pict: stocksnap.io

Rabu, (6/11) – Seperti biasa sedulur LPM Tanpa Titik mengadakan rutinitas ngaji bareng atau diskusi. Yakni setiap dua pekan sekali. Pada rabu yang tak sendu, karena matahari terlalu berseri. Acara diawali dengan menyanyikan dan merenungkan lagu Indonesia Raya. Mulai dari Stanza I, II dan III dilanjut dengan pembacaan sebuah muqoddimah pembahasan yang akan dikaji bersama.

Diskusi dimulai sekitar pukul 13.00 WIB. Dengan pemantik yang unik menyebalkan; Mas Iqbal. Muqoddimah pun dibaca satu persatu oleh para pelaku ngaji bareng. Melingkar untuk bergantian membaca dan mendengarkan per-paragraf sebuah kalimat. Setelah itu, pembedahan tema, dari pandangan umum, lalu per individualnya.

 “Apa yang dimaksud dunia? Sejauh mana batasan Dunia?” – “Maksud dari tema Agama Dunia sendiri apa dalam sudut pandang penulis?’’ lalu “Apa itu Agama?” beberapa pertanyaan pemantik terlontarkan.

Iqbal, pemantik sekaligus penulis muqoddimah mengawali, “Agama dunia adalah kecendrungan Manusia zaman sekarang dalam melakukan segala sesuatu untuk dirinya sendiri, Manusia memakai baju yang dinamakan Agama tapi tujuannya untuk dirinya sendiri.”

“Kalau di ibaratkan agama adalah sebuah kendaraan, berarti agama memiliki tujuan dongs? Lalu tujuannya apa?”

“Tujuan dari agama adalah menuhankan Tuhan atau yang sering kita sebut Allah. Lah menyambung tema, agama dunia yang dimaksudkan mungkin meng-agamakan sesuatu yang bisa mengarah kepada penyembahan selain Allah. Tapi, sebelum mengarah ke Tuhan, kira-kira pembanding kata dunia itu apa?”

“Sementara dunia lebih sering dibandingkan dengan akhirat, bumi dengan langit kalau kita mau mengintip sedikit ayat Al-Qur’an ataupun hadits.” Aqib ikut menambah perspektif.

“Agama kalau dalam arti itu banyak, bisa kekuasaan; jalanSedangkan dunia itu ada lebih banyaknya digambarkan sesuatu yang bisa menjadikan kehinaan bagi manusia. Seperti halnya sebuah sabda yang kurang lebih “Mencintai Dunia adalah awal dari sebuah penderitaan” – walapun disisi lain ada Ulama berkata “Dunia adalah ladang akhirat”. Nah, disini menarik. Sekarang kalau kita kupasnya batasan dari dunia sendiri gimana?” Ulum ikut menabung perspektif lain.

Hanifah merespon, “ Dunia adalah suatu keberadaan yang kita ada di dalamnya. Yaitu bumi atau sebuah alam yang kita pijak dari awal kita dilahirkan sampai kematian.”

Alfina sedikit menambah tutur, “Dunia adalah segala kegiatan yang tidak melibatkan ukhrawi(kesadaran akhirat) dan Agama adalah segala kegiatan yang menjauhkan dari dari kecendrungan keduniawian.”

 Keadaan semakin meng-embuhkan disela senyapnya diskusi, salah seorang merespon “Surga itu efek samping” spontan semuanya tertawa lepas. Suasana pun kembali adem.

Lagi-lagi, Aqib memicu diskusi “Lha kalau sholat itu gimana? Bukankah itu bentuk dari keduniawian?”

“Pertama, Agama tujuan atau bukan? Kalau bukan tujuannya apa?”

“Dunia itu apa? Dunia kalo menurut mbak hanifah adalah rentang waktu, alam dimulai dari kelahiran sampai kematian, sehingga perbandingan katanya bagi mereka yang mati adalah meninggal dunia.”

“Jika dunia dipahami dalam rentang waktu dan siklus alam yang demikian, berarti semuanya pada masa itu adalah dunia. Namun dunia juga bisa dipahami sebagai laku atau perilaku, semisal makan, tidur, berdagang itu perilaku dunia. Tapi bisa menjadi akhirat, dengan niat yang baik sesuai prosedural kepada siapa dan untuk apa ia makan, tidur dan berdagang,”

“Begitu juga sebaliknya. Amal yang terlihat akhirat seperti sholat, dzikir, puasa, itu bisa menjadi dunia jika orientasinya kembali bukan pada Tuhan, tapi kepada dunia itu sendiri, seperti kepentingan-kepentingan nafsu dan yang lain.”

“Pembedanya adalah niat dan orientasi,” Tegasnya.

“Dunia adalah akar kata dari bahasa arab yang berarti dana adna, bisa berarti bawah, asor, bisa juga dani’ah yang berarti hina dan rendah,”

“Dunia bisa menjadi ladang untuk kehidupan selanjutnya seperti “addunya mazro’atul akhirot” dunia adalah ladang kita menanam untuk mendapatkan hasil di akhirat. Namun dunia itu juga mal’un di laknat, yang seandainya seseorang “kedunyan,” ia bisa sampai terlaknat. Atau addunya jifah bahwa dunia itu bangkai, berarti bisa mengantarkan seseorang pada kesia-siaan yang tidak ada harganya sama sekali,”

“Semuanya tergantung orientasi ketika ia hidup di alam yang bernama dunia ini, kemana niatnya ia berlabuh, Allah dan Rasulullah atau kepada kepentingan dunia yang berarti selain Allah dan Rasulullah. Maiyyatullah dan Maiyyaturrosul.”

Oleh : Moch. Azam Khoeruman