Memahami Terbelenggunya Setan di Bulan Ramadhan

Pict : Bombastis.com

Sebagaimana kita ketahui bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan istimewa karena pada bulan tersebut seluruh umat Islam yang telah memenuhi syarat diwajibkan untuk menjalani rukun Islam yang ke-3, yakni puasa. Sebab itu juga, bulan Ramadhan disebut juga syahrush shiyam (Bulan Puasa).

Bertepatan dengannya, seringkali kita mendengar sebuah hadis dibawakan kiai/ustad bahwa di bulan suci ini pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan diborgol. Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan hadis ini. Lalu otak nakal sebagian dari kita bertanya tanya sinis, kok masih ada yang maksiat di bulan ramadhan, katanya setan diborgol, pintu neraka ditutup dan pintu surga terbuka ?

Latar belakang munculnya pertanyaan tersebut biasanya spontan karena hanya menelan mentah mentah tekstual hadis dan melihat realita semesta yang ada (masih ada yang maksiat). Tanpa berusaha tathollub (mencari-cari) makna yang tersurat maupun tersirat dari hadis tersebut. Baik dengan cara menjelajahi karya ulama atau memanfaatkan akal kita dengan perenungan yang dalam.

Jauh sebelum kita, para pewaris nabi sudah banyak yang 'tertantang' untuk menjelaskan maksud hadis tersebut. Ada beberapa penjelasan mengenai makna dari sabda kanjeng Nabi diatas. 

Sultonul ulama, Imam Izzuddin ibn Abdissalam dalam maqosidus shaum menjelaskan bahwa maksud terbukanya pintu surga adalah ungkapan lebih banyaknya ibadah dan ketaatan di bulan ramadhan. sehingga menyebabkan pintu surga dibuka. Tertutupnya pintu neraka adalah ungkapan berkurangnya peluang maksiat sehingga menyebabkan pintu neraka ditutup. Terbelenggunya setan adalah orang-orang yang sedang berpuasa tidak lagi mudah tergoda rayuan setan.

Bila kita baca baik baik, maka akan nampak bahwa imam Izzudin ibn Abdissalam menggunakan pendekatan majazi dalam memahami teks hadis diatas. Pemahaman seperti ini jelas butuh perenungan yang dalam. Karena berusaha menafsirkan teks hadis-yang dianggap bernuansa metafora-namun tidak keluar dari esensi hadis itu sendiri. Kalau dalam sosial kehidupan kita, ketika berkunjung ke rumah teman atau saudara tak jarang kita mendengar kalimat 'anggap saja rumah sendiri'. Kalimat tersebut jelas harus dipahami secara majazi. 

Sebagian ulama memahami bahwa hadis dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka dan diborgolnya setan hanya berlaku bagi sha'im (orang yang berpuasa) yang mengindahkan rukun serta adab-adabnya. 

Pendapat ini terekam dalam umdatul qori'. Syekh Badruddin al-aini menulis redaksi ba'duhum, artinya memang tidak disebutkan siapa pemilik statement ini. Pendapat ini seolah memberi tahu kepada kita bahwa orang yang menjaga rukun dan adab berpuasa akan mendapatkan keistimewaan lebih yang tidak didapatkan oleh level puasa dibawahnya. 

Selanjutnya, syekh Badruddin al-aini juga mengutip pendapat lain ulama yang menjawab pertanyaan senada di atas. Bahwa dibelenggunya setan tidak identik dengan hilangnya kemaksiatan. Karena sebab kemaksiatan tidak hanya dari setan, melainkan bisa juga bersumber dari hawa nafsu dan kebiasaan buruk.

Anggapan ini menyadarkan kepada kita bahwa penyebab kerusakan dan kemaksiatan tidak hanya dari setan. Melainkan aksi manusia itu sendiri yang dimotori oleh hawa nafsunya. Pendapat ini juga bisa dikelompokan pemahaman yang literalis atau hakiki. Karena setan benar-benar terbelenggu maka hawa nafsulah yang masih berpotensi mendorong melakukan maksiat.

Dan yang juga tak kalah menarik adalah penjelasan yang tertuang dalam Fathul bari'. Syekh Ibnu Hajar al-asqolani memberikan closing statement dalam menanggapi permasalahan di atas dengan apik. Beliau memaparkan; yang jelas kemaksiatan di bulan ramadhan itu lebih sedikit dibandingkan bulan lainnya. Dan terbelenggunya seluruh setan pun tidak bisa menjanjikan sirnanya keburukan dan kemaksiatan. Karena ada faktor-faktor lain yang bisa menjadi penyebab adanya kemaksiatan dan keburukan, seperti hawa nafsu yang jelek, kebiasaan yang tercela, dan manusia yang memiliki sifat setan.

Begitulah penjelasan makna terbelenggunya setan di bulan ramadhan menurut orang yang memiliki kapabilitas mumpuni untuk menafsirkannya. Dan masih ada lagi pemahaman lain mengenai hadis diatas yang akan panjang bila diteruskan. Yang lebih penting adalah kita selalu berupaya untuk menghindari maksiat. Agar puasa kita semakin berkualitas.


Penulis : Lutful Hakim