang, yang terpenting kita itu menjalani sesuatu yang kita senangi. Tetapi, jangan sampai merugikan orang lain.

Karena waktu sore sudah menyapa, maka diskusi akhirnya ditutup dengan penarikan kesimpulan dan dilanjutkan dengan pembacaan sholawat Maula Ya Sholli...

 

Penulis : Amalia