Membaca Perayaan 'Natal' Kampus IBN dengan Natal Nasional

 

Pict : Hexagon Gallery

Sebentar lagi (atau bahkan sudah) kita akan melihat euforia (baca; kegembiraan) penduduk seluruh dunia termasuk warga negara Indonesia mengenai natal, tepatnya di tanggal 25 Desember.

Yang dimaksud dengan warga negara Indonesia disini tentu bukan perindividu dari 270 jutaan orang. Karena, saya juga memahami ada yang menanggapinya biasa saja atau bahkan justru alergi dan bahkan menghardik.

Artinya, yang dimaksud bahasa di atas adalah saking banyaknya industri, toko, media, tokoh masyarakat dan hal-hal yang sering di pandang oleh mata merespon natal. Tentu dengan bentuk, aspek dan tujuannya masing masing. Dalam bahasa majas disebut Totem to Parte.

Respon berfikir masyarakat Indonesia dengan natal itu beragam, terkhusus orang muslim. Ada yang waktu prenatal (yang dimaksud disini adalah hari-hari sebelum perayaan natal) memperdebatkan halal-haramnya mengucapkan selamat natal kepada yang merayakannya. Ini terjadi setiap tahun, sampai ada yang menyebut agenda debat tahunan di Indonesia. Ada juga yang menganggapnya biasa saja, orang-orang ini setidaknya ada 2 golongan. Pertama, dia biasa saja karena tidak punya teman atau kenalan orang Kristen yang merayakan. Jadi tidak mempedulikannya. Golongan kedua, dia biasa saja karena melihat natal mirip seperti merayakan maulid nabi Muhammad. Artinya keduanya sama-sama ada perdebatan hukum sebatas atau sejauh mana wujud ekspresi yang diperbolehkan. Yang sampai nabi Isa turun ke bumi pun belum final juga. Yang berbeda dan cerdik adalah mereka yang memanfaatkan momen Natal dengan melihat potensi meraup keuntungan.

Sebelum lebih jauh, perlu juga memahami arti natal. Agar tidak terlalu kaku memahami natal hanya bermakna hari raya orang-orang kristen. Natal secara bahasa mempunyai makna yang sama dengan kelahiran. Dalam bahasa Inggris perayaan Natal disebut Christmas, dari istilah Inggris kuno Cristes Maesse (1038) atau Cristes-messe (1131), yang berarti Misa Kristus. Dalam bahasa Arab kelahiran disebut milad atau maulid. Antara milad dan maulid mempunyai akar kata yang sama yakni dari madhi walada. Natal sendiri biasa disebut Ied al-milad.

Jika melihat dunia kedokteran juga ada istilah prenatal, yang mempunyai maksud persiapan ibu hamil menjelang melahirkan. Pun dunia akademisi, ada perayaan dies natalis. Yang berarti memperingati hari lahir. Kampus IBN juga menggunakan bahasa itu. Juga tak mempersoalkan adanya kemiripan, tasyabbuh bil kuffar, neo-kristenisasi, misalnya. Tentu dengan perayaan atau tujuan yang berbeda dengan perayaan natal milik orang Kristen. Perbedaan yang nampak seperti kebiasaan orang Kristen ketika natal adalah bagi-bagi hadiah (seperti santa claus). Kampus IBN ketika perayaan 'natal' tidak menggunakan emosional itu, sebatas pengetahuan saya, cukup dengan hanya tasyakuran sederhana yang dihadiri jajaran rektorat dan beberapa mahasiswa, itupun yang diundang. Sederhana bukan.

Dalam kenyataannya, Perayaan pun ada setiap 'natal' seseorang, instansi, atau yang lain. hari kelahiran itu memang patut dirayakan. Adapun dengan bentuk berbeda atau dalam bentuk yang sama namun dengan maksud yang berbeda, adalah hal yang tidak perlu dipersoalkan.

Simpelnya Natal, Christmas, dan Maulid/Milad mempunyai makna yang sama. Hanya penggunaan lain bahasa saja. Ini sama seperti orang Tegal mengatakan ngelih untuk menunjukan makna perut yang merindukan makanan. Sedangkan orang Cilacap untuk menunjukan makna perut yang merindukan makanan akan mengatakan kencot. Jadi, kencot dan ngelih memiliki makna yang sama.

Reaksi natal masyakarat Indonesia juga bisa dilihat diberbagai lini kehidupan. Seperti mall, biasanya akan merespon natal dengan adanya diskon menarik. Begitu juga dengan online shop. Ketua partai biasanya dengan bentuk video yang disiarkan lewat televisi. Stasiun televisi juga mempunyai cara tersendiri, mereka akan membuat semacam ucapan selamat disela sela iklan atau program televisi. Pabrik akan membuat semacam banner. Dan seterusnya lengkap dengan atribut khas Natal.

Dari berbagai reaksi, hal yang paling bisa dirasakan oleh semua orang adalah transaksi jual beli. Semua orang yang dimaksud tentu tanpa memandang ras, suku, agama, ormas. Yang penting manusia. Baik penjual maupun pembeli saling memanfaatkan momen tahunan ini di bagiannya masing-masing. Sebagai penjual dia akan berusaha semakin kreatif. Ahli pemasaran juga bermain rumus psikologis dalam memikat pelanggan. Sebagai pembeli ia juga mendapatkan berbagai tawaran menarik. Mungkin dari sinilah Banksy terobsesi untuk membuat lukisan dengan judul Jesus Christ with Shopping Bags.

 

Penulis : Lutful Hakim