Menyingkap Kuasa di Balik Fakta: Bekal Paradigmatik bagi Jurnalis Muda

Dokumentasi Kegiatan 

Suasana Aula Universitas Islam Bakti Negara (UIBN) Tegal seketika senyap saat sebuah pertanyaan mendasar dilemparkan ke tengah ruangan. Di atas podium, Khusnul Aqib, S.H., memandangi sejumlah pasang mata anggota baru Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Tanpa Titik yang duduk berjejer dengan buku catatan di pangkuan mereka.

Pria yang akrab disapa Gus Aqib itu tidak sedang mengajak mereka menghafal teori, melainkan sedang menantang cara pandang mereka terhadap realitas. Bagi Gus Aqib, jurnalisme bukan sekadar perkara adu cepat merangkai kata, melainkan sebuah kerja ideologis untuk mengelola fakta demi kepentingan publik.

Di bawah panduan moderator Reza Dwi Rifandy, jalannya Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) 2026 sore itu berubah menjadi ruang bedah pemikiran. Gus Aqib menegaskan bahwa manusia tidak pernah benar-benar bebas; mereka selalu terikat oleh kondisi sosial, entah karena desakan internal diri sendiri maupun benturan eksternal dari lingkungannya.

Untuk membaca keterikatan itulah, para jurnalis muda ini diajak mengenakan tiga "kacamata" paradigma yang berbeda. Bagi mereka yang memilih kacamata Positivistik, realitas mungkin terlihat sederhana. Paradigma ini melihat manusia dan masalah sosial secara objektif layaknya rumus pasti yang bisa diukur dan diikat oleh hukum-hukum sosial yang ajek. 

Namun, kehidupan nyata seringkali melompat keluar dari rumus matematika.

Di sinilah pendekatan Interpretatif yang digagas pemikir seperti Max Weber dan Anthony Giddens mengambil peran. Lewat cara pandang ini, jurnalis mahasiswa diajak melihat sisi personal manusia. Masyarakat tidak lagi dipandang sebagai angka statistik, melainkan sebagai individu dinamis yang bergerak berdasarkan makna dan tafsir subjektif mereka sendiri atas kehidupan.

Diskusi semakin hangat ketika Gus Aqib membawa ruangan masuk ke lapis pemikiran terdalam: Paradigma Kritis. Mengadopsi teori hegemoni milik Antonio Gramsci, ruangan aula dipaksa melihat kenyataan pahit bahwa ada relasi kuasa yang timpang yang mengontrol jalannya tatanan sosial.
Contoh konkret yang disorot bukan hal jauh, melainkan posisi perempuan yang kerap kali diletakkan dalam kondisi sosial yang tidak diuntungkan akibat dominasi kekuasaan terstruktur. Bagi pers mahasiswa, lensa kritis inilah yang menjadi senjata paling krusial untuk menguliti kebijakan kampus yang timpang dan menyuarakan hak-hak publik.

Kesadaran kritis inilah yang ingin ditanamkan sejak dini. LPM Tanpa Titik berkomitmen melahirkan kader yang tidak hanya piawai menulis draf berita, tetapi juga berani berpikir kritis dan bertanggung jawab atas setiap fenomena yang mereka potret.
Ketika sesi berakhir, para anggota baru tidak hanya pulang membawa tumpukan analisis data dan fenomena di atas kertas. Mereka pulang dengan kesiapan mental baru untuk terjun ke lapangan. Bagi pengurus, proses PJTD ini adalah bukti bahwa untuk melahirkan jurnalis yang berbobot, setiap kader harus menikmati setiap proses belajarnya—sebab jurnalisme yang sejati tidak pernah lahir dari kata-kata yang kosong, melainkan dari fakta yang dikejar dengan penuh makna.


Penulis: Aisyah Nur Fatmawati 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama