ilustrazhy


Pagi yang sejuk menghangat pada secangkir teh hari itu. Sepertinya, ada yang berbeda dari laki-laki yang senang memerhati sekitarnya. Ya, dialah Jono. Akhir-akhir ini ada yang mengganjal pada raut wajahnya. Ia terpikir tentang kampusnya. Sebuah kampus yang mencetak Maha dibalik siswa. Tak sedikit, yang menyebutnya agent of change. Sebuah agen perubahan. Namun, perubahan yang seperti apa?  Ruang kebebasan berpikir? Lomba menang-kalah akan jabatan? Atau... struktual dan kekerdilan memandang satu sama lain? Jono berusaha terus membaca.

Jono (masih) seorang mahasiswa. Sebelum berangkat ke kampus, Sekar telah menunggu di depan rumahnya. Tidak lain, karena searah, sekampus, dan sekelas dengannya. Gadis tinggi dengan tatapan feminis dan sifatnya yang anggun membuat Jono terkadang bingung akan kedekatannya. Jono hanya mahasiswa biasa yang memanusiakan mahasiswa.

Suatu ketika, Sekar memiliki problematika dalam bidang birokrasi mahasiswa terkait PBAK yang tidak semestinya. Baik secara struktual dan lebih jahatnya dari pihak kepanitiaan tidak memiliki transparansi dana. Pun secara otorisasi memilih satu dua individual untuk terlibat dalam antusiasi, sedangkan ketua dari setiap ormawa  tidak diberitahu lebih dahulu. Seketika, Jono tak terima. “Ini kecacatan birokrasi atau birokrasi terpedaya oleh satu dua orang yang memang mengharapkan jabatan tidak dengan cara yang baik?” Gumamnya. Namun, sekritis apapun Jono sebelumnya, ia berusaha melihat jauh dulu dari peta permasalahannya. Lagi-lagi, Jono hanya mahasiswa biasa yang hanya ingin menjadi manusia.

 “Jon, ayo berangkat!” Ajak Sekar.

 “Eh sekar, dari tadi?”

 “Ndak, Cuma lama. Haha.” Canda Sekar.

“Halah kamu, sini aku yang nyetir!”

“Iya harus, kamu kan mahasiswa.” Ledeknya

“Aku manusia, kar, jangan aneh-aneh kamu. Mahasiswa tidak lain hanya sebingkis topeng. Mereka yang terjebak akan itu, tak akan menemukan warna pada game di dunia ini. Hahaha. Ini jadi jalan, gak?”

“Katanya Manusia, kok gitu aja nanya?”

Jalan dan kenangan kian pergi. Menghilang setiap sisi yang melekat pada ingatan. Tebing-tebing yang merobohkan. Perjalanan yang menghabiskan tenaga dan menuakan sel menjadikan perjalanan tak terasa. Sampailah mereka sambil bertutur cakap.

 “Jon, kamu tau ndak? Kenapa sampai sekarang belum ada titik tengah dalam birokrasi kampus?” Sekar membuka kembali dialog cemasnya.

 “Memang ada masalah apa sama birokrasi kar? Haha.” Tawa Jono, berpura-pura.

“Ya gitu, tidak memiliki kepercayaan sama ormawa manapun. Dalam arti, seolah-olah mahasiswa dijadikan pioner dalam permainan. Iya kalau permainannya sesuai peraturan.”

“Kadang... malah bermain curang.” Imbuhnya kesal.

“Haha. Analisismu tajam juga. Iya, setiap organisasi memiliki visi dan misinya. Apalagi birokrasi kampus, pasti juga memikirkan terkait akreditasi dan lainnya. Ya... walaupun itu juga konyol ketika berbicara akreditasi tapi mahasiswa sendiri dilupakan.”

“Dilupakan? Bukannya mereka selalu mengatas namakan mahasiswa terkait akreditasi?”

 “Iya pastinya, ini masuknya individual dari dosen yang ada pada birokrasi. Kar...kar, toh sesama dosen aja bisa berbeda perspektif.”

“Jangan lupakan konsep ini, ‘Apapun kebenaran-nya hanya bersifat sementara, namun mereka yang memiliki ketulusan dan kecerdasanlah yang akan hidup dalam hati regenerasi, adalah yang menjaga nilai bukan hanya suara dan melakukan keseharian yang ada’.” Imbuh Jono.

 “Menjaga nilai? Kamu kok halu, Jon?”

“Tanyakan saja ke dosen-dosen.”

 “Orang yang berstatment kamu Jon!”

 “Dan kamu yang menjadikanku berstatment seperti itu. Haha.”

 “Hahaha terserah kamu, dasar wong ndesa!”

 “Uwongnya relatif dan ndesanya harus.”

 “Alah kamu, Jon. Pasti ambigu!”

“Kamu aja yang suka ngurai sesuatu, mampus kau ditikam tanya. Haha.”

“Dan mampus kau ditikam keberadaan sifat kemanusiaan”

“Haha... siap Tuan Putri.”

“Tuan-nya salah, dan Putrinya benar”

“Halah sudah, Kar. Mana helm-mu? Sana masuk dulu!”

“Ciee perhatian.”

“Cah ngedan, udah sana gih!”

“Hahaha!” Tawa-nya sambil jalan.

Sekar dan Jono terlihat seperti pasangan oleh mahasiswa lainnya, bahkan dari para dosen. Namun nasib Jono tak terkira, hal tak terduga, bisa saja menimpanya. Karena kekritisannya, karena entah disebut apa, ia hanya senang mencoba memanusiakan manusia. Ia kembali membaca sekitarnya. Mempertanyakan tanya dan berusaha menemukan solusi terbaiknya. Kembali, karena ternyata, dalam problematika kasus  PBAK  ini rancu. 

Dibidik dari sisi tingkatan birokrasi, kampus masih saja ambigu, gugur menyelesaikan apa yang seharusnya dan selayaknya dilakukan. Peta dalam PBAK, ketua kepanitiaan dikuasai oleh dosen. Tidak sesuai Dikti dan mahasiswa hanya dijadikan boneka semata. Tanpa transparansi dan kesesuaian ditambah penyelenggaraan yang dadakan. Bahkan, DEMA dan UKM tidak diikutsertakan. Apalagi ternyata WAREK III yang ditugaskan untuk menata mahasiswa, tidak antusiasi dengan Birokrat Mahasiswa.

Jono tak diam. Ia langsung mengambil alih ketimpangan itu. Ia meminta musyawarah seluruh ORMAWA dan mahasiswa yang mau ikut antusias. Satu persatu data terkumpul dan kesepakatan pun dimulai dengan melihat ketimpangan sinergitas yang ada.

“Pertama, secara data ketidaksesuai prosedural dan tidak sesuaian pelaksanaan PBAK 2020 dengan keputusan DIRJEN Pendis Nomor. 4962 Tahun 2016 tentang Pedoman Umum PBAK, karena DEMA tidak dilibatkan.” Jono mulai bersuara.

“Kedua, kesewenang-wenangan menunjuk mahasiswa yang pasif daripada aktif. Ketiga, membuat peringatan dan formulasi baru untuk menemukan titik koordinat di masing-masing. Baik ORMAWA, KOMTING maupun birokrat kampus agar ikut serta dalam MUBES(Musyawarah Besar). Dimana dari setiap organisas atau perwakilannya, memberanikan diri untuk menyampaikan hak dan bersama-sama menyepakati serta mempertanggung jawabkan apa yang dimusyawarahkan dengan bentuk jangka pendek dan jangka pandang.” Detik itu pula Jono menjadi Koordinator demontrasi. Sesuai apa yang memang bisa dilakukannya, tanpa perlu menjabat ataupun mencari massa. Dan hanya beberapa kawannya saja yang membersamainya dalam melakukan aksinya.

***

Waktu menggulirkan ingatan dan pandangan. Pandangan manusia akan senantiasa berpotensi berubah ruangnya, namun tidak dengan hati yang percaya nilai dan makna lebih utama.

“Sekarang sok aktivis yang mencoba memberi pandangan, sedangkan ndak mau jadi badan ormawa apapun! Kamu harus masuk dong!” Ledek Sekar.

“Ndak harus jadi ormawa untuk bersuara, Kar.”

“Iya. Tapi lewat badan ormawa kamu akan lebih diakui dan berpengaruh Jon!”

“Aku tidak butuh pengakuan, Kar. Yang penting bagaimana saling menyadari saat ketimpangan terjadi, minimal kita tak berdiam diri. Pengaruh atau tidak idealis Maha Siswa tak akan mati walau diterjang sistem oligarki dan ditikam sepi. ”

“Terserahlah, Jon! Dasar cowo absurd!”

“Cowonya benar, Mmmm absurdnya perlu difikirkan haha”

“Ini serius Jono.. Nanti kalau ada apa-apa sama kamu gimana, Jon?” Kesal sekar dalam kekhawatirannya

"Ya pasti ada apa-apa lah. Toh masih diperut bumi juga”

"Buka gitu Jon". Kesalnya lagi

"Ya apa-apanya yang gimana, kamu aja engga jelas?!"

“Ya... misal ada yang merasa terancam. Terus kamu dimusuhin? Atau jadi bidik kekesalan orang tertentu, mungkin? Hati-hati, Jon!”

“Ciee perhatian.. Takut engga ada temenya lagi yaa. Haha".Ledek Jono

"Sudah lah, Kamu pasti kaya gini kalau terlibat dalam sebuah permasalahan. Engga mau cerita apa yang sebenarnya" Sekar mulai meneteskan air matanya

"Kar, Aku tau apa yang kamu khawatirkan, namun apa yang kulakukan bukan urusanmu biar nanti tanah dan tembok-tembok ini menceritakanya dan biarkan bendera merah putih yang dulu kutancapkan menulisnya. Dan Kar... Ini semua karena cinta.." Tatap Jono dengan serius " Dan oh iyah, terimakasih sudah mengkawatirkanku ya Tuan Putri.” Lanjut Jono dengan mengelus-elus kerudung Sekar

“Halah... Yasudah terserahmu Jon!!”

***

Beberapa minggu kemudian, sebuah kabar datang. Namun, nasib Jono tak terkira, hal tak terduga, kini menimpanya. Karena kekritisannya, karena entah disebut apa, ia hanya senang mencoba memanusiakan manusia. Ia tetap kembali membaca sekitarnya.

“Kamu lihat Jono? Kok gak ada di kampus?!” Tanya Sekar pada salah seorang laki-laki yang dikenalnya sebagai sahabat Jono.

“Gak tau nih, nomornya ndak aktif. Kamu yang sering berangkat bareng, masa ndak tau?” Jawabnya heran.

“Apa benar Jono dikeluarkan?” Imbuh laki-laki sahabat Jono itu.

Oleh: M. Azam Khoeruman