Slawi, 19 Juli 2026 – LPM Tanpa Titik menggelar diskusi santai yang mengangkat berbagai isu kehidupan, mulai dari cinta, politik, moralitas, hingga cara manusia memahami emosi dan mengambil keputusan. Kegiatan yang berlangsung di Sekretariat LPM Tanpa Titik pada Minggu (19/7) tersebut menghadirkan dulur Azam Khoeruman sebagai pemantik dan diikuti oleh anggota LPM. Diskusi berlangsung interaktif dengan memberi ruang kepada peserta untuk menyampaikan pendapat serta menanggapi pandangan satu sama lain.
Selama diskusi berlangsung, berbagai tema dibahas secara bergantian, di antaranya mengenai makna cinta, dinamika kehidupan sosial, politik, moralitas, hingga cara seseorang memandang perasaan. Pembahasan berkembang secara alami mengikuti pertanyaan dan tanggapan dari peserta sehingga tercipta suasana diskusi yang aktif dan terbuka.
Pada salah satu sesi, dulur Azam Khoeruman mengajukan pertanyaan kepada peserta, "Apa definisi perasaan?". Pertanyaan tersebut memunculkan beragam tanggapan. Sebagian peserta mendefinisikan perasaan sebagai respons emosional terhadap suatu pengalaman, sementara peserta lain memandang perasaan sebagai hasil interaksi antara emosi, pengalaman hidup, dan proses berpikir seseorang.
Diskusi kemudian berlanjut ketika dulur Azam Khoeruman menyampaikan pandangannya bahwa perempuan tidak selalu mengambil keputusan berdasarkan perasaan. Menurutnya, perempuan juga menggunakan rasionalitas dalam berpikir, meskipun proses tersebut sering kali tidak disadari. Pernyataan itu kemudian memicu diskusi yang lebih luas mengenai hubungan antara logika, emosi, dan cara seseorang mengambil keputusan.
Sejumlah peserta menyampaikan pandangan yang berbeda. Ada yang berpendapat bahwa laki-laki maupun perempuan sama-sama menggunakan logika dan perasaan dalam mengambil keputusan sehingga tidak dapat digeneralisasi berdasarkan jenis kelamin. Peserta lainnya menilai bahwa dominasi rasionalitas atau emosi dipengaruhi oleh karakter, pengalaman hidup, dan lingkungan masing-masing individu.
Melalui kegiatan ini, LPM Tanpa Titik berharap forum diskusi santai dapat menjadi ruang bertukar gagasan yang mendorong budaya berpikir kritis, menghargai perbedaan pendapat, serta membangun dialog yang sehat dalam menyikapi berbagai persoalan kehidupan.
Penulis : Afnan Salsabila
.jpeg)