dokumenter LPM Tanpa Titik


Rabu (7/10), sedulur LPM Tanpa Titik melaksanakan diskusi rutinan yang diadakan dua minggu sekali. Matahari yang bersinar cerah menemani kehangatan diskusi siang hari itu, diskusi dimulai dari pukul 13.00 WIB dengan diawali membaca surat Al-Fatihah, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya stanza I, stanza II, serta stanza III. Muqodimah dibacakan oleh para peserta diskusi secara beurutan.

Penulis muqodimah memaparkan alasan mengapa ia mengambil  tema “good looking versus good attitude”, ia pun menjelaskan bahwa di media sosial akhir-akhir ini sedang hangat diperbincangkan mengenai topik tersebut, dimana ada beberapa kasus yang berkaitan dengan good looking, sehingga muncul kalimat yang berbunyi “keadilan bagi seluruh rakyat yang good looking”. Good looking berasal dari kata good yang artinya cantik, ganteng dan looking adalah kelihatan, sehingga good looking adalah orang yang terlihat cantik atau ganteng

Beberapa sedulur menyampaikan perspektifnya mengenai tema tersebut.

”Kalau saya lebih condong ke good attitude, sebab di zaman sekarang banyak yang lebih mengedepankan good looking dibandingkan good attitude sendiri, padahal good attitude memiliki prioritas yang lebih utama” Asbiq menuturkan.

“Saya lebih mendahulukan good looking, setelah itu baru good attitude nya, sebab dalam menilai seseorang, yang pertama dilihat adalah good looking nya, kemudian baru ke good attitude nya” sambung Heri.

Secara umum, manusia memandang satu sama lain melalui indranya, itu artinya manusia secara umum akan menilai seseorang melalui apa yang terlihat lebih dulu, good or bad looking, setelah  sudah mengenal lebih dalam, maka ia pun dapat menilai seseorang itu good or bad attitude. Sebagai contoh si A memakai baju compang camping layaknya orang gila, maka saat orang lain menilainya sebagai orang gila itu bukan suatu kesalahan. Sebab, dari penampilan saja dapat disimpulkan bahwa ia sebagai orang gila.

“Lalu tolak ukur good looking sendiri itu bagaimana?”, tanya Lutful.

Malik menyampaikan “Ukuran untuk menilai good looking atau good attitude itu sendiri kembali lagi pada subjek yang melihatnya”

Iqbal menjelaskan “Jadi timbulnya good atau bad itu nanti tergantung  subjek yang menilai. Good Attitude dalam agama Islam adalah akhlak, dan kalau bicara akhlak pada ranah agama tentu ada acuannya. Sedangkan good looking sendiri terbentuk dari sebuah sistem, sedangkan sistem ini cenderung mengarah ke barat”

“Lalu apakah kita bisa mengubah sistem tersebut?” tanya salah satu sedulur

Azzam menjelaskan mengenai sistem tersebut.

Tentu saja kita bisa merubahnya, namun kita juga harus tau dimana posisi kita. Jadi ada 3 lingkaran atau limitasi kontrol kita yaitu

  1. Lingkar pengaruh, contoh kita sebagai pengendara motor yang memiliki pengaruh besar terhadap lajunya motor.
  2. Lingkar peduli, contohnya kita sebagai orang yang membonceng motor, kita bisa berpengaruh terhadap pengendara atas kelajuan motor
  3. Lingkar perhatian, contohnya kita sebagai orang yang melihat di pinggir jalan, yang tidak mampu mempengaruhi si pengendara motor.

Kemudian, pembahasan beralih pada efek dari hal-hal tersebut. Beberapa dulur LPM Tanpa Titik menuturkan efek atau keresahan karena good looking itu sendiri, meliputi :

  1. Beberapa orang akan merasa insecure ketika dihadapkan dengan orang-orang yang good looking, sehingga mereka mencari solusi untuk mengurangi rasa insecure dengan memaksa diri untuk bisa menjadi good looking.
  2. Media sosial menjadi ajang untuk memperlihatkan good looking, seperti branding-branding saat ini yaitu efek kamera IG yang sedang viral, efek kamera ini cukup marak digunakan dan dianggap dapat menjadikan seseorang terlihat good looking. Hal inilah yang menjadi keresahan, orang-orang akan kehilangan personality nya, walaupun mereka merasa resah akan hal ini tapi mereka lebih memilih branding-branding yang ada pada media sosial untuk eksistensinya.

Bukan hanya itu saja mungkin, banyak keresahan lain yang dirasakan oleh masyarakat terutama generasi milenial akibat adanya hal tersebut. Untuk itu, kita perlu adanya sikap hati-hati dan tidak mudah terkontraversi. Sebab adanya good looking atau good attitude memiliki perspektif masing- masing.

Antusias dari dulur LPM Tanpa Titik menghantarkan diskusi menjadi bincangan yang sangat menggelitik. Berbicara good looking versus good attitude yang sebelumnya asing bagi kita, melalui diskusi ini kita dapat mengenal istilah tersebut dan mampu memahami hal-hal mengenai good looking atau good attitude lebih dalam.

dokumenter LPM Tanpa Titik

Penulis : Hanifah

Editor : Syifa