Pict : Pinterest

Karyadi dan Eko Pedagang yang Tenang

“Kayaknya nggak deh Kar, itu ada yang memainkan”

Malam itu kesempurnaan bulan hampir purnama. Kawasan langit seperti biasa memandang keakraban rembulan dengan para bintang. Karena pada cuaca yang cerah tak ada awan mendung. Angin sangat akrab sekali dengan merayu pepohonan untuk menari bersama.

“Hmrrr hmrrr, indah sekali malam ini, tapi kok dingin yah..” suara Eko yang disebut oleh orang desa Suwung ; manusia Kalong.

“Waduknye. Orang cuaca enak banget kaya gini, anginpun bersahabat dengan suhu badan, wkwk. Kamu aja keluar malam suka nggak pake kaos” sahut Karyadi teman akrab tongkrongan Eko.

“Oh iya, pantes aja aku kedinginan” spontan Eko menjawab dengan nada rendah dan senyuman pendek.

Desa Suwung, sesuai namanya. Desa itu memang suwung alias sepi penduduk. Mungkin bisa dikatakan hanya Eko dan Karyadi-lah yang berada di desa ketika malam. Karena hampir kebanyakan penduduk desa itu kehilangan dua sosok orang  laki-laki yang biasa bersuara di heningnya malam desa Suwung sebab mereka tertidur pulas.

Suasana desa itu memang suwung, saking suwungnya, masyarakatnya biasa saja tanpa ada hal yang mengejutkan untuk dibahas.

***

“Kar Kar sini deh, ada yang harus kamu lihat” Eko memanggil Karyadi sambil menunjuk jarinya ke pohon pisang.

“Apaan ko?”.

“Tuh lihat. Pohon pisang kan?”

“Iyalah” kata si Karyadi.

“Kenapa orang-orang kalo malem pada males keluar rumah yah, kalah sama pohon pisang yang suka di luar,” kata Eko dengan logat polosnya.

“Yelah. Kalo yang di dalam rumah namanya bukan pohon pisang, tapi buah pisang dodol” sahut Karyadi dengan khasnya bernada tinggi.

“Hahahaha. Iya iyayaya masuk Kar”.

Larut malam mereka asyik dan terbawa suasana cuaca pada malam itu. Keakraban alam menyelimuti mereka berdua yang sedang mesranya bermain catur. Tak sadar waktu ternyata sudah terdengar suara adzan di masjid jami’ desa Suwung.

Hari ke hari hanya itu yang mereka lakukan di setiap malam. Bukan tanpa alasan. Melainkan tetangganya sangat menginginkan ada sesorang yang berjaga di malam hari untuk sebuah keamanan. Namun, belum ditanggapi serius dari pihak kantor desa itu. Jadilah mereka yang suka “melek”. Jangan salah, lazimnya orang dewasa mereka lakukan yaitu mekaya.

Berangkat jam 8 pagi istirahat di waktu Dhuhur dan pulang di waktu Ashar. Mereka sudah terbiasa dengan hal itu. Pedagang keliling di sekolahan. Mata pencaharian mereka berdua.

Dengan kehidupan yang tidak seperti kebanyakan orang yang berdandan mewah. Kekuatan, ketabahan dan kesabaran mereka diberi lebih oleh Sang Tuhan semesta alam. Jiwa keorang tuaan sudah mereka berdua rasakan sejak dini. Bukan tanpa alasan mereka berkeliling dari tempat satu ke tempat yang lain, dari sekolah satu ke sekolah yang lain tapi dengan kerelaan hati dan raganya mereka berdua juga turut merasa bertanggung jawab atas pendidikan adik-adiknya.

***

Di esok hari Karyadi yang sedang asyiknya menunggu anak-anak sekolah dasar keluar kelas untuk istirahat dan berharap ada yang mampir dan membeli. Ada seorang ibu-ibu yang memanggil nama Karyadi.

“Mas Karyadi…” panggilan seorang ibu-ibu yang merusak lamunan lelaki penjual kerajinan kertas itu.

“Eh nggeh, Bu Riti toh. Ku kira siapa. Anak ibu sekolah di sini juga?” jawab Karyadi dengan keakraban.

“Iya Kar. Baru daftar kemaren. Eh, maksudnya pindahan. Anak ku kan sekolah di desa Padangjaya, yang menurutku dekat. Ternyata temen-temennya Aldi sekolahnya di sini. Akhirnya Aldi minta pindah deh”

Owalah, gitu yah Bu. Nggak apa-apa Bu, turutin aja mau si Aldi mau sekolah dimana. Lagi pula untuk seusia Aldi memang usia yang suka banyak bermain apalagi dengan teman sebayanya” sambung Karyadi sambil melayani pembeli.

Teet teet teet. Bel masuk kelas berbunyi. Ibu Riti masih di dekat sepeda jualannya Karyadi. Tampak ada rasa mengapa Bu Riti ingin sekali menangis terharu setelah melihat Karyadi melayani anak-anak Sekolah itu dengan senyuman, dan yang terasa di hati Bu riti. Karyadi melakukannya dengan bahagia. Ah, mungkin ada masa lalu yang membuat perasaan hati bu Riti mendorong air mata itu untuk keluar.

Kepripun Bu?, loh kok melamun” sapa Karyadi bingung.

“Nggak apa-apa kar. Oh iya, bagaimana kabar ke dua orang tua mu di rumah?”

“Alhamdulillah sehat Bu”

“Syukurlah kalo ke dua orang tuamu sehat. Ibu denger berita dari televisi Kar, dan kata tetangga-tetangga Ibu. Di daerah kamu tinggal ada orang sakit yang katanya terkena virus. Apa itu benar Kar,?” Tanya Bu Riti sambil mengangkat alisnya.

“Oh yang virus-virus itu yah Bu. Benar sih Bu. Emang dia benar sakit maksudnya, hehe. Dia emang sering kaya gitu, batuk-batuk, panas dingin, pilek dan .. sakit umum sih. Cuman baru kali ini dia sakit begituan periksa, biasanya sih enggak. Eh, malah pas pulang periksa dia dan keluarganya nggak boleh keluar rumah oleh pihak kesehatan yang memeriksanya, bahasanya isolasi atau apalah gitu” tutur Kayadi

“Hmm, Iya gitu yah. Kadang berita lebih menakutkan dibandingkan realitanya” sahut Bu Riti.

“Hehe, saya pribadi lebih penting merawat daya tahan tubuh Bu. Sekalian juga memenuhi anjuran pihak kesehatan daerah untuk menerapkan protokol kesehatan, ya pake masker, cuci tangan” lanjut Karyadi dengan santai.

“Iya juga sih. Bukannya pemerintah daerah akan memberhentikan sementara kegiatan sekolah tatap muka?” tanya Bu Riti.

“Iya Bu. Aku denger langsung dari Bu guru kemaren. Iya gitu lah. Akupun masih bingung untuk keadaan sekarang ini. Kegiatan sekolah nggak seperti biasa pindah di rumah. Mungkin karena berkerumunan kali yah. Dan pastinya nggak ada tontonan dan sebagainya” ungkap Karyadi sambil menundukan pandangannya.

Teet teet teet teet. Waktu yang dirindukan anak-anak sekolahpun tiba. Waktu pulang. Dan Bu Riti kembali stand by di motor menunggu Aldi datang.

Karyadi melanjutkan perjalanan ke tempat sekolah berikutnya. Dalam hatinya berkata “Bagaimana nantinya yah. Untuk pendidikan adiku di rumah. Apakah Bu guru akan datang rumah ke rumah atau belajarnya menggunakan Hp. Seperti apa yang diobrolkan Ibu-ibu tadi. Hmm, bagaimana yah. Hp pun masih layar kuning, sedangkan online-onine itu pake android. Entahlah, barangkali aja nanti dapet rejeki lebih buat adikku.”

Sampai sudah di tempat sekolah berikutnya, sambil menjajarkan dagangannya ia sudah mulai terbiasa dengan obrolan para Ibu mengenai virus dan kebijakan pemerintah yang diterapkan.

Bersambung.


Penulis : Heri