Mengenal Lebih Dekat Sosok Pramoedya Ananta Toer 


Dokumentasi LPM Tanpa Titik

Rabu 17 November. LPM Tanpa Titik masih diberi anugerah oleh yang Maha Kuasa dalam menjalankan diskusi rutinan. Pada kesempatan kali ini tema yang di ambil adalah tokoh sastrawan "Pramoedya Ananta Toer".

Diskusi dimulai pukul 13.00 dengan pembacaan Ummul kitab. Sebagai bentuk harapan teman teman agar diskusi berlangsung lancar dan bermanfaat. Lalu dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia raya tiga Stanza bersama sama.

Diskusi dipantik oleh dulur Lutful selaku yang memilih tema. 

Lutful menjelaskan alasan memilih tokoh Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya ditulis Pram) sebagai bahan diskusi. Menurutnya, berdasarkan ungkapan Max Lane, masyarakat Indonesia masih sedikit yang mengenal sastrawan kelas internasional ini, pun kalangan akademisi. Hal tersebut juga dikarenakan adanya pembredelan karya-karya beliau. Oleh karena itu, tema ini merupakan ikhtiar agar mampu mengenalkan secuil sosok Pram dalam kalangan akademisi. 

Lutful memaparkan, beliau lahir 6 Februari 1925 dengan nama Pramoedya Ananta Mastoer. Karena Pram tidak suka dengan nama yang berbau aristokrat, akhirnya 'Mas' dalam kata Mastoer dibuang, sehingga menjadi Pramoedya Ananta Toer. Beliau wafat di umur 81 tahun pada 30 April 2006. 

Orang tuanya bernama Mastoer dan Oemi Saidah. Ketika sekolah, beliau pernah 3 kali tidak naik kelas. Dimana ayahnya menjadi kepala sekolah ditempat Pram mengenyam pendidikan pada saat itu, dan membuat ayahnya malu sekaligus marah. Yang berdampak setelah lulus, sang ayah tak mau lagi menyekolahkannya. Namun, sang ibu yang humanis membantu dunia pendidikan Pram. 

Penjara merupakan tempat yang tidak asing lagi baginya. Dalam tiga masa (zaman kolonial, orde lama dan orde baru) Pram merasakan keluar masuk penjara. Kehidupan Pram dalam penjara bisa dilihat di buku nyanyi sunyi seorang bisu, yang merupakan catatan-catatan Pram selama di Pulau Buru. Bukan fiksi, tetapi lebih ke mengisahkan kehidupannya selama di Pulau Buru. Seperti buku harian. Juga sebagai surat untuk keluarga, meskipun 'kabarnya' tak pernah sampai.

Pram telah menulis lebih dari 50 karya, diantaranya seperti Panggil Saja Aku Kartini, Mangir, Arok Dedes, Arus Balik, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, dan yang paling monumental tetralogi buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca). Pram juga beberapa kali mendapatkan penghargaan baik dari dalam negeri maupun luar negeri. 

Setelah dirasa cukup memberi cuplikan mengenai kehidupan sastrawan besar Indonesia ini. Dulur yang lain mulai merespon. Seperti dulur Syifa yang mengatakan perlunya mempelajari karya-karya sastrawan Indonesia, selain Pram ada juga Ahmad Tohari. Antara keduanya mempunyai kemiripan dalam menulis.

Dulur Nanda bertanya "Apakah mas dari kata Mastoer (ayah Pram) itu gelar ?"

"Mempelajari tokoh Pramoedya Ananta Toer, nilai apa yang bisa diambil untuk LPM ?" Susul dulur Vickar

"Siapa Max Lane, kenapa berkata 'Hanya ada satu negara besar yang tidak mengajarkan karya Pramoedya, Indonesia'?" Sambung Amel

"Kenapa karya Pram diluar negri masuk kurikulum sedangkan di Indonesia sendiri tidak ?" Tanya dulur Dian

Dulur Himma menanyakan "Dengan alasan apa Pram dipenjara ?" 

Menanggapi pertanyaan dari Nanda, Lutful menjelaskan bahwa ayah Pram merupakan keturunan Bupati Kediri. Disisi lain Pram pernah menjelaskan alasannya menghilangkan 'Mas' dari Mastoer karena kesannya aristokrat yang tak disukai oleh Pram. Jadi, 'Mas' dalam kata Mastoer adalah sebuah gelar. Yang pada akhirnya dihilangkan oleh Pram karena bersifat aristokrat.

Dulur Syifa menanggapi pertanyaan dari Vikar mengatakan nilai yang bisa diambil dari sosok Pram diantaranya semangat beliau dalam menulis bahkan ketika di penjara. Ini bisa menjadi suri tauladan bagi seorang jurnalis. Meskipun di tempat yang penuh keterbatasan bukan penghalang untuk menulis, dan masih banyak lagi. Yang terpenting, setelah kita mempelajari dan memahaminya kita mau action atau tidak. Karena pasti kembalinya ke diri masing masing.

Lutful menjelaskan Max Lane pertama kali ke Indonesia pada tahun 1969. Ia merupakan seorang yang Indonesianis. Sebutan untuk sarjana asing yang menaruh minat akademis khusus mempelajari Indonesia. Beliau mempelajari banyak tentang Indonesia. Sampai akhirnya membaca karya Pram. Bahkan keduanya pernah bertemu langsung. Terkait quotenya (hanya ada satu negara besar yang tidak mengajarkan karya Pramoedya ke siswanya, Indonesia) memang bukan tanpa alasan. Menurutnya negara besar seperti Amerika, Australia, Filipina sudah memasukan karya Pram ke kurikulum pendidikan di sekolahnya. Dan Max Lane melihat sendiri kurikulum di Indonesia yang nihil dari pembelajaran sastra dan karya Pram. Oleh karenanya beliau mengatakan demikian.

"Ada kemungkinan, pemerintah kita masih takut generasi muda nantinya mengetahui sejarah yang sebenarnya. Karena karya Pram benar-benar menjelaskan semangat melawan ketidakadilan, feodalisme, dan rasisme." Ujar Lutful.

Untuk alasan Pram dipenjara, tanggapan dari dulur Lutful pun beragam, mulai dari keterlibatannya dalam pasukan pejuang kemerdekaan pada zaman kolonial, masalah bukunya "Hoa Kiau di Indonesia" yang merupakan pembelaan terhadap nasib kaum Tionghoa di Indonesia namun tidak disukai pemerintah Orde Lama. Sampai akibat tuduhan terlibat dalam Gerakan 30 September 1965 oleh rezim Orde Baru yang dijalani tanpa melewati proses peradilan.

Senja tak dirasa mulai menyapa, maka akhirnya diskusi ditutup dengan penarikan kesimpulan. Dan dilanjut membaca sholawat bersama. Maulaa ya sholli wa sallim


Penulis : Lutful Hakim

Editor : Amel