Valentine, Maa Adraaka Maa Valentine?

pict by warta.dinus.ac.id

Senin, 14 Februari 2022, telah dilaksanakannya diskusi dengan mengangkat topik Valentine, Maa Adraaka Maa Valentine? Yang mana, bertepatan dengan Hari Valentine kemarin. Dan dipantik oleh dulur Lutful Hakim.

Diskusi dimulai pada pukul 19.30 – 22.00 WIB, dibuka oleh moderator. Sebelum memepersilahkan pemantik untuk menjelaskan topik, moderator menjelaskan sedikit apa itu Valentine. Menurutnya, Valentine biasa disebut sebagai hari kasih sayang. Yang dimana orang-orang akan memberikan sisi romantisnya dengan orang terkasih. Dimana momen tersebut kebanyakan orang bertukar coklat, memberikan seikat bunga, atau pun hal-hal yang berbau romantis. Lalu, sebenarnya Valentine boleh dirayakan atau tidak sih?

Moderator sendiri tidak pernah merayakan Hari Valentine tersebut dikarenakan 'katanya' tidak boleh. Namun, tidak sedikit pula muda-mudi millenial yang merayakan Hari Valentine sebagai bentuk rasa kasib sayangnya pada orang terkasih. Hmm bagaimana yaa? Yukk simak penjelasannya dibawah.

Sebelum mejelaskan lebih luas, pemantik memberi tahu arti dari topik yang diangkat, yaitu apa yang kamu ketahui mengenai Valentine? Dan mengatakan bahwa, melihat fakta yang ada, ada dua pemahaman tentang adanya Valentine sendiri. Karena, melihat dari lingkungan kita. Ada yang phobia ada juga yang membolehkan merayakannya. Atau, ada yang melarang dan ada yang memang menunggu momen ini.

Dulur-dulur LPM Tanpa Titik menganggapi dengan antusias. Banyak tanggapan dan pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta diskusi. Salah satunya pertanyaan dari dulur Malik, “Apa hubungannya Valentine dengan kasih sayang?”

Dari pertanyaan Dulur Malik, pemantik akhirnya mengajak peserta diskusi untuk mengupas sejarahnya Hari Valentine lebih dulu.

Ada beberapa versi mengenai sejarah Hari Valentine:

1.      Versi St. Valentine dan Claudius II

Kisah seorang Abdi Pendeta bernama St. Valentine yang memiliki kekasih muda namun tak dapat menjalin hubungan bersama dikarenakan adat istiadat dan kebudayan Romawi kuno yang melarangnya untuk memiliki istri dan keluarga. Karena menganggap pria lajang itu amat berarti untuk dijadikan Abdi Tentara dalam sebuah ke kaisaran romawi. Sebab itu, Pendeta tersebut tidak boleh menikah karena dikhawatirkan akan menurunkan harkat dan derajatnya seorang pria.

Namun kemudian, Valentine dipacung pada tanggal 14 Februari 278 Masehi. Dikarenakan Pendeta Valentine menentang kebijakan Kaisar Claudius II yang melarang semua bentuk pernikahan atau pertunangan yang ada pada Roma.

2.      Versi Festival Lupercalia

Festival Lupercalia adalah tradisi untuk menghormati Dewa Kesuburan pada zaman pra Romawiyang diperingati setiap tanggal 15 Februari. Lupercalia tidak terlepas dengan hal-hal yang berbau perzinaan dan tidak melambangkan kehangatan atau kasih sayang.

Dan, pada abad 17, masyarakat Britania Raya melakukan tradisi bertukar ucapan Valentine pada tanggal 14 Februari dan menggapnya sebagai hari kasih sayang. Hingga saat ini, Valentine Day’s tetap menjadi sebuah perayaan atau budaya yang banyak dilakukan oleh masyarakat berbagai negara di dunia.

Kemudian, pemantik menuturkan bahwa, dari dua versi kisah sejarahnya, semangatnya adalah mencurahkan rasa kasih sayang. Terlepas dari ekspresi yang berbeda beda.

Dulur Ilwan menanggapi pemaparan dari pemantik. “Berarti model kasih sayang apa saja yah, bercinta, ciuman, dan hal hal yang berbau sexs juga termasuk?”

“Iya, jika Berdasar kan kisah sejarah Valentine diatas. Toh tidak menafikan adanya kesamaan nilai pada lintas agama. Yakni menebar cinta dan kasih sayang kepada manusia. Yang berbeda itu proseduralnya.” jawab pemantik

Dulur Rosi juga bertanya mengenai sejarah Valentine pada versi Festival Lupercalia, “Tapi dari kisah Festival Lupercalia disebutkan tidak melambangkan kehangatan atau kasih sayang. Itu gimana mas?”

“Jika lebih detil dan ringkas di Festival Lupercalia laki-laki akan mendapatkan seorang perempuan berdasarkan undian dan setelahnya mereka akan bersama selama setahun untuk saling mengasihi bahkan ada yang sampai menikah. Namun, jika melihat konsep kesalingan. Dalam Festival Lupercalia, perempuan dirugikan lur. Karena dia ngga punya hak pilih. Seperti benda mati. Dan pada zamannya hal tersebut dianggap benar dan sudah semestinya.” jelas pemantik

Selanjutnya, pemantik bertanya kepada peserta diskusi. “Apakah semua orang muslim mengharamkan merayakan valentine?” Banyak sekali jawaban dari dulur-dulur LPM Tanpa Titik. Dan dari pertanyaan tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa ada yang melarang dan ada yang membolehkan merayakan Hari Valentine. 

Pemantik juga bertanya apa alasan melarang merayakan Valentine. Padahal sesama muslim, kok berbeda dalam menyikapinya?

Dulur Amel menanggapi pertanyaan dari pemantik, “Mungkin yaa, kalau yang melarang beranggapan bahwa Valentine itu budaya orang-orang nonis (seperti seks diluar nikah), jadi tidak boleh diikuti. Sedangkan yang ikut merayakan, mungkin hanya mengikuti trend saja sih.”

“Dilarang karena-diantaranya-momen melakukan hubungan diluar nikah yah. Sekarang pertanyaan nya, apakah selain tanggal 14 Februari atau Valentine tidak ada seks diluar nikah?” Jika jawabannya iya. Ini yang disebut pseudosains lur. Atau sains semu. Karena kenyataannya diluar tanggal tersebut juga banyak yang melakukan seks diluar nikah.” tutur pemantik

Atau bisa dikatakan seperti ini. Muslim pada umumnya ada yang pro dan kontra mengenai Valentine. Selama itu tidak memaksakan kehendak pilihannya kepada yang lain tak masalah. Biasanya yang pro karena memandang valentine hanya sebuah 'wadah'. Tergantung pada isi kegiatannya. Esensinya. Sedangkan yang kontra (melarang) itu karena seperti adanya seks bebas atau seks diluar nikah. Dan sebenarnya alasan ini juga mudah dipatahkan.

Berhubung waktu sudah malam, diskusi dicukupkan. Dan ditutup dengan salam oleh moderator.


Penulis :Amell