ilustration by : Pngwing.com





Perempuan dan Pendidikan

Perempuan dan pendidikan merupakan dua elemen yang berbeda akan tetapi memiliki kesinambungan. Sistem pendidikan tidak dapat dikatakan sebagai esensi pendidikan apabila tidak melibatkan perempuan didalamnya, karena perempuan berperan dan turut serta menjadi publik figur dalam pendidikan.  

Dalam realita kehidupan masyarakat, perempuan sering kali dipandang sebelah mata. Dikatakan bahwa pendidikan untuk perempuan tidak bersifat fundamental melainkan hanya sebatas formalitas belaka. Bahkan banyak pandangan mengatakan bahwa pendidikan untuk perempuan tidak perlu diberikan sama sekali, karena tugas perempuan hanya di kasur, di dapur, dan di sumur, perempuan seakan terikat dengan adat istiadat yang ada. Hal ini menjadi problematika yang banyak diperbincangkan masyarakat.

Sama halnya dengan pemikiran Barat mengenai pentingnya pendidikan bagi perempuan, di Indonesia sendiri pun terdapat pegiat perempuan yang dengan semangat memperjuangkan hak-hak dan emansipasi wanta agar mendapat pendidikan yang layak, juga mendapatkan keseteraan dari beberapa hal. Beliau adalah R.A Kartini. Kartini menuangkan gagasan dan kumpulan suratnya dalam sebuah buku yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Buku tersebut dapat dijadikan sebagai alternatif pemikiran tentang pentingnya pendidikan untuk perempuan, dan hal yang menjadi salah satu substansi pokoknya yaitu emansipasi wanita atau upaya untuk mendapatkan kesetaraan dalam pendidikan.  

“Jika anda mendidik seorang laki-laki berarti anda telah mendidik seorang person, tapi bila anda mendidik seorang perempuan berarti anda telah mendidik seluruh anggota keluarga.”

Perempuan memiliki peranan yang penting dalam kehidupan berkeluarga. Sebab di dalam keluarga perempuan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Untuk itu, perlunya bekal pendidikan yang cukup mumpuni untuk mencapainya. Ada pepatah mengatakan “Anak yang cerdas terlahir dari ibu yang cerdas” maka dari itu pendidikan bagi seorang perempuan sangat penting. Hal tersebut tentu sangat berpengaruh dalam pola tatanan pendidikan serta prinsip-prinsip dalam berkeluarga. Sebagai perempuan yang kodratnya menjadi seorang ibu, maka perempuan memiliki andil yang besar terhadap tumbuh dan berkembangnya potensi anak.

R.A Kartini menjadi terobosan dalam mengajarkan pentingnya pendidikan bagi perempuan. Emansipasi yang telah diperjuangkannya menjadikan pemikiran-pemikiran lebih maju, bahwasannya pendidikan amat sangatlah dibutuhkan bagi para perempuan. Menurut Kartini, pendidikan bukan hanya mengasah soal rasa dan akal saja, tetapi juga berkaitan dengan budi pekerti, sebab jika hanya mengandalkan kecerdasan saja, maka dapat menimbulkan rasa superioritas dan rendahnya sikap kemanusiaan. Jadi diharapkan untuk memiliki intelektual yang tinggi disertai budi pekerti yang luhur serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam realita sosial kesadaran akan pendidikan bagi perempuan masih tergolong rendah. Ada beberapa hal yang melatarbelakanginya seperti masalah ekonomi, perspektif mengenai bias gender, faktor ekstern dan intern, dll. Permasalahan ekonomi menjadi hal yang tabu di Indonesia, banyak di kalangan masyarakat khususnya perempuan yang putus sekolah dikarenakan kondisi ekonomi yang sangat minim. Hingga akhirya mereka memilih jalan untuk mencari pekerjaan atau bahkan menikah. Permasalahan lain yaitu perspektif atau pandangan mereka mengenai bias gender, mereka beranggapan bahwa seorang perempuan yang mengenyam pendidikan tinggi dianggap hal tabu atau bahkan hal buruk yang menyalahi kodrat dari seorang wanita serta bertentangan dengan gender. Misalnya, melirik kisah Malala Yousafzai yang mati-matian berjuang supaya perempuan di Pakistan mengenyam bangku pendidikan di tengah kekangan Taliban. Atau kisah dari Margdarshi dari India dan perempun lain di Sub-Sahara, Afrika, yang sempat berhenti sekolah hanya karena kepelikan yang dialaminya saat menstruasi, olok-olok yang lahir dari tabu menstruasi, ditambah sulitnya akses mendapatkan pembalut membuat mereka akhirnya mengorbankan pendidikan. Dan bisa kita lihat pula dalam budaya jawa, ada istilah mengatakan bahwa “Lebih baik menikah di usia dini daripada menjadi perawan tua karena mementingkan studi”. Hal ini dikarenakan mereka beranggapan bahwa studi atau belajar dan rumah tangga merupakan dua hal yang bertentangan. Di samping itu, perempuan juga tidak diberikan kesetaraan dalam upah kerja dengan beralasan perbedaan tingkat produktivitas antara perempuan dan laki-laki, serta banyak hal lain yang melatarbelakangi masalah tersebut.

Problematika – problematika yang telah dijelaskan di atas menjadi hambatan-hambatan dalam kehidupan sosial yang terjadi. Maka dalam hal ini penekanannya bukan hanya faktor intern saja, tetapi juga faktor ekstern karena bisa berasal dari budaya ataupun adat istiadat yang ada di masyarakat. Melihat hal tersebut tentunya dalam praktik di kehidupan sosial, harapan-harapan serta perjuangan Kartini ternyata belum tercapai dengan maksimal. Untuk itu, sebagai generasi bangsa maka kita khususnya kaum perempuan diharapkan untuk meraih pendidikan yang tinggi, memperjuangkan emansipasi wanita, juga turut serta dalam menyejahterakan kaum perempuan.

Penulis : Faa