Mononatrium Glutamat

Pict : Pinterest


Mononatrium glutamat, monosodium glutamat, atau natrium/sodium glutamat merupakan garam natrium dari asam glutamat yang merupakan salah satu asam amino non-esensial paling berlimpah yang terbentuk secara alami. Orang-orang biasa menyebutnya sebagai MSG atau micin. Biasanya zat ini ditambahkan ke makanan sebagai penyedap rasa, seperti sayuran kaleng, sup, dan daging olahan.

Namun, beberapa orang mengklaim bahwa Mononatrium glutamat atau MSG menyebabkan peningkatan aktivitas glutamat di otak dan stimulasi sel-sel saraf yang berlebihan yang dapat menyebabkan kerusakan atau memperlambat kinerja otak, jika mengonsumsi MSG dalam jumlah yang terlalu besar.

Begitu pula dengan kamu. Senyummu bagai penyedap rasa bagiku, jika aku tidak melihat senyummu barang satu hari saja, hidupku terasa hambar. Seperti makanan rumah sakit. Dan jika aku terlalu lama melihat senyumanmu, otakku akan rusak. Maksudku, yang ada di otakku hanya ada dirimu, dirimu, dan dirimu Ariyo.

Aku dan kamu sudah berteman sejak kecil dan tumbuh besar bersamaan. Dan, karena terlalu sering bersama, aku mulai menyukaimu lebih dari seorang teman.

Aku lebih suka mendengarkan kamu bercerita tentang kegiatan sehari-harimu. Meskipun aku juga ingin bercerita, namun aku tak tega memotong dan mengganti ceritamu dengan ceritaku. Yah walaupun sesekali membuatku sakit, tapi tak apa. Melihatmu tersenyum sudah cukup bagiku.

****

Aku senang sekali menceritakan dirimu dalam diam. Ada rasa bahagia tersendiri bagiku.

Pagi itu, aku duduk di teras agar bisa melihatmu dan senyummu yang membuatku candu. Saat itu, hampir satu pekan aku tak pernah melihat senyummu. Namun, aku melihatmu berangkat pagi-pagi sekali dan selalu terburu-buru. Aku tau kau sibuk, organisasimu mengadakan event penting dan kamu sebagai ketuanya. Tapi, tak harus melupakan sarapan kan? Eggy, adikmu yang menceritakan kepadaku bahwa kau sering melupakan sarapan.

Aku tidak bisa melihat kamu sakit. Hatiku sakit jika melihat wajahmu yang pucat, meskipun masih bisa mengeluarkan senyum andalanmu. Ingin sekali rasanya aku mengingatkanmu, tapi aku takut membuatmu risih. Mengingat kau mengajakku jalan hanya karena sedang suntuk atau bosan dan terlihat seperti mengabaikanku. Jujur saja aku sedih. Tapi   aku tak berani bilang. Melihatmu tersenyum saja sudah membuatku bersyukur.

Aku tertawa sumbang kala mengingat percakapan kita, pada malam itu.

"Yo, kamu tahu tidak, apa persamaanmu sama mononatrium glutamat?" Tanyaku padamu sambil terkikik.

"Loh jadi maksudnya aku asin, begitu?" Jawabmu kala itu sedikit tak terima.

Aku terbahak dengan pertanyaan kamu, "bukan.." Aku menjeda kalimatku untuk bernafas, lalu melanjutkan, "Senyum kamu itu seperti penyedap rasa Yo. Kamu tau sup? Jika sup tidak dibubuhi penyedap rasa, maka rasanya akan hambar. Itu seperti aku jika tidak melihat senyummu barang sehari saja."

Kamu hanya tersenyum dan menggaruk tengkuk yang tidak gatal.

"Maaf ya Rin, aku ngga bisa. Aku nganggap kamu seperti adik sendiri. Tidak lebih," katamu dengan sorot mata merasa bersalah.

Aku hanya tersenyum dan menggangguk memaklumi.

****

Kala sore itu, kamu mengajakku keliling komplek. Awalnya aku tak ingin mengiyakan ajakanmu. Tapi, melihat wajah memelasmu aku jadi tidak tega. Aku dan kamu mengelilingi komplek hingga ke Alun-alun kota diselimuti keheningan. Aku tak membuka suara sama sekali, begitupun dengan kamu yang tidak berusaha membuka topik pembicaraan. Sangat menyebalkan.

"Mau mampir dulu di sini?" Tanyamu saat berhenti di depan cafe biasa yang kita singgahi.

"Boleh," kataku sambil mengangguk dan tersenyum singkat.

Setelah duduk di kursi yang kosong, aku menatap lekat wajahmu. Ternyata wajahmu pucat, dan seperti menahan sakit. Saat kutanya kenapa, pasti jawaban kamu tetap sama seperti dulu, "Aku nggapapa Rini." Tapi, aku tau kalau kamu itu menyembunyikan sesuatu.

Kamu bercerita banyak mengenai hari-harimu. Dan sesekali melempar candaan. Aku senang sekali bisa melihat senyum dan tawamu yang lebar, meskipun wajahmu sedikit pucat. Selepas itu, aku mengajakmu untuk pulang ke rumah. Aku tau, kamu masih ingin bercerita banyak. Tapi, aku tidak bisa. Semakin lama bersamamu, aku akan jatuh lebih dalam lagi.

Namun, andai saja aku tau pada sore itu akan menjadi pertemuan terakhir kita, maka aku tidak akan meminta pulang. Aku akan lebih lama menikmati senyummu yang meneduhkan sebelum memudar.

Aku menyesal. Kini, tidak ada lagi penyedap rasa dalam hidupku.

Maaf, dan terima kasih sudah menjadi mononatrium glutamat dalam hidupku, Ariyo.

 

Penulis : RL