Emosi dalam Psikologi



Kamis, 4 Agustus 2022 LPM Tanpa Titik kembali mengadakan diskusi rutinan seperti biasanya yang bertempat di sekre. Kali ini tema yang dibahas cukup menarik, yaitu Emosi dalam Psikologi. Acara dimulai sejak pukul 15.00 WIB, yang dimoderatori oleh dulur Malik dan dihadiri oleh beberapa dulur LPM.

Diawali dengan pembacaan muqoddimah secara bergilir oleh peserta diskusi, moderator kemudian sedikit menjelaskan isi dari muqoddimah tersebut. Ia mengatakan bahwa emosi berasal dari kata emotion dalam bahasa Prancis atau dalam bahasa Latin emovere yang artinya keluar. Secara etimologisnya emosi diartikan “bergerak keluar”. 

Emosi dalam psikologi meliputi semua jenis perasaan yang dialami seseorang, mulai dari perasaan marah, sedih, bahagia, takut, dan lainnya. Dalam diri setiap manusia memiliki karakter emosinya masing-masing dan juga pemicu tertentu yang berbeda. Selain itu, emosi memiliki peranan yang penting dalam kehidupan, karena dapat menunjukkan ekspresi diri dari seorang manusia dalam berinteraksi dengan kelompok sosialnya.

Kemudian muncul pertanyaan dari dulur amel. 

"Apakah emosi dan kepribadian sama? Lalu misalkan ada orang yang tempramental, itu termasuk emosi atau kepribadian?"

Menanggapi pertanyaan tersebut, dulur Ochi berpendapat bahwa emosi dan kepribadian adalah dua hal yang berbeda. Kepribadian berkaitan dengan sifat-sifat seseorang, sedangkan emosi merupakan reaksi atas peristiwa yang terjadi. 

"Tempramental itu termasuk kepribadian. Nah, nanti bentuk dari pengekspresian tempramental itu yang dinamakan emosi" Ucapnya.

"Ada tidak sih orang di dunia ini yang tidak mempunyai emosi?" Tanya dulur Malik.

"Ada, seseorang yang sudah meninggal." Jawab dulur Lutful diiringi gelak tawa peserta diskusi lainnya.

"Tidak ada. Semua manusia pasti mempunyai emosi, tapi dengan grade yang berbeda." Ucap dulur Syifa ikut menanggapi.

Menurutnya, orang akan melewati beberapa tahap atau fase dalam emosi. Yang pertama fase memberontak, tidak menerima emosi yang sedang dirasakannya. Kemudian fase menerima emosi tersebut, dan kembali ke fase memberontak. Dua fase tersebut bisa terulang beberapa kali. Sampai seseorang itu mungkin masuk ke fase depresi atau fase ke titik terendah. Setelah melewati fase itu, baru seseorang bisa merasakan ikhlas, dan emosinya kembali stabil.

"Lalu emosi itu muncul sejak kapan? Apakah seorang bayi juga sudah mempunyai emosi?" Tanya dulur Malik.

Dalam buku karangan Papalia; Olds; dan Feldman yang berjudul Human Development (1998), dituliskan bahwa tanda-tanda emosi yang pertama kali tampak adalah pada bayi yang baru lahir. Bayi yang baru lahir, menunjukkan dengan jelas bahwa mereka tidak senang, bahkan tidak nyaman. Bayi menangis kencang dan menggerakkan kaki dan tangan mereka serta mengakukan tubuhnya. Hal itu merupakan bentuk emosi yang diekspresikan oleh seorang bayi.

Lalu muncul kembali pertanyaan dari dulur Dian.

"Ketika sejak kecil seseorang selalu memendam emosi, dan beranjak dewasa ia malah kesulitan saat akan mengeluarkan emosinya. Bagaimana cara mengeluarkan emosi jika kasusnya seperti yang dijelaskan tadi?" Tanyanya.

"Sebenarnya tanpa disadari, ketika seseorang emosi dia sudah mengekspresikannya. Jadi ekspresi saat emosi kan banyak macam-macamnya. Ada ekspresi wajah, vokal, fisiologis, gesture, dan lain sebagainya. Misalkan orang tersebut sedih dan berkata dia tidak bisa menangis, itu bukan berarti dia kesulitan menunjukkan emosinya. Mungkin dia sudah mengeskpresikan kesedihannya dengan ekspresi selain menangis, seperti tatapan yang sendu, senyuman yang hilang, detak jantung yang berdegup kencang, itu sudah masuk pengekspresian emosi." Jelas dulur Malik.

"Mengacu pada pembahasan tadi, menurut saya tidak ada emosi yang dipendam." Sambung dulur Lutful.

Menurutnya, emosi adalah sesuatu yang terlihat. Jadi jika ada emosi yang dipendam, berarti itu bukan emosi. Emosi juga ada yang negatif dan positif. Misal, jika seseorang sedih dan menurutnya menangis bisa membuat dia lebih baik, berarti itu emosi yang positif, ataupun sebaliknya.

Menanggapi pernyataan tersebut, dulur Dian bertanya lagi. Semisal ada seseorang yang mudah down dan susah untuk kembali bangkit, sudah males buat ngapa-ngapain, seperti sudah tidak mempunyai gairah untuk melakukan apa-apa, bagaimana cara mengatasinya? 

"Cari kesibukan. Ketika kita sibuk, kita sudah tidak ingat lagi apa yang membuat kita down. Bisa dengan bekerja atau melakukan hal-hal yang disenangi. Intinya mencari aktivitas lain." Ucap dulur Izzi. 

Memang terkadang ada fase dimana kita benar-benar malas untuk melakukan apa-apa. Tapi balik lagi, mau sampai kapan kita berlarut-larut di fase itu? Apakah dengan kita diam tanpa melakukan apa-apa bisa mengatasi masalah? Kan tidak juga. Maka dari itu, perlu diterapkan kesadaran diri sendiri untuk tidak berlama-lama berada di fase keterpurukan.

Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 17.20 WIB. Sebelum ditutup, ditarik kesimpulan bahwa emosi itu otomatis. Emosi hanya reaksi yang terjadi di dalam otak. Yang harus dihindari adalah perilaku negatif dari emosi tersebut, bukan emosinya. 

Diskusi kemudian diakhiri dengan pembacaan sholawat Maulaa ya shollii wa salim. Semoga apa yang dibahas tadi bisa bermanfaat untuk kita semua. 




Penulis: Rosiana