Pict : Wattpad

 

“Cinta itu buta”, benar atau tidak?

Katanya, jika sudah cinta apa pun akan ia lakukan, bahkan tak peduli walau dirinya tersakiti. Generasi milenial pasti pernah mendengar istilah bucin atau budak cinta. Tentu kita sering menyebut istilah bucin tersebut, namun apa sih bucin itu?

Bucin artinya orang yang rela melakukan apa saja untuk pasanganya tanpa perasaan dan logika. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bucin ini tidak ada artinya sehingga hanya dikategorikan sebagai bahasa prokem. Bucin termasuk dalam bahasa gaul yang sering kita gaungkan tanpa kita sadari, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Sejak hadirnya istilah bucin, banyak pasangan yang membatasi perhatianya hanya karena takut dibilang bucin. Padahal memberikan kasih sayang pada hubungan itu wajib loh.  Kenapa harus bucin? Kalau semuanya kita nilai bucin, lalu bagaimana dengan sebuah pengorbanan? atau bahkan sebuah ketulusan? Apa bedanya?

Ada beberapa tanggapan orang mengenai bucin itu sendiri, ternyata mereka memiliki pandangan yang berbeda. Dari pelaku bucin menuturkan bahwa “Bucin itu harus, karena itu menujukan rasa sayang kita dengan serius kepada pasangan. Tidak perlu pedulikan apa kata orang.” Namun tidak dengan kubu anti bucin, ia menuturkan bahwa “Tidak perlu alay dalam menjalani suatu hubungan, biasa saja lah” dan kaum biasa saja juga menuturkan bahwa “Apapun yang dilakukannya itu terserah, bodoamat, karena baginya cara seseorang menunjukan kasih sayangnya itu berbeda-beda.”

Dari beberapa tanggapan tersebut, sebenarnya bagaimana sih bucin menurut pandangan psikolog itu sendiri? Menurut Sigmund Freud bucin artinya seseorang yang sedang mengidealisasikan seseorang baik sadar atau tidak. Bucin sifatnya tidak harus memiliki, rela berkorban meskipun orang yang dicintainya memilih orang lain. Bucin itu wajar untuk seseorang yang baru menjalani hubungan. Istilah Bucin tidak hanya dalam ranah percintaan saja, tapi bisa juga bucin akan politik, bucin akan K-POP,dll.

Lalu adakah dampak negatif bagi seseorang yang bucin?. Sigmund Freud menjelaskan dampak negatif bucin yaitu :

  1. Sulit Mencapai Tujuan

Target tertentu dalam hidup bisa terlupakan akibat terlalu fokus pada percintaan

2. Melukai Psikologis

Bucin selalu bisa mengeluarkan pembenaran atas keinginan yang diminta oleh orang yang dicintainya, ia tidak sadar jika hal itu akan melukainya dikemudian hari.

3. Mendapat Kritik dari Lingkungan

Orang lain dengan logika yang masih berjalan pasti melihat tindakan bucin ini tidak masuk akal. Dari situlah ia mendapat kritikan, bahkan dirundung. Namun tetap aja mereka tidak merasa dan perduli.

Lalu, bagaimana bucin dalam pandangan Islam itu sendiri? Kita semua faham dalam pandangan Islam bucin atau budak cinta itu sama halnya dengan budak. Dimana budak diartikan sebagai orang yang derajatnya rendah dan harus patuh pada apapun yang diperintahkan tuanya. Perbudakan yang sewenang-wenang diharamkan dalam Islam. Padahal Islam telah menjadi agama kita dari sejak lahir, lantas mengapa kita masih merendahkan diri dengan manjadi budak cinta dari orang lain?.

Ada beberapa tips mengurangi bucin menurut pandangan Islam :

  1. Selalu mengingat Allah
  2. Sholat
  3. Memelihara pandangan agar kita terhindar dari godaan yang datang melalui pandangan syahwat
  4. Jangan mencintai berlebihan sebab sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik.
  5. Menanamkan kesadaran bahwa cinta tertinggi hanya untuk Allah SWT
  6. Cinta dan kebahagiaan dunia bersifat sementara

Bucin boleh saja, namun dalam ranah yang benar dan tidak berlebihan karena manusia bukanlah sosok yang bisa kita agungkan. Hanya Allah lah yang maha sempurna, mengidolakan seseorang boleh-boleh saja tapi ada batasnya. Maka, Jadilah  pribadi yang cerdas supaya tidak terjebak dalam lingkaran budak cinta.

Penulis : Yayi

Editor : Salisa