Akhir-akhir ini Pandemi COVID-19 sudah mengguncang dunia. Perlu diakui bahwa penyebaran pandemi tersebut berlangsung sangat cepat dan memakan banyak korban. Bahkan di negera kita, awal bulan Maret 2020 terdapat dua warga yang positif terjangkit pandemi tersebut. Hingga pertengahan bulan April saat ini, angka positif serta kematian akibat pandemi tersebut terus meningkat. Tidak dapat dipungkiri, hal tersebut menimbulkan kekagetan dan kepanikan yang dialami oleh sebagian besar masyarakat. Gencarnya pemberitaan dan obrolan mengenai pandemi tersebut membuat kepanikan berlangsung lebih lama, tentunya hal ini dapat berpengaruh pada kesejahteraan mental warga.

Stres, bingung dan cemas merupakan suatu hal wajar saat terjadi suatu kekrisisan atau problematika lain. Sebagaian besar orang melalmpiaskan rasa cemas atau stresnya melalui beberapa tulisan-tulisan yang kemudian menjadikan tulisan tersebut sebagai bahan sharing. Namun bagi sebagian orang yang memiliki karakteristik kinestik, mereka melampiaskan rasa tersebut melalui gerakan-gerakan yang tidak jelas seperti mondar-mandir atau menendang-nendang sesuatu. Sedangkan untuk seseorang yang memiliki karakteristik interpersonal yang tinggi, ia cenderung diam dan memendam perasaannya.

Gejala Kecemasan

Gejala fisik yang tampak umumnya berupa jantung berdebar, napas pendek, sulit tidur, waktu tidur tidak normal, mual, kembung, diare, kepala pusing, kulit gatal, hingga otot tegang. Namun, saat dilakukan pemeriksaan pendukung seperti uji laboratorium, foto rontgen, hingga elektrodiogram tidak ditemukan apapun di tubuhnya. Nah jika hal semacam ini terjadi maka bisa saja ketika seseorang memeriksakan diri kepada layanan kesehatan bisa saja ia divonis sebagai ODP terlebih ketika dia memiliki riwayat bepergian keluar kota atau sekadar keluar rumah dengan tujuan tertentu. Maka hal demikian bisa menambah jumlah presentasi ODP yang mana lantas menimbulkan kekhawatiran untuk orang lain terlebih untuk dirinya sendiri.

Beberapa orang lebih rentan mengalami gangguan kecemasan karena kapasitas mental yang berbeda. Sebagaian orang bersifat responsif dalam melakukan sesuatu, namun sebagian lagi bersifat reaktif dalam menghadapi segala sesuatu. Orang yang memiliki karakteristik responsif cenderung melakukan tindakan yang terukur dan penuh pertimbangan. Sedangkan orang yang memiliki karakter reaktif cenderung lebih mendalami kecemasan tersebut dan timbul panik secara berlebihan.

Selain disebabkan oleh pengaruh mental, hal tersebut juga disebabkan karena pola pikir tertentu mulai dari distorsi kognitif, overgeneralization, all or nothing, dan mental filtering. Hal ini dapat menimbulkan kecemasan dan kepanikan secara berlebih. Mereka yang mengalami distorsi kognitif mudah berfikir negatif, irasional, dan berlebihan dalam memikirkan dampak dari suatu masalah. Adapun orang yang overgeneralization akan menilai satu hal yang terjadi di mana pun bakal sama. Sementara cara berfikir all or nothing merujuk pada pola pikir perfeksionis yang tak menoleransi kesalahan apapun. Mental filtering adalah meyakini informasi yang diinginkan dan mengabaikan informasi yang tak ingin diakui. Hal-hal terebut jika terus dialami oleh banyak masyarakat maka kan menimbulkan kehidupan yang negatif. Sebab fikiran yang negatif tidak akan menciptakan kehidupan yang positif.

Mengatasi Kecemasan/Kepanikan

Saat terjadi kecemasan, banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. Terutama pada diri sendiri. Misalnya dengan mengambil nafas panjang dan membuangnya secara perlahan. Mekanisme lain yang dapat dilakukan adlah dengan mengobrol atau berbicara dengan seseorang yang dapat membuatnya nyaman. Selain itu pola hidup sehat sangat diperlukan dalam hal ini, apalagi saat pandemi Covid-19 berlangsung. Pola hidup sehat itu dapat dilakukan dengan mengatur pola tidur, pola makan, olahraga tertur, dan menjaga imunitas tubuh.

Mengurangi akses infomasi juga diperlukan untuk mengurangi kepanikan karena pandemi tersebut. Usahakan mengakses informasi mengenai Pandemi Covid-19 melalui sumber-sumber tertentu dan melakukan pembatasan dalam akses informasi tersebut. Jika memantau informasi pasien yang positif Covid-19 bahkan pasien yang meninggal dunia secara terus-menerus dapat menyebabkan kepanikan dan ketakutan yang berlanjut.

Dalam hal ini yang diperlukan adalah kewaspadaan bukan kepanikan. Sebab jika kepanikan itu terjadi maka akan berpotensi menurunya imunitas tubuh. Jika imunitas tubuh sudah menurun maka berpotensi besar terhadap penularan pandemi tersebut. Kewaspadaan perlu diterapkan untuk keseluruhan. Artinya, bukan hanya masyarakat saja, namun pemerintah juga perlu waspada dan tidak panik dalam menangani kasus pandemi COVID-19. Pemerintah harus siap siaga dan tanggap dalam menangani pasien-pasien yang terjangkit virus tersebut. Sedangkan masyarakat perlu waspada dan tidak panik untuk melakukan kontribusi dalam mencegah terjadinya penularan COVID-19.

Masyarakat harus waspada dan melakukan pencegahan dengan menaati peraturan yang telah ditetapkan pemerintah seperti halnya tidak keluar rumah jika ada kepentingan yang mendesak. Bekerja, belajar, beribadah dari rumah, menggunakan masker, menerapkan etika batuk dan bersin, dan kebijakan yang lainnya. Selain itu, masyarakat juga harus mengetahui dan memahami mengenai cara pencegahan, gejala, serta penularannya.

Selain waspada,  kita juga harus memiliki sikap dan pikiran optimis dalam melawan COVID-19. Sikap optimis diperlukan agar kita yakin bahwa segala penyakit ada obatnya, dan yakin bahwa pandemi tersebut dapat berakhir. Jika kita  melihat mengenai pasien kasus COVID-19 yang sembuh maka artinya kasus tersebut memiliki potensi besar untuk teratasi. Sebab jika terlalu panik maka itu lebih berbahaya dibandingkan dengan virus tersebut. Untuk itu kita perlu ketenangan jiwa dan kesiapan untuk menghadapi problematika yang sedang terjadi. Karena bukan hanya kesehatan tubuh yang dibutuhkan untuk pencegahan melainkan juga ketenangan jiwa.

Oleh: Syifa