Dialog Birokat Kampus

Sarana dan Prasarana IBN Tegal

Dokumentasi Panitia Pelaksana

 

Dialog Birokrat Kampus mengenai Sarana dan Prasarana Institut Agama Islam Bakti Negara Tegal dilaksanakan pada hari Senin, 10 Oktober 2022 di aula IBN Tegal. Adapun dialog ini dihadiri oleh jajaran rektor yaitu WAREK I, WAREK II, dan WAREK III, dosen-dosen IBN, perwakilan UKM, SEMA, DEMA, KOMTING dan HMPS, serta mahasiswa IBN Tegal.

Audiensi tersebut berawal dari keresahan mahasiswa tentang fasilitas kampus yang kurang memadai, Dengan ini mahasiswa menyuarakan aspirasi mereka terhadap sarana dan prasarana yang harusnya dapat di penuhi oleh pihak kampus.

Berikut tuntutn dari para mahasiswa :

1.      Adanya Wifi Tetapi tidak tersedia disetiap ruangan, sehingga mahasiswa tidak leluasa menggunakan wifi.

2.      Beberapa Proyektor tidak berfungsi,

3.      Tragedi kebocoran yang terdapat di lorong FITK.

4.     Tidak tersediannya pengelolaan bak sampah.

5.      Kamar mandi yang terlihat kurang layak

 

Dengan ini rektorat menjawab tentang:

1.      Fasilitas untuk kelas. “Insyaallah segera direalisasikan para wakil  rektor siap menyampaikan keyayasan,” ujar Saidin selaku Wakil Rektor II

2.      Proyektor. " untuk biaya perbaikan proyektor membutuhkan dana 12.600.000,- dan memang ada beberapa proyektor yang belum diperbaiki"

3.      Kipas angin. "Insya allah akan segera direalisasikan"


sedangkan untuk biaya akreditasi satu prodi membutuhkan 100.000.000,

Mustofa juga ikut menyampaikan aspirasinya

“Meminta kepastian waktu realisasinya sebelum lengser” Ucapnya

Tuntutan ini akan diserahkan kepada penggantinya, dan wajib dilaksanakan.

Dari pihak tukang Rohadi menerangkan bahwasannya Wakil Rektor II, Drs. H. M. Saidin, MSI. sudah menyampaikan kepada pihak yang ditugasi, namun  belum ada laporan lanjutan.

Beliau juga menyatakan kesiapannya untuk melaporkan tuntutannya kepada pihak yayasan.

DEMA juga mengajukan fakta integritas yang ditolak untuk ditandatangani oleh Rektor dan Warek II

Rektor tidak menerimanya dengan catatan  kampus ini bukan dunia politik jadi tidak harus ada catatan.  Janjinya itu mau disepakati kapannya, beliau berkata cukup apa adanya, tidak ada paksaan. 

“Masa iya mahasiswa tidak percaya dengan dosen?”

 "tadi acaranya cuman membacakan trus sudah , nanti iya saya realisasikan terus udah pulang" ujar zidni peserta dialog.

"warek cuman baca itu ya, nanti akan di realisasikan cuman tidak semua loh jadi urut. Dari talang dulu terus wifi yang penting di prioritaskan itu wifi sama talang dulu itu doang, terus sudah cuman bilang di realisasikan tapi gak tau kapan." ujar fia peserta dialog.

" Disana kan tidak memberi tanda tangan karena, orang mahasiswa aja tidak bayar juga di biarkan. Saya mau bilang tapi takutnya di kira sudah bayar gitu." Ujar peserta dialog

"maksudnya gini loh mahasiswa yang belum bayar itu siapa? sekarang angkatan kita udah  bayar siakad semua, mau buka KHS aja harus bayar, mau ngisi KRS harus bayar kenapa di omongin gitu terus. Banyak loh di belakang yang pada bilang dari mahasiswa itu banyak banget, saya duduk di kantin ketemu mahasiswa bilang begini dan begitu" Ujar peserta dialog

 Beberapa mahasiswa merasa aspirasinya dibungkam, karna saat Dialog pihak kendali di pegang birokrat kampus, dan yang diberi kesempatan berbicara hanyalah ketua DEMA, namun itu saja belum usai lalu sudah dibatasi, dengan berbagai macam alasan. Dan hanya diberi kesempatan untuk menulis yang katanya nanti bisa diberi ke Rektor dan jajarannya, namun entah apa bentuknya.

Kemudian terkait penandatanganan pakta integritas, Rektor tidak menyetujui dengan alasan mereka bukan bagian dari dunia plitik, dan mereka meminta kepercayaannya kepada mahasiswa.

Harapannya dengan diadakannya dialog ini, kedepannya bisa membangun kesadaraan dan kepekaan akan fasilitas di lingkungan kampus IBN agar dapat meniptakan kenyamanan dan keamanan belajar..

 

 

 

 

 

Penulis : Tim Redaksi

Editor : Maharani