“Kapan berakhirnya pandemi COVID-19?”

Pertanyaan yang terus saja muncul dalam fikiran dan angan. Entah sampai kapan berakhir, angka kasus COVID-19 tak kunjung juga mengalami penurunan, justru peningkatanlah yang terus terjadi. Pandemi ini memaksa kita untuk merubah pola tatanan kehidupan, mulai dari memakai masker, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan berbagai jenis kegiatan lain yang turut mengalami imbasnya.

Kondisi tersebut juga berimbas pada bidang pendidikan. Siapa yang tak merasakan?

Pasti kita semua merasakan efek dari adanya COVID-19 ini. Apalagi dalam hal pembelajaran, akibat adanya pandemi kita dituntut untuk belajar dari rumah, atau sering kita sebut PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) atau daring. Dimana jauh sebelum adanya pandemi, pembelajaran banyak dilakukan dengan tatap muka. COVID-19 ini menjadikan pelaku pendidikan dari TK, SD, SMP, SMA bahkan sampai perguruan tinggi merasakan lika-liku, serta kekurangan dan kelebihan dalam sistem yang digunakan tersebut.

Begitupun dengan kuliah online atau sebut saja KULON. Sebagai mahasiswa, tentu banyak merasakan gundah gulana, resah dan gelisah akibat adanya KULON. Kebijakan ini tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Dari salah satu sisi kelebihannya adalah KULON dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun, kita dapat menghemat waktu serta tenaga karena tidak perlu mendatangi kampus atau tempat belajar tersebut. Namun tentu disisi lain juga terdapat banyak kekurangan, seperti kurang efektifitasnya perkuliahan, sistem yang keliru antara dosen dan mahasiswa, kurangnya materi yang didapatkan, pembelajaran tidak maksimal, sulitnya mengakses informasi karena jaringan yang tidak stabil di berbagai tempat, sampai penggunaan paket data internet yang dapat dikatakan boros.

Saat gencar-gencarnya KULON, baik mahasiswa maupun dosen pengampu sangat antusias dalam pelaksanaannya. Mereka melaksanakan dengan sesuai jadwal pembelajaran dan menerapkannya secara teratur. Namun sayang, lambat laun semuanya tidak lagi sama. KULON dianggap tidak lagi efektif. Banyak kekeliruan atau ketidakcocokan yang terjadi.

Contohnya saja, saat tertera jadwal kuliah namun dosen pengampu tidak hadir dalam KULON bahkan tidak memantau jalannya perkuliahan, mahasiswa hanya disodorkan daftar absen lalu mengisi tanpa diberi materi. Memang, mahasiswa bukanlah siswa lagi, mereka dituntut untuk kreatif mencari materi sendiri, namun ada baiknya di dalamnya pembelajaran tersebut harus  ada fasilitator.  Contoh lain, dosen pengampu yang semena-mena mengganti jadwal perkuliahan tanpa ada kesepakatan antara dua belah pihak. Dalam hal ini, terjadi bentrok antara satu mata kuliah dengan mata kuliah lainnya. Atau hal lain, mahasiswa hanya diberi tugas yang menumpuk, tanpa ada penjabaran materi yang lebih jelas. Sedangkan dalam hal ini mahasiswa belum tahu menahu mengenai materi terkait. Kemudian banyak terjadi, terjadwalkan KULON tapi pada kenyataannya kosong, tidak ada perkuliahan atau pembelajaran. Ada pula, mahasiswa yang diberi tugas dalam sekian menit namun terkendala jaringan hingga mengakibatkan mahasiswa tersebut tidak memperoleh nilai. Beberapa hal lain yang dirasa tidak sesuai juga banyak terjadi, tanpa harus disebutkan satu persatu.

Jadi bagaimana? Mau dikatakan KULON tapi kosong dan libur, mau dikatakan libur labelnya KULON.

Dalam hal ini diperlukan adanya keserasian dan kerjasama antara pihak-pihak yang terkait. Beberapa pihak harus saling mengerti dan memahami antara kondisi maupun situasi dan kebutuhan masing-masing. Dosen diharapkan mampu menjalankan tugas dan kewajibannya dalam perkuliahan walaupun dilaksanakan dengan sistem KULON, begitupun mahasiswa. Selain itu, harapannya dosen dapat menjadi fasilitator yang baik  bagi mahasiswa yang kurang paham akan materi yang disampaikan sehingga tidak terjadi kesalahpahaman.

Penulis : Faa

Editor : Salisa