Dokumen LPM Tanpa Titik

Rabu tanggal 3 Maret 2021 Lemabaga Pers Mahasiswa Tanpa Titik melaksanakan kegiatan Diskusi Rutinan yang bertema “Mengeja Bahasa Membaca Semesta”, dan dipantik langsung oleh dulur tua Khusnul Aqib. Sebelum forum diskusi dimulai, dulur-dulur membiasakan menghadiahkan surat Al-Fatihah kepada nabi Muhammad SAW, keluarganya, keturunannya, dan beserta para sahabatnya. Tak ketinggalan pula hadiah Al-Fatihah kepada para ulama, kepada guru-guru kita yang menyalurkan ilmunya kepada kita, dan tak lupa kepada diri kita sendiri, akal kita, hati kita, badan kita, dan kepada orang yang kita cintai mapun yang mencintai kita, dan kepada orang yang kita sayangi dan yang menyayangi kita, wabil khusus kepada kedua orang tua kita. Kemudian membiasakan melantunkan lagu Indonesia Raya stanza 1 sampai 3, dipandu oleh ­dulur Vickar.

Diskusi dimulai pada pukul 13.00 sampai dengan selesai. ­­Dulur Aqib menjelaskan beberapa poin yang harus dipahami ketika kita hendak menganalisis sesuatu kejadian, lebih tepatnya teks. Namun, beliau memantik dengan sebuah pertanyaan “dahulu mana antara makna dan bahasa?” tanya Aqib.

Dulur-dulur LPM TANTIK (Tanpa Titik) meresponnya dengan baik, saling lempar pandangan dengan rasionalitas mereka masing-masing. “Ketika kita ingin menganalisis sesuatu, kita harus mengerti terlebih dahulu; tanda, penanda, dan yang ditanda. Sederhanya begitu. Karena bagaimanapun tulisan seseorang tak lepas dari bagaimana keadaan atau latarbelakang seorang tersebut. Maka dari itu, perlu bagi temen-temen LPM mempelajarinya. Apa itu Semiotik, apa itu Semantik, apa itu Pragmatik, dan apa itu Hermeneutik?. Hehe, bagaimanapun LPM sebagai pencari data jangan melupakan kevaliditasan data tersebut.” Ujar Aqib.

Ilmu Semiotika atau ilmu ketandaan pertama kali digagas oleh tokoh yang bernama Ferdinand De Saussure. Dalam tradisi Saussurean disebut semiologi adalah studi tentang makna keputusan. Ini termasuk studi tentang tanda-tanda dan proses penandaan.

“Pragmatik adalah makna yang melekat dalam simbol” jelas Aqib. Sebuah Mawar (simbol) adalah Bunga (makna). Spidol (simbol) yaitu alat untuk menulis (makna). Apa yang diistilahkan dalam KBBI itu biasanya menggunakan Pragmatik. Makna-makna yang sesuai dengan penggunan simbol itu sendiri.

Berbeda dengan Semantik, “Semantik adalah makna aslinya berpindah ke makna yang lain.” Jelas Aqib. Bisa dikatakan Semantik sama dengan sastra. Mengutip judul lagunya Tip-x yaitu Mawar Hitam. “Menurut kalian apa itu maknanya Mawar Hitam di lagunya Tip-x?” tanya Aqib ke Forum. Ada yang menjawab keputusaan, penderitaan, dan ada pula yang menjawab harapan yang pupus. “Padahal ketika kita meliihat simbol Mawar Hitam sesuai Pragmatiknya adalah bunga mawar yang berwarna hitam. Namun yang dimaksud dari Mawar hitam disitu bukan makna pragmatik, melainkan semantiknya. Mungkin keputusasaan, atau lainnya. Itulah Semantik.” Jelas Aqib.

Perlu digaris bawahi, setiap manusia memiliki maksud atau tujuan. Dan ketika manusia itu ingin menyampaikan tujuan tersebut perlu adanya simbol. Agar maksud atau tujuan manusia itu dapat diterima oleh manusia lainnya. Dan simbol yang ada bedasarkan kesepakatan komunitas, atau wilayah tertentu. Misalkan, simbol alat untuk menulis Pensil di Tegal berbeda nama simbol alat untuk menulis di brebes; Potlot (misal).

 

 

“Lanjut Hermeneutik. Hermeneutik cangkupannya lebih global dari Semantik, dan Pragmatik. Kajian Hermeneutik itu sebelum kita mengetahui sesuatu harus melihat tiga poin, yaitu: Horison Subyek, Horison Obyek, dan Simbol itu sendiri, atau teks.” Jelas Aqib.

1.       Horison Subyek (Cakrawala si Subyek)

Adalah manusia yang bertabrakan langsung dengan realita. Dengan contoh ungkapan seseorang, atau tulisannya itu tidak bisa lepas dari pengalaman si Subyek itu sendiri. Dengan mengambil Amsal simbol emot yang ada di WA. Seorang laki-laki (subyek) mengirimkan emot tertawa kepada temannya. Kemudian apakah kita langsung menganggap bahwa ia sedang tertawa. Tentunya tidak. Karena itu hanya simbol, atau dengan alasan yang lain hanya sekadar guyon seorang laki-laki tersebut mengirim simbol tertawa, tanpa melibatkan emosionalnya. Maka dari itu si Obyek Horison harus mengetahui terlebih dahulu latar belakang (keadaan) si Subyek sebelum menilai simbol yang disajikan olehnya.

2.       Horison Obyek

Adalah manusia yang menangkap simbol. Dan mungkin sekali akan berbeda perspektif dalam menangkap simbol yang sama. Karena perspektif terbentuk oleh intuisi, atau pengalaman personal.

Ada 3 poin yang mampu mempengaruhi perspektif individu, yaitu;

1.       Apa yang ia baca

2.       Apa yang ia lihat

3.       Apa yang ia rasakan

“Mas, saya belum paham perbedaan antara semantik dan hermeneutik?” tanya Bunga salah satu dulur LPM kepada Aqib.

“hermeneutik adalah cara menganalisis bahasa dengan pendekatan Pragmatik dan Semantik.” Jawab Aqib.

Ada juga yang dinamakan Dromologi. Dromos artinya kecepatan, dan logos artinya pengetahuaan. Di era Post Modern, atau Post Truth ini, dimana manusia berlomba-lomba dalam kecepatan mempublish suatu berita, atau info. Nantinya, siapa yang paling cepat dia yang menang, dan siapa yang menang dia yang berkuasa. Dalam artian lain, kecepatan mempublish sesuatu, seakan-akan sangat dibutuhkan di era Post truth ini. Melihat logaritma suatu kebenaran dalam media sosial yang ada adalah siapa yang paling banyak viewnya, dan mempublish ulang info tersebut. Pola ini pertama diramaikan oleh presiden Amerika pada tahun 2016 lalu, saat pemilu di Amerika.

Adapula Implosi. Implosi dengan arti lain adalah ledakan. “Ketika manusia saling berlomba dalam kecepatan mempublish sesuatu di media sosial yang akan terjadi adalah Implosi, atau ledakan. Setelah ledakan (Implosi) terjadi, maka selanjutnya adalah Fantasmagoria; yaitu kekaburan dalam kebenaran.” Ujar Aqib.

Waktu telah menyapa dulur-dulur LPM untuk menyelesaikan diskusi rutinan hari itu. Ditutup dengan Closing Statemen Dadi wong aja kagetan misal ana hal sng anyar.” Ungkap Heri.

Ditutup dengan penarikan kesimpulan, dan dilanjut dengan membaca sholawat nabi Maula Ya Sholli Wasallimda…

Penulis : Heri