“Tumbuh tapi belum berkembang kamu, Jon. Begitu menurutku” ucap Tity saat santap siang bersama Jony. 


"Segi sosial kultural kamu kurang," komentar Tity kepada temannya itu yang memang jarang menatap wajah orang yang dia ajak bicara. Jony memang seolah hidup di dunianya sendiri. Agak cuek. 

"Kamu memang banyak acara, banyak menjumpai orang, tapi hatimu kurasa belum konek dengan hati orang lain," lanjutnya.

Ayam goreng kampung bu Asih, pertigaan Tuwel, selalu menjadi menu pilihan favorit Jony. Lengkap dengan sambal kothok khasnya, tempe hitam, mentimun dan beberapa helai daun ceriwis segar. Jony siang itu habis berkunjung ke Puskesmas Bojong, kelaparan dan meminta Tity untuk menemaninya. Jony baru saja menyampaikan amanah kliniknya untuk membagi beasiswa kepada anak yatim berprestasi, di wilayah Puskesmas Bojong.

Di tengah pedasnya sambal terasi lombok ijo yang dia gores dari layah dengan segeluntung mentimun, sesekali dia mencoba tetap ngobrol meski terbata, terjeda tarikan napas bibirnya yang kepedasan.

“Belum berkembang gimana, Ty? Haaah, Shhhh… huuuuuh..”. Muka Jony memerah, sesekali dia seruput es teh untuk mendinginkan lidahnya. 

Jony memang lagi seneng-senengnya makan. Nafsu makannya membaik setelah 3 bulan berhenti merokok. Berat badannya juga naik 5 kilo, katanya. Membuat pipinya sedikit berisi, tidak peyot seperti saat merokok dulu.

“Ya, seperti pohon, buah dan bunganya muncul hanya pada fase kembang, kamu belum berkembang, kamu baru tumbuh, Jon” ujar Tity. 

Tity saat itu tidak ikut makan, dia baru saja makan di kliniknya. Dia hanya memesan minuman kesukaannya, es teh tawar. Tity memang sedang mengurangi konsumsi gula, takut berat badannya naik, katanya.

Jony enggan memutus nikmatnya butiran keringat yang bergulir di wajahnya dengan pembicaraannya. Dia nampak tidak fokus dengan ucapan Tity. Tity tersenyum melihat lahapnya Jony makan. Enak sekali nampaknya. Eh, nambah nasi pula si Jony. Ini mungkin yang disebut orang "enak makan dan makan enak", sempurna, habisnya banyak.

Tity adalah pemilik klinik yang letaknya tak jauh dari warung itu. Tinggal berjalan kaki sebentar saja, sudah sampai. Tity berniat mengajak Jony ke kebun di belakang kliniknya. Tity punya berbagai tanaman buah disitu.

“Nanti kita main ke kebun belakang klinik ya, banyak buah disana”.

Berselang waktu, menikmati turunnya makanan di kerongkongan perlahan ke lambung. Jony mengatur nafasnya, sengaja dia nafas menggunakan mulut nya agar sensasi aliran udara bisa meniup sisa rasa pedas terbakar di rongga mulutnya, sembari menunggu redanya suhu di wajahnya.

Selesai Jony membayar apa yang dia makan, mereka berdua beranjak meninggalkan warung menuju kebun. Sebenarnya Jony tidak hanya meminta Tity untuk menemani makan siang itu, setelah ini dia berniat melanjutkan perjalanannya ke taman baca tiga surau, milik Kamal, anak bu Umi Azizah. Ini sudah lama dia rencanakan, baru mau kelakon sekarang, mumpung ada waktu. Niatnya, mau study banding taman baca. Kebetulan Jony juga punya taman baca di Kota Tegal. Jony tidak tahu persis alamat taman baca tiga surau, katanya sih di sekitar Desa Tuwel, makanya dia mau minta ancer-ancer ke Tity.

“Wuaow, lengkap sekali!” 

Jony melongo, tak menyangka kawannya ini rajin berkebun. Lahan seluas 8 x 13 meter belakang klinik Tity itu berisi macam-macam pohon yang sebagian berbuah. Nampak banyak buah matang diantara dedaunan, bergerombol, siap untuk dipetik. Ini memang lagi musimnya, ada rambutan, dukuh, manggis, dan beberapa durian yang tidak begitu banyak. Terlihat pula disitu beberapa pohon yang belum berbuah, seperti jeruk, apel, anggur dan strawberry. Mungkin karna belum musimnya.

“Waah, enaknya punya kebun buah sendiri begini ya, bagi dunk”, Jony kegirangan. 

Tity tersenyum sambil membawa beberapa kantung kresek. “Mau yang mana, Jon?”

“Manggis sama rambutan dulu deh, Nah yang ini nih, mantap rambutannya”

“Diiiin, Safrudin! Bantuin nih, ambilin buah!”, seru Tity memanggil pesuruhnya.

“Iya, Mba”, sahut Udin bergegas keluar dari klinik untuk menyengget buah rambutan dan manggis dari pohon.

Berdiri besar di hadapan Jony, pohon rambutan yang tinggi dan lebat, buahnya banyak tak terhitung, bergelayut berat, berwarna kemerahan. Si Udin bergegas naik pohon itu mengambil beberapa buahnya menggunakan gantar. Nampak di sebelahnya, pohon rambutan yang tingginya masih sekitar 3 meteran, dengan buah yang kecil-kecil, tidak begitu banyak, didominasi warna merah kehijauan.

“Kamu liat itu Jon, ada pohon rambutan yang masih muda, ada juga yang sudah tinggi, tua. Semuanya berbuah saat musimnya tiba, dengan kemampuannya masing-masing”, nampaknya Tity mau melanjutkan pembicaraannya di warung  tadi.

“Lhaa, menurutmu Aku ini ibarat pohon yang mana, Ty? Yang besar ini? Atau yang kecil itu?”

“Kamu bukan dua-duanya, Jon. Kamu belum berbuah sama sekali, baru tumbuh”, ujar Tity.

Jony semakin penasaran, Jony menyimak. Jony merasa Tity ini -meski seusia- namun lebih banyak pengalaman dan juga karna lebih tinggi pendidikannya. Tity telah selesai menempuh pendidikan S2 Managemen dan Jony hanya S1 Kesehatan Masyarakat. Sebenarnya Jony pun giat dengan pendidikan, pengin kuliah lagi seperti Tity, hanya saja dia lagi mendanai karyawannya kuliah D3 Keperawatan di STiKes Bhamada. Mungkin pertengahan tahun 2019 ini Jony mau melanjutkan kuliah, anak buahnya selesai wisuda Agustus tahun ini.

“Emangnya.. Aku belum berkembang, gitu?”, bibir Jony menjep.

“Ya, manfaat pohon ini adalah di buahnya, dan indah dipandangnya pohon ini adalah di bunganya. Dan keduanya hanya ada pada fase berkembang, bukan fase tumbuh”, kata Tity.

Udin terlihat bergegas turun ke bawah, merosot dari dahan ke batang pohon, hingga mendarat keras kakinya. “Aduuuh mba, banyak semut!”. 

Kasihan si Udin, melawan serbuan semut di atas pohon tadi. Udin berusaha mengusir semut-semut merah dari rambutan yang dia kumpulkan. Lumayan banyak yang dia sengget. Dirambut Udin dan sebagian kaosnya nampak beberapa semut yang lalu ia sabet dengan jari tangannya.

“Apalagi, mba?” tanya Udin.

“Ambilin manggis juga, Din”, Tity memasukkan beberapa untaian buah rambutan ke kantong kresek putih, disodorkannya ke Jony. 

Jony mengambil satu biji, dicicipnya, terasa manis, aceh banget.

“Ibarat pohon tuh kamu sudah tumbuh,  Jon. Akarmu menembus ke bawah mencengkram tanah, batangmu kokoh, badanmu tegak, daunmu rindang menyejukkan. Tapi kamu seperti beringin yang tak berbuah. Kamu bukan rambutan ini, Jon”. Tity ikut menikmati buah rambutan dari kantong kresek di depan kami berdua.

“Diin!, itu di belakang kamu tuh, gede tuh, mateng!!” teriak Tity. 

Udin yang sedang memilih manggis tersadar bahwa di belakangnya banyak daun menutupi apa yang ia cari.

“Jadi, Aku  harus jadi rambutan?” Tanya Jony.

“Tidak sekedar jadi rambutan, tapi rambutan yang berkembang. Fase kembang ditandai dengan bunga dan buah. Berkembanglah agar kau berbunga sehingga enak dipandang, dan berbuah manis hingga bisa dirasakan manfaatmu oleh orang lain”, jawab Tity.

“Kedebrruukkkbruuk!!”, banyak manggis berjatuhan. 

“Hihii..” si Udin tertawa kecil. Perhatian Jony terputus sesaat.

“Bagaimana caranya berkembang, Ty?” Jony melirik Tity kembali.

“Hmmm…”, nyam, nyam, nyam. Tity menghabiskan lumatan rambutan di mulutnya.

“Jika tumbuh adalah bertambahnya jumlah sel, bertambahnya ukuran, kuantitas, maka berkembang adalah bertambah matangnya fungsi sel. PR-mu kini hanya perlu matang dalam fungsimu, peranmu”, Tity mengambil kacamata tebalnya dan mengusap embun di kacamatanya dengan ujung kaosnya, bibirnya tak berhenti mengunyah rambutan.

“Maksudmu, bersungguh-sungguh dalam peranku?”

“Ya, kualitas! bukan kuantitas. Berkualitaslah dalam peranmu. Seperti si Udin ini, meskipun dia hanya pesuruh di klinik ini. Dia berguna, manfaatnya si Udin bisa dinikmati orang lain saat dia berkualitas dalam menjalani perannya sebagai pesuruh”.

“Din, udah din! bawa sini!”, Tity memanggil.

Udin memungut beberapa manggis yang jatuh, terkumpul banyak, satu kresek penuh. Maklum manggisnya besar-besar.

“Ini, Mba”.

“Makasih ya, Din”, Tity menyerahkan  sekantong manggis itu pada Jony.

“Makasih ya, mas Udin”, timpal Jony ikut berterimakasih sama mas Udin.

“Ya, Mas”, Udin mengembalikan posisi gantar dan masuk kembali ke klinik lewat pintu belakang.

Jony tak sabar langsung meraba, memilih, mencari manggis yang agak gembur, tandanya matang. Dibukanya dan dinikmatinya. Hmm nikmatnya, manis campur kecut. Agak lengket jarinya, tapi dia tak peduli terus melahapnya.

“Meksipun pohon kecil, Jon, kalo dia berkembang ya tetap akan berbuah dan berbunga. Gak usah bingung bagaimana menuai manfaat, berikan peranmu yang sekarang ini saja dengan kualitas, itu saja tugas manusia kok, Jon”. Tity ikut mengambil dan membuka manggis ungu itu dengan kedua tangannya. Diambilnya dengan ketiga jarinya, dan hap!, mantap masuk ke mulutnya.

“Tapi jadi pohon yang tinggi besar perlu juga kan, Ty?” Jony mencuci tangannya di kran dekat dinding sebelahnya.

“Ya.. kalo mau memberi banyak manfaat, ya silahkan jadi pohon tinggi dan berbuahlah yang banyak. Tapi apa iya kamu hanya akan memberi manfaat nanti saat pohonmu sudah tinggi saja? Kenapa nggak mulai dari sekarang berbuah dan berbunga?”. Tity membungkus rapi sisa kedua buah itu dalam dua kresek berbeda. Dia mengikatnya.

“Nih, sisanya bawa pulang, Jon”, Tity menyodorkan bungkusannya.

“Sip, wah, makasih banyak, Ty. You’re best friend lahEh tau nggak taman bacanya mas Kamal, anaknya bu Umi? Tiga Surau? Aku mau main kesana”, Jony mengambil dua kresek pemberian Tity.

“Itu TBM-nya di bawahnya musholla disitu, depannya toko besi miliknya. Biasanya jam segini Kamal lagi di toko besinya. 2 kilo lah dari sini” Jawab Tity.

“Ok, makasih ya, Ty! See You! Assalamuaaikum, salam tumbuh, Ty!” Jony memberikan tangannya  untuk bersalaman, dia menyisakan senyum. 

“Waaaikum salam. Jangan lupa berkembang, Jon!!” jawab Tity membalas senyum.

“Oh, iya dink. Tumbuh kembang ya, Ty. Hahaha!!”  Jony pergi membawa 2 katong buah dan ilmu barunya tentang fase berkembang.

Oleh: Bagus Johan Maulana, SKM