Bedah Kedewasaan

vikkastyle.blogspot.com

Bermula celotehan dari kawan-kawan mengenai sebuah pencapaian, hingga berujung saling mengeluarkan argumen, malam itu hari Selasa pukul 20.00 WIB. Dulur-dulur TanTik berdiskusi melalui media online WhatssApp.

Salah satu sedulur tua LPM Tanpa Titik bertanya “Angkatane nyong ning LPM pan apa eh? Coba kritik para orang tua jangan ragu” tutur Azzam. Penghuni grup pun menanggapi dengan santai, kemudian Azzam bertanya kembali mengenai usia  “Usia mapan diukur dari mana? Dan usia potensial dari mana? Lanjut Azzam. Hingga memunculkan respon yang beragam dari dulur lainnya.

Azam memantik kembali dengan menjabarkan beberapa pernyataan. Pertama, alasan usia apakah hanya sebagai tanah? Atau juga bisa menjadi sistem alam merubah tatanan manusia? kalau menjadi alasan, apa yang harus dilakukan masyarakat atau keberaaan manusia pada usia tertentu? Misal 1-25, 25- 0, 0-80. Syifa pun merespon dengan menjelaskan bahwa “Kehidupan memiliki fasenya masing-masing, diantaranya fase rahim, fase alam dunia, fase alam kubur dan seterusnya. Setiap fase yang berkembang dengan sendirinya. Seperti anak, fasenya bermain, bersenang-senang, dan sekolah. Fase orang dewasa ya kuliah, kerja nikah, dll. Lalu tahapan itu ada edpendent, independent, inferdepenent. Pertama Edpendent (ketergantungan) yaitu bayi hingga anak-anak. Bayi sangat bergantung mulai dari disusui, makan, kasih sayang, dan pelajaran. Nah di sini peran orang tua sangat tinggi. Kemudian fase independent (mandiri) disini manusia mulai berkembang dan tumbuh kemandirian. Fase ini kurang lebih 8-10 tahun misal sudah bisa membeli jajan sendiri, pengakuan diri dll. Terakhir fase inferdependent (saling tergantung) artinya ia harus melihat dunia luas, melihat orang lain, menghargai, memahami, berinteraksi dan bersosialisasi. Sehingga muncul simpati dan empati pada sesama. Orang tua dan lingkungan berperan tinggi, fase ini berada di usia 11-15 (minginjak remaja). Sedangkan tahapan remaja ada 3 yaitu ada remaja awal, madya dan remaja akhir. Remaja awal berusia 10-13 tahun. Di sini pertumbuhan dan perkembangan fisik serta psikisnya menonjol. Biasanya emosinya tertuju ke jati diri. Remaja madya umur 1-16 perkembangan dan pertumbuhan pubertas mulai terlengkapi. Emosinya sudah mulai ke arah kesiapan pendewasaan, pembentukan karakter yang lebih kompleks. Remaja akhir usia 16-19 tahun ada pencapaian tertentu, misal ingin berintelektual, paham pengalaman, bersosialisasi biasanya juga muncul egonsentrisme. Kalau fisik ciri-cirinya jelas, seperti cewek menstruasi, pinggul melebar seterusnya. Cowok tumbuh jakun, berotot seterusnya” Imbuh Syifa.

“Pertumbuhan bukankah tidak dihitung dengan usia seseorang? Jadi, masalah kedewasaan mungkin bisa diukur dari usia atau tidak ?” tanya Heri.

“Realitasnya, semakin tambah usia semakin bijak, dan umur hanya sebuah angka.” ungkap Vikar.

“Sebenarnya dewasa dicari apa ditemukan? kalau dicari berarti di luar diri, kalau ditemukan berarti dalam diri, dan kira-kira pengaruh yang menjadi faktornya apa saja?” Sanggah Azzam.

 Yayi pun merespon bahwa “Dewasa lebih ke proses pembentukan, kalau dicari realitanya ada beberapa orang yang nyaman dan bangga dengan tingkah laku ke kanak-kanakan mereka.”

“Kalo ada dalam diri tidak dibentuk ya sama saja bohong. Faktor pembentukan kedewsaan ya dari luar, seperti nasihat.” tambah Zidni.

Percakapan pun diwarnai dengan canda tawa, cletukan, dan  tak jarang pula sindiran.

Saya mau Tanya lur, kenapa setiap bicara kedewasaan selalu berujung bicara nikah? Seolah nikah itu tujuan hidup, nikah diibaratkan garis finish dalam perlombaan. Padahal ada tipe manusia yang tidak nikah tapi segalanya berkecukupan. Bahagia?” tanya Izzie.

Dalam kesempatan itu, Syifa pun merespon “Karena kita bicara fase, seperti di Jawa ada tembang macopat yang jumlahnya ada 12. Nah itu adalah ada fase asmaradana, dengan wujud pernikahan dan mempunyai keturunan. Untuk masalah umur kita kembali ke diri kita masing-masing. Kalo kaitanya dengan agama nikah merupakan wujud menyempurnakan separuh agama, pun menjadikan ladang pahala. Tapi beda kalau kita bicara masalah mental, kesiapan, finansial dan tujuan pernikahan. Namun fase kesiapan juga ada yang bergeser. Fase A ia sudah mengalami, namun B belum mengalami fase A.”

Syifa beranggapan bahwa  bukan berarti tujuan akhir hidup itu nikah. Itu tidak sepenuhnya benar. Ini hanya bicara soal fase. Soal nikah adalah tujuan hidup itu subjektif, paradigma dan persepktif.

“Ketika sekian membahas tentang fase usia dalam kehidupan, selanjutnya apa? dan untuk apa? Untuk menemukan apa?” tanya Heri. Sementara Vikar mengatakan bahwa “Hidup untuk menemukan jawaban, untuk apa aku dihidupkan? Sudahkan aku memenuhi apa yang dikatakan tuhan? Faizzah menambahkan bahwa hidup ini untuk menemukan jati diri yang sesungguhnya.

Percakapan kembali diselingi dengan cletukan kawan-kawan LPM Tanpa Titik sampai dengan akhir pembahasan. Kemudian diskusi tersebut ditutup oleh Heri. Dengan mengambil hikmah bahwa “Jadikan umur sebagai cermin, sesuatu yang terkesan negatif jadikan rem, supaya masuknya positif. Jangan lupa bahagia, dan bahagia bukanlah sesuatu yang dicari, tetapi diciptakan.”



Penulis : Yayi

Editor : Salisa