Bagaiamana kamu menyikapi sesuatu yang serba online? Misalnya saja perkuliahan online. Diminggu pertama perkuliahan online semuanya terlihat antusias mengikutinya. Ada yang kerap kali memunculkan hasil tangkapan layar ponselnya ketika diskusi sedang berjalan, dan menunggu antrean mengisi kolom komentar hanya untuk sebuah absensi, lalu ada pula yang dengan secangkir kopinya kemudian mempublikasikannya lewat story sosmedny--dengan caption "kuliah online disambi ngopi" atau yang lainnya--seakan mereka senang menjalankannya. Perkuliahan online di tengah pandemi covid-19 memang cukup efektif dalam memutus mata rantai penyebaran virus ini, yang semakin hari bertambah pula angka kasus orang positif terpapar covid-19, orang yang meninggal, dan berita baiknya bertambah pula orang yang sembuh dari virus ini. Namun apa kabar dengan keresahan? Keresahan yang dirasakan mahasiswa mengingat syarat utama dalam mengikutinya kelas online adalah tersedianya kuota internet yang cukup menguras kantong, belum lagi koneksi yang buruk kerap kali menghantui kami--tapi permasalahannya bukan pada seberapa besar usaha untuk membeli kuota internetnya, dari pihak dosen pun sama-sama mengeluarkan biaya yang tidak sedikit dan belum lagi menyita waktu untuk mempersiapkan materi, mengingat pembuatan video pun  banyak memakan waktu dan biaya--begitulah suara yang ada dari sebagian dosen, belum lagi harus ada konfirmasi dengan dosen yang kurang dan bahkan beberapa dosen ada yang tidak mengindahkan sistem kuliah online ini. Entah mau dibawa kemana pikiran kami ini yang terus menerus bisa terbilang berprasangka buruk untuk dosen. Bagaimana tidak berprasangka buruk? Dosen yang kami ketahui sebagai fasilitator bagi mahasiswanya cenderung menyepelakan. Realitanya beberapa dari mereka bahkan tidak hadir dalam kelas daring, harus ada konfirmasi secara pribadi dari komting kepada dosennya, dosen yang hanya mengandalkan absensi saja, menyimak materi yang diberikan tanpa ada ruang bagi kami untuk diskusi lanjutan materi, belum lagi ada dosen yang angkat tangan dengan alasan lebih menyukai perkuliahan luring (tatap muka). Pada awal bulan April pelaksanaan ujian tengah semester genap mau tidak mau harus menyesuaikan dengan sistem online juga. Seperti biasa soal ujian diberikan namun dalam bentuk file mau pun gambar dan mengharapkan mahasiswa mengerjakan sesuai durasi yang telah ditentukan pun kebijakan dari masing-masing dosen pengampu, dan lagi kami harus mengetik jawabannya, mengetik dan mengirimkannya melalui e-mail atau personal contact (japri) dengan dosen yang bersangkutan. Dan setelah semua ujian berakhir, kelas online pun kembali seperti biasa. Beberapa dari teman-teman mahasiswa cenderung lebih aktif dalam menyimak jalannya diskusi. Namun demikian, kesadaran akan pentingnya belajar dalam masa pandemi ini dibutuhkan kerjasama baik dosen maupun mahasiswa. Sebagai mahasiswa kita di rasa sudah cukup dewasa dalam membaca situasi, sehingga kami pun dibebaskan dalam berkreasi, memunculkan ide- ide yang luar biasa, tak tertinggal kita adalah generasi millenial dengan daya kreatifitas yang tinggi, optimis, memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk bisa setanggap dan semaksimal mungkin dalam usaha mencari ilmu ditengah pandemi ini. Misalnya saja kita bisa mengikuti kelas online di luar jam perkuliahan, kita bisa membaca literatur dari berbagai macam bentuk (word, pdf dsb) atau bahkan kita bisa membentuk kelas online dengan teman-teman kita sendiri yang bersedia dan ahli dibidangnya. Dan dari kami untuk dosen tercinta, yang kami butuhkan bukan hanya  tersedianya ruang untuk diskusi saja namun arahan dan kesiap sediaannya dalam menyampaikan materi, dan bersukarela meluangkan waktunya selama jam perkuliahan maupun ketika kami membutuhkan pemahaman lebih lanjut dari materi atau informasi yang lainnya.

Oleh: Malaya